
Tak banyak dari kita yang menyadari bahwa apa yang kita miliki saat ini adalah yang paling berharga menurut orang lain. Takdir hidup kita adalah yang paling indah di mata orang lain. Padahal, itu semua terlihat luar biasa karena kita selalu melihat ke atas. Coba sesekali melihat ke bawah, pasti kita akan merasa sangat bersyukur, karena ternyata takdir hidup kita tak seburuk takdir dari kehidupan orang lain.
Tetapi, begitulah manusia. Kurang bersyukur dengan apa yang mereka punya. Sehingga selalu menganggap orang lainlah yang paling bahagia.
Jika kita menganggap bahwa kebahagiaan itu selalu ada pada orang lain, lalu kapan kita bahagianya?
Berhentilah memikirkan kesuksesan orang lain! Yang perlu kita lakukan adalah ... membuat kesuksesan itu menghampiri kita.
Tidak perlu dikejar! Apalagi dipaksakan. Cukup bertahan di dalam zona nyaman. Karena jika sudah tiba waktunya, ia akan datang sebagai tamu kerajaan.
^^^~Berlian~^^^
...πππ...
"Maaf, aku tidak mengerti maksudmu." Berlian mendudukkan tubuhnya pada sofa yang berhadapan dengan Pelangi. Gadis cupu itu masih belum sepenuhnya memahami.
Pelangi tersenyum ramah, lalu menambah penjelasannya, "Saya adalah sekretaris pribadinya Pak Angin, Nona. Saat ini, beliau sedang menghadiri acara peluncuran karya terbarunya. Jadi, beliau yang meminta saya untuk menjemput Nona."
Hayooo, Bingung ya?
Tenang! Lanjutkan bacaannya!
Setelah tragedi duka satu tahun yang lalu, Angin dan Berlian semakin sering bertemu. Bukan karena ingin menggantikan posisi adiknya, namun memang itulah yang seharusnya berlaku sejak awal.
Mereka adalah sahabat yang terpisah oleh ruang dan masa. Tak butuh waktu lama untuk saling terbuka. Lagi pula, Angin sudah meminta maaf atas menghilangnya ia di masa yang sudah lampau. Ia ingin semua kembali seperti sedia kala.
Berlian adalah sahabat masa kecilnya. Namun, juga cinta pertamanya. Begitu pun sebaliknya. Siapa sangka, mereka bisa kembali berjumpa.
Perkara profesi, mereka tidak pernah membahasnya. Apalagi Berlian tidak suka memanfaatkan sahabat sebagai alat untuk mencapai ketenaran.
Tidak! Berlian tidak seperti itu!
Walau bagaimana pun ia harus menjadi Penulis Terkenal karena hasil jerih payahnya. Bukanlah buah dari menjilat dan sebagainya.
Jadi, sudah jelas kalau sekarang mereka sedang dekat-dekatnya. Mencoba menjalani alur yang memang semestinya. Hingga kisah novel ini berakhir bahagia.
Baiklah!
Itu merupakan sepenggal kisah yang tidak bisa diceritakan secara rinci. Karena kali ini, kita harus fokus pada mimpi.
Mimpi yang memang membuat Berlian hampir dicap sebagai anak durhaka, karena tidak mengindahkan keinginan orang tua.
__ADS_1
Kembali kepada Pak Iwa!
Beliau masih tetap pada pendiriannya. Selama ini ia diam bukan berarti tak memantau apa yang dilakukan oleh putri semata wayangnya. Namun, ia masih ingin melihat sejauh mana Berlian berusaha.
Jika terbukti ia bisa berhasil menggapai mimpi itu. Sudah bisa dipastikan bahwa Pak Iwa adalah orang yang bahagia di sini.
Pepatah mengatakan; Selalu ada hikmah dari setiap peristiwa. Ya, memang benar, tragedi yang hampir saja merenggut nyawa putrinya, ternyata sukses membuat lelaki yang usianya telah mencapai setengah abad itu, kembali menimang dan menimbang.
Tidak ada salahnya jika Berlian ingin menjadi seperti yang dia inginkan. Toh, di kehidupan yang akan datang, dialah yang akan menjalaninya. Pak Iwa baru menyadari bahwa selama ini ia terlalu memaksakan kehendak. Memaksa Berlian untuk menyukai sesuatu yang menurutnya baik.
Padahal ia tahu bahwa Berlian juga mempunyai hak untuk memilih. Memilih untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Mulai dari profesi, hingga pasangan hidup yang sesuai dengan hati.
Mungkin sudah saatnya berhenti berdebat. Karena debat kusir itu hanya akan menimbulkan perpecahan. Dan Pak Iwa sudah menyadarinya.
Namun, ia tetap berdiri pada garisnya. Menjadi seorang ayah yang disegani dan berwibawa. Supaya Berlian tak lagi bertindak semena-mena.
Sementara Ibu Nila, ia sangat bahagia dengan kehidupan keluarganya sekarang. Hubungan di antara suami dan anaknya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Walaupun kadang masih saling diam, setidaknya tak ada lagi yang namanya keributan. Mereka kembali saling sayang.
Ditambah lagi dengan adanya Angin di sisi Berlian. Menurut Ibu Nila, putrinya mengalami banyak kemajuan. Mulai dari kebiasaan, sampai dengan penampilan.
Namun, kacamata bening itu ... Berlian tidak ingin melepaskannya. Karena itu sangat berharga baginya. Dengan begitu, ia bisa menilai, siapa yang benar-benar tulus dan siapa saja yang hanya modus.
...πππ...
Taman di tepian danau, adalah tempat yang menjadi pilihan Angin dan Berlian untuk melaksanakan momen pertunangan mereka.
Apa?
Pertunangan?
Apakah kami tidak salah baca? Batin netizen.
Begini, ruang yang terdapat di dalam hati bukanlah tempat yang disediakan untuk ajang mampir-mampiran. Karena dari awal hati keduanya telah terpaut satu sama lain. Bukan maksud ingin berkhianat pada Angkasa, tetapi memang inilah kenyataannya. Berlian tidak pernah menginginkan pria lain selain Angin Topan. Begitu pula sebaliknya.
Kesuksesan yang Angin miliki saat ini, semuanya ia gapai atas impiannya bersama Berlian. Maka, hanya Berlian'lah yang pantas untuk menikmatinya. Bukan untuk wanita murahan. Apalagi wanita panggilan. Sudah pasti juga bukan untuk kupu-kupu malam.
Sori menyori stroberi, ya, kawan!
Lanjutkan!
Berlian tiba di tempat itu sepuluh menit kemudian. Semua tamu undangan dan awak media menyambutnya dengan wajah sumringah. Tak terkecuali sang pangeran.
__ADS_1
Angin nyaris tak berkedip. Menatap Berlian dengan penuh kagum. Berlian kecil yang dahulu selalu tersenyum manis itu ternyata tumbuh menjadi wanita anggun dan cantik. Bukan karena polesan make up yang saat ini menghiasi wajahnya, akan tetapi kecantikan yang terpancar dari lubuk hatinya. Itulah definisi kecantikan yang sesungguhnya.
Oke, Berlian! Waktunya untuk unjuk kecantikan!
"Kamu luar biasa," bisik Angin di telinga Berlian, ketika gadis itu berdiri berdampingan dengannya.
Kilatan lampu flash dari kamera para pemburu berita pun tak henti-hentinya berkelap-kelip ria. Mengabadikan momen spesial seorang Penerbit terkenal seantero negeri halu kita.
"Tukang make-up-nya aja yang profesional, Ang. Aku masih tetap orang yang sama," tutur Berlian merendah.
"Tidak! Kamulah bintangnya. Tukang make-up hanya menyempurnakan, bukan mengubah." Angin kembali berbisik. "Karena pada hakikatnya, kecantikan itu berasal dari sini." Menunjuk dada Berlian tanpa menyentuhnya. "Kalau cuma modal ini, gak akan pernah bertahan lama. Karena akan hilang tertelan usia." Lalu menunjuk ke arah wajah gadis cupu itu.
Apa?
Cupu?
Apa iya setelah hari ini Berlian masih dilabeli Gadis Cupu?
Ya ... sudah barang tentu!
Tanpa berlama-lama lagi, acara penyematan cincin pun dilaksanakan. Semua orang bersorak dan bertepuk tangan dengan riang. Tak terkecuali para orang tua dan sahabat-sahabat mereka.
"Uuuh, serasi banget sih mereka. Kapan ya inyong dibikinin scene kayak begitu?" Gempita menyeka air mata bahagianya, lalu kembali bertepuk tangan.
"Makanya jangan kebanyakan halu. Jadinya baper kan pas lagi kayak gini." Awan menanggapi. Sepertinya kedua makhluk ini sudah semakin intim saja. Ditambah lagi, sekarang Berlian sudah ada yang punya. Tentu saja kesempatan itu sudah tertutup untuk siapa pun, termasuk Awan.
Ah, jangan salah paham!
Awan tidak pernah mengharapkan Berlian. Perasaannya pada gadis itu selama ini murni hanya rasa saling sayang sesama teman. Tidak lebih. Walaupun di awal cerita dibuat seperti kentara, namun nyatanya itu hanya bagian dari jebakan semata.
Aha!
Ketika euforia itu masih menyelimuti mereka, tiba-tiba saja terdengar deru mesin motor yang menarik perhatian seluruh umat di sana.
Siapa lagi kalau bukan ....
...-...
Tunggu kelanjutan cerita ini, pada episode selanjutnya!
__ADS_1
Penasaran gak?
Penasaranlah masa enggak!