Berlian & Kepala Casper

Berlian & Kepala Casper
Hantu Masa Lalu


__ADS_3

Di kediaman kedua orang tuanya, Angkasa sedang asik mendengarkan lagu slow rock favoritnya sambil ... menulis.


Ketika hatinya mulai bimbang akan sesuatu, pria tampan namun usil ini pasti akan selalu menjadikan 'menulis' sebagai jurus pengalihan.


N.O.V.E.L.T.O.O.N


Ya, Angkasa juga merupakan salah satu pengguna aplikasi paling horor yang saat ini menjadi aplikasi terpopuler sejagat dunia halu.


Sebenarnya, sudah lama ia menggeluti dunia tulis-menulis. Ada beberapa maha karyanya yang sudah diterbitkan melalui aplikasi tersebut, 'pun tanpa sepengetahuan kakaknya, Angin.


Angkasa tidak jauh berbeda dengan Angin, ia juga tidak menyukai budaya nepotisme. Maka dari itu, ia tidak ingin memanfaatkan hubungan kekerabatan atau ikatan darah sekalipun, sebagai taktik untuk mencapai tujuan.


Itu tidak adil!


Dan ... tidak kompeten!


Walaupun ia sudah mempunyai 'Nama' di aplikasi tersebut, namun tak membuatnya menjadi pribadi yang sombong. Malah orang-orang hanya mengenalnya sebagai 'Penulis Jelata' seperti yang ia katakan kepada Awan tempo hari.


Begitulah seorang Angkasa. Lebih cenderung memilih untuk dianggap tidak tahu apa-apa, ketimbang menyombongkan diri, sok pintar dan sok pemes di hadapan orang lain.


Ia sendiri bahkan tidak tahu, hal itu merupakan sebuah kekurangan atau kelebihan yang ada pada dirinya. Yang jelas, ia merasa nyaman berada di dalam zona ini. Terlihat buruk di pandangan manusia bukanlah suatu aib baginya. Namun jika sudah buruk di Mata Sang Pencipta, maka akan lari ke bumi manakah ia?


Manusia itu terlahir dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun tidak menutup kemungkinan jika Tuhan juga menyelipkan keunikan tersendiri di balik kekurangannya.


Maka dari itu, di saat kita mengenal seseorang dengan berjuta kekurangan, maka jangan pernah lupa jika diri kita pun tak luput dari kekurangan itu sendiri!


Namun, jika kita terlahir dengan berjuta kelebihan. Maka jangan pernah menganggap remeh kemampuan orang lain!


Jadi, hargailah sesama!


...πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž...


Di saat Angkasa sedang serius dengan gawainya, tiba-tiba pintu kamarnya tersibak. Menampakkan sosok sang mama yang tersenyum lebar ke arahnya ketika ia memutar rotasi lehernya.


"Mama ...," sapanya ketika menyadari sosok yang memasuki ruang pribadinya.


"Ternyata kamu belum tidur, Sayang." Ibu Bulan merangkul pundak putra bungsunya dari samping. "Novel baru lagi?" tanya beliau ketika menatap layar putih di hadapan mereka.


Angkasa tersenyum tipis, lalu menjawab singkat, "Iya."


"Tumben gak ngumpul sama teman-temanmu?"


"Lagi gak mood, Ma."


Ibu Bulan perlahan menjauh, lalu duduk di atas tempat tidur yang dibaluti oleh sprei bercorak makhluk pemakan pisang itu.


Angkasa sedikit melirik ke arah sang mama, dan menangkap ekspresi wajah tidak mengenakkan di sana. "Mama kenapa?" tanyanya ketika kembali menatap layar laptop di hadapannya.


Ibu Bulan menghela nafas panjang, lalu menghembuskannya kembali secara perlahan. "Mama hanya kepikiran tentang kakakmu saja." Pandangan Ibu Bulan menerawang ke langit-langit kamar tersebut. "Entah kapan dia akan mengakhiri status lajangnya."


Sukses!


Kalimat itu berhasil membuat Angkasa menghentikan ketikannya. Ia menghela napas kasar, lalu beranjak dan menghampiri Ibu Bulan. Kemudian melingkarkan lengan jangkungnya tepat di punggung sang mama.

__ADS_1


"Aku tidak keberatan jika kakak yang akan menikahi Berlian," tuturnya sambil tersenyum getir.


"Apa yang kamu katakan, Sayang?" Ibu Bulan membeliak tidak suka. "Tidakkah kamu memikirkan perasaan gadis itu?" Menatap kedua manik mata putranya lekat-lekat. "Dia bukanlah bola yang bisa dilempar-sambut oleh kalian seenaknya." Ibu Bulan agaknya sedikit kecewa dengan kata-kata putra bungsunya itu.


"Tapi si Cupu itu belum memutuskan jika ia mau dijodohkan denganku atau tidak, Ma." Angkasa melepaskan rengkuhannya dari sang mama, lalu kembali ke kursi kerjanya.


Ibu Bulan semakin tampak berang mendengar kalimat Angkasa. "Kenapa kamu menyebutnya Cupu sih, Nak? Dia itu gadis yang cantik, baik, dan ... satu lagi dia sangat tidak berlebihan," tuturnya tidak terima. "Gadis sederhana seperti itulah yang mama idam-idamkan sebagai menantu," lanjutnya mempertegas.


Angkasa menyabit senyuman tipis tanpa sepengetahuan sang mama. Aku juga tahu itu, Ma. Batinnya membenarkan. Tapi aku tidak ingin menyakiti kakak dengan merebut gadis yang dicintainya selama ini. Angkasa masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Sampai-sampai, ocehan mamanya yang sudah ke sekian paragraf itu pun, tak diindahkannya.


Ya, tanpa sepengetahuan Angin, Angkasa sudah mengetahui bahwa kakaknya itu mencintai sahabat kecilnya. Pantas saja ia tidak pernah melihat Angin menggandeng pasangan selama ini.


Namun betapa terkejutnya ia, ketika mengetahui bahwa sahabat kecil kakaknya itu adalah ... Berlian. Gadis yang sama dengan yang ia inginkan.


Lantas bagaimana dengan gadis itu, apakah ia juga mencintai Angin?


Ah, kalian pasti sudah mengetahui jawabannya.


Lantas bagaimana pria usil ini bisa mengetahui hal itu?


Tadi pagi, ketika Angin akan bertolak ke kantor, Angkasa meminta izin untuk meminjam ransel serbaguna milik kakaknya. Di saat ia ingin mengambil barang tersebut, tidak sengaja tangannya menyentuh sesuatu. Lalu barang itu tergeletak di lantai. Menampakkan sebuah buku diary lawas yang berisikan curahan hati seorang Angin Topan, berikut foto lamanya bersama Berlian kecil.


Sayangnya, kedua tokoh itu belum juga dipertemukan oleh Penulis Novel ini. Maksudnya, dipertemukan dalam kondisi bahwa mereka sadar akan status satu sama lain. Bahkan sampai saat ini saja, keduanya belum pernah mengetahui bentuk dan rupa masing-masing.


Sungguh menyebalkan!


"Aksa," tegur Ibu Bulan ketika putranya masih saja bergeming.


Ibu Bulan hanya bisa geleng-geleng kepala. "Tadi mama bilang, gimana menurut kamu, kalo mama jodohin kakak kamu dengan Rindu?" Ibu Bulan bertanya dengan wajah sumringah. Seperti baru saja mendapatkan jackpot.


Angkasa terperanjat hebat. "Apa?" Setengah memekik ke arah sang mama. "Kak Rindu? Mama ini ... seperti tidak ada gadis lain saja." Memutar kedua bola matanya malas. "Kak Angin itu anti sama Kak Rindu, Ma!" tegasnya. "Lagian 'kan Kak Rindu itu masih saudaraan sama kita. Gak mungkin Kak Angin mau."


Ibu Bulan mengernyit tidak mengerti. "Maksud kamu, Angin tidak menyukai Rindu?"


Angkasa mengangguk tegas tanda mengiyakan.


"Lalu ... bagaimana denganmu, apa kamu menyukai Berlian?"


JLEB


Sumpah demi apapun, Angkasa tiba-tiba tersedak ludahnya sendiri ketika diserang mendadak dengan pertanyaan yang amat sangat menohok hatinya.


"Uhuk ... uhuk ..., a-aku ... aku ...."


DEG DEG DEG


Sejurus kemudian ....


1


2


3

__ADS_1


"Wel ...."


Berhasil! Suara itu sukses menyelamatkan Angkasa dari tepian jurang yang amat sangat dalam.


"Kak ...," sapanya balik, ketika tubuh Angin memasuki kamarnya. Sehingga membuyarkan konsentrasi sang mama akan pertanyaan yang belum sempat ia jawab.


Wel adalah panggilan khas Angin untuk sang adik. Penggalan kata itu disadur dari kata BA-WEL.


Benar saja, karena Angkasa memang bawel.


Sesaat kemudian, Angin bergabung bersama sang mama dan mengecup sekilas pucuk kepala wanita yang sudah melahirkannya itu, sebelum mendudukkan tubuhnya di tempat yang sama.


"Panjang umur, Nak"


"Ulang tahunku masih lama, Ma."


"Bukan begitu, baru saja mama dan Aksa membicarakanmu. Eh, tau-tau nongol."


"Memangnya kalian tadi membahas soal apa?"


Melirik ke arah Angkasa untuk menagih jawaban. Namun adiknya itu hanya terkekeh kecil yang membuat Angin semakin penasaran.


...πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž...


"Ang ...!"


"Aang ...! Kamu dimana?" tanya Berlian kecil setengah memekik, ketika ia menyadari bahwa sekujur tubuhnya dililiti tambang besar. Seolah ia sedang disekap dalam sebuah ruangan kosong yang minim penerangan.


Seingatnya tadi ia masih bermain bersama sahabatnya itu di pinggiran rumah. Namun kenapa sekarang ia bisa berada di dalam tempat asing yang menakutkan?


Berlian kecil mulai menangis ketika ia mendengar suara tawa sekaligus tangisan seorang wanita.


Tangisannya terdengar sangat memilukan, seolah ia sedang disiksa habis-habisan. Namun di sisi lain, ia juga mendengar wanita itu tertawa cekikikan seperti suara makhluk astral berambut panjang yang hobi sekali eksis di dahan pepohonan.


Karena rasa takut yang menggerogoti jiwanya, Berlian kecil tak henti-hentinya menangis seraya terus memekik, memanggil nama sahabatnya.


Namun, itu semua hanya sia-sia saja. Tidak ada satu orang pun yang datang untuk menyelamatkannya. Hingga akhirnya, muncullah gumpalan asap putih yang terbang melesat menyelimuti tubuh Berlian tanpa celah.


Berlian terbatuk-batuk, lalu terbangun dari tidurnya dengan napas tersengal-sengal. Keringat sebesar kacang hijau membanjiri pelipis dan sekitarnya. Tubuhnya bergetar seolah masih merasakan aura mencekam di dalam ruangan itu. Hitam, pekat, lambang kematian.


Apa maksud dari mimpiku tadi? Batin gadis itu sambil memegangi dadanya. Kenapa Aang meninggalkan aku dan tidak pernah kembali? sesal Berlian di dalam hatinya.


"Dan lagi, kenapa kemarin dia tidak datang ke sini bersama ayah dan ibunya?" gumamnya pelan, lalu meraih air putih yang terdapat di dalam gelas yang bertengger ria di atas nakas.


Mungkin dia benar-benar sudah melupakanku, atau mungkin sudah mempunyai sahabat yang lain. Kicaunya di dalam sana.


Beberapa saat, Berlian nampak terdiam. Entah apa yang sedang berada di dalam pikirannya?


Apakah ini petunjuk agar aku menerima perjodohan dengan Angkasa?


Berlian terus berasumsi sendiri. Kedua matanya seolah tak ingin terpejam lagi karena terlalu terseret mimpi.


Untuk sesaat ia masih berdiam diri, kemudian beranjak menghampiri lappy dan menumpahkan semua rasa ke dalam aplikasi.

__ADS_1


__ADS_2