Berlian & Kepala Casper

Berlian & Kepala Casper
Sistem Pembodohan


__ADS_3

Berlian memekik tertahan, sedangkan Awan dan Gempita tersentak dengan wajah melongo. Keduanya hampir tak percaya dengan apa yang baru saja diucapkan oleh Angkasa.


Angkasa gila, batin Gempita.


Apa anak ini sedang bercanda? Awan pun membatin juga.


Karena merasa dalam satu mode keduanya saling melempar pandangan dan mengedikkan bahu masing-masing.


Berlian yang tidak suka dengan berita hoax yang dilontarkan oleh pria berambut sebahu itu, lantas bangkit dan merayap keluar dengan langkah tergesa.


Gempita dan Awan kembali bertukar pandang. Ada apakah gerangan? Begitulah kiranya isi kepala mereka.


Angkasa yang menyadari hal itu, lantas melompat dari posisinya dan menyusul si Tokoh Utama.


"Hei, Cupu, tunggu!" serunya sembari mengekori langkah Berlian. Namun gadis itu tak juga menggubrisnya.


"Hei ...!" serunya lagi dengan napas yang mulai tersengal-sengal karena melangkah terlalu cepat. Tapi sayang, tak juga diindahkan oleh Berlian.


Dengan langkah lebar dan menambah sedikit kecepatannya, Angkasa berhasil menggapai pundak gadis itu, yang membuat langkahnya tertahan.


Berlian yang merasakan cengkeraman kokoh mendarat sempurna di pundaknya, lantas berontak sekuat tenaga. " Lepas ...!" erangnya setengah berteriak. Namun, bukan Angkasa namanya jika mudah menyerah dengan satu gertakan.


Ia membalik tubuh Berlian, lalu tersenyum masam. Tentu saja, hal itu membuat Berlian semakin geram. "Apa maumu, Angkasa? Belum puas kamu menggangguku selama ini?" sergah Berlian setengah menangis.


"Gak sopan tau, pergi di saat orang lain sedang berbicara."


GUBRAAAK


Bukannya minta maaf!


"Memangnya selama ini kamu bersikap sopan gitu, sama aku?" cibir Berlian dengan tatapan geram.


"Hei ... jangan berteriak di depanku!" Menodongkan jari telunjuknya di depan wajah Berlian.


Tanpa menggubris ucapan pria yang menurutnya tidak waras itu, Berlian langsung melangkah pergi. Namun sayang, tangan lebar Angkasa kembali menahan lengannya.


"Angkasa, lepas!" pekiknya sekali lagi. Namun Angkasa hanya tersenyum mengejek.


"Hei ... lepasin temen inyong!" Gempita datang dengan gaya pahlawannya, dan menepis kasar tangan Angkasa dengan sekali kibas.


Angkasa terlonjak, ia kembali mendengus kesal karena kedatangan gadis yang menurutnya selalu berperan sebagai pengusik di dalam setiap misinya. "Bisa gak, kalo lu gak mencampuri urusan pribadi gua?" ucapnya penuh penekanan.


"Gak bisa, kalo kamu selalu gangguin Erli." Berkacak pinggang di antara Angkasa dan Berlian. "Nih, langkahin dulu mayat inyong!" tantangnya dengan kedua bola mata yang melotot sempurna.


Awan yang baru saja selesai membayar tagihan di kasir, juga turut menyusul Gempita. Namun ia ketinggalan informasi awal.


Berlian yang menangkap raut serius dari wajah Angkasa, lantas meminta Gempita untuk menunggunya di mobil. Awalnya Gempita menolak, namun sejurus kemudian, ia menyetujui.


"Kalo Kutu Kupret ini nyakitin kamu lagi, cepat panggil inyong ya," ujarnya kepada Berlian sebelum ia berlalu dari sana.


Awan yang masih bingung, hanya bisa bungkam dan mengekori Gempita menuju mobilnya.


"Mereka kenapa, Gem?" tanyanya ketika mereka sudah sampai di parkiran.


"Inyong juga bingung, itu tadi si Angkasa ngelantur pasti. Gak mungkin si Erli mau tunangan sama cowok kayak begitu, Bang." Gadis Ngapak itu terus saja meluapkan kekesalannya.


Awan terdiam sejenak, lalu kembali bertanya, "Maksud kamu, kayak begitu gimana?" Awan menyernyitkan keningnya dalam.

__ADS_1


"Hehe, gak papa, Bang. Gak penting juga." Gempita merasa tidak enak jika harus membuka aib Angkasa di depan pria tampan di depannya itu. Ia berpikir, bisa hancur reputasinya di mata Awan. Ia tidak mau jika Awan sampai mengecapnya sebagai Kang Rumpi.


Awan yang merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh Gempita, lantas mengganti pertanyaannya. "Memangnya kalian sudah lama kenal Angkasa?"


Gempita menghela napasnya sejenak. "Dia itu temen sekelas kita waktu masih kuliah, Bang. Tapi ...." Kalimat Gempita tiba-tiba terpotong.


Awan yang masih saja penasaran, lantas menatap wajah gadis itu yang ternyata malah termenung ke arahnya.


"Gem ... Gempita ...," sapanya dengan sebelah tangan bergoyang-goyang di depan wajah gadis yang baru saja terpesona akan ketampanannya itu.


Gempita lantas tersentak dan memasang wajah cengengesan. "Hehe, maaf, Bang. Inyong khilaf."


Awan sontak memutar kedua bola matanya malas, lalu geleng-geleng kepala menanggapi sikap barbar Gempita yang tidak pernah turun level setiap berada di dekatnya.


...πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž...


Angin tengah duduk di sebuah kursi tinggi yang bersanding dengan meja sebuah bar mini. Kemeja denim biru tua dengan lengan dilinting setengah bahu, dipadu dengan celana jeans berwarna hitam, tampak sangat sepadan dengan tubuh dan wajah paripurnanya. Ditambah lagi, sepatu boot rendah yang membungkus kaki lebarnya, menambah kesan macho untuk penampilannya malam ini.


Tampak sekali dari wajahnya yang celingukan, sepertinya ia sedang menantikan kedatangan seseorang.


Musik beat box mengalun memenuhi ruangan remang-remang itu.


Beberapa menit kemudian


"Kak ...."


Suara yang familiar itu masih bisa ia tangkap teriring tepukan gagah di pundaknya.


"Kamu telat lagi." Melirik arlogi mewah yang melingkar posesif di lengannya.


"Ya ampun, Kak, dalam kondisi santai pun kakak masih mempermasalahkan tentang waktu?" Angkasa memutar kedua bola matanya malas.


Mereka berdua memang acap kali menghabiskan waktu berdua di sebuah bar, jika sedang melaksanakan perayaan kecil-kecilan. Hanya berdua saja. Begitulah kakak beradik ini, saling mendukung dan menguatkan satu sama lain. Tak terkecuali saat ini.


Namun, poin baiknya adalah mereka selalu menghindari minuman-minuman yang mengandung alkohol. Oleh karena itu, Angin cenderung memilih mocktail. Selain memiliki cita rasa yang manis, mocktail juga lebih menyegarkan ketimbang cocktail, sehingga aman bagi kesehatan.


"Cheers!" seru Angin seraya melayangkan gelasnya. Angkasa yang masih belum mengerti, justru hanya menatap sang kakak dengan sejuta pertanyaan.


"Bingung ya?" tanya Angin yang sudah mendaratkan kembali gelasnya ke atas meja. Angkasa hanya mengangguk tanda tidak adanya penyanggahan.


"Untuk Penulis Jelata yang sedang naik daun," bisik Angin di telinga adiknya.


Angkasa terlonjak sesaat, lalu tersenyum tidak enak. "Kakak ... selalu aja selangkah lebih cepat." Menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal, lalu melayangkan gelasnya. "Cheers!" serunya, melanjutkan adegan yang sempat terpotong tadi. Angin tersenyum tipis, lalu melakukan hal yang sama.


Setelah menenggak minuman mereka hingga tandas, keduanya tampak tertawa renyah sembari mengobrol. "Jangan pernah merahasiakan apa pun dari kakak. Karena serapi apa pun kamu menyembunyikannya, kakak pasti akan mengetahuinya."


DEG


Kalimat Angin benar-benar menohok telak ulu hati Angkasa. Benar saja, ada satu rahasia lagi yang belum kakaknya ketahui, yaitu ... rahasia hatinya sendiri.


Untuk sesaat Angkasa merasa rongga pernapasannya sedikit terhimpit. Dadanya pun tiba-tiba terasa sesak, ketika mengingat tulisan yang terangkai indah di dalam diary lawas milik sang kakak. Rentetan kalimat mujarab dan ajaib yang sudah pasti ditujukan untuk gadis yang bernama ... Berlian.


...πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž...


Berlian masih ternganga. Pasalnya ketujuh Kepala Casper itu telah memberitahunya bahwa untuk pertama kali karyanya memasuki ranking vote.


Apa? Rangking vote? Apakah itu?

__ADS_1


Pastinya kalian sudah tidak asing lagi dengan istilah yang satu itu. Rangking vote adalah sistem pe-ranking-an yang dilakukan oleh N.O.V.E.L.T.O.O.N setiap minggunya, berdasarkan jumlah vote yang diterima oleh sebuah karya.


Lantas, apakah ada pengaruhnya dengan popularitas atau level penulisnya?


Jawabannya ... tidak sama sekali. Lantas apa fungsinya dari semua itu, jika tidak ada adanya bentuk apresiasi sama sekali dari pihak N.O.V.E.L.T.O.O.N pada Penulis yang bersangkutan?


Sistem ini ... ah, entahlah!


Lalu, bagaimana dengan jumlah like? Komentar? Bahkan jumlah followers? Apa ada pengaruhnya?


Jawabannya ... ada, tapi tidak significant! Bahasa sederhananya adalah ... hanya seupil.


Apakah kalian sudah tahu, poin penting yang harus diperhatikan dan sangat mempengaruhi level seorang Penulis di aplikasi paling horor ini?


Baiklah, jawabannya begitu sederhana. Kalian cukup menciptakan karya yang sangat panjang. Itu saja!


Tidak perlu memperhatikan aturan penulisan. Tidak perlu mencantumkan ide yang briliant. Tidak perlu bersusah payah memperbaiki typo dan penyakit sejenisnya.


Cukup dengan memperbanyak jumlah kata dan memperpanjang episode.


Ah, tidak habis pikir!


Sistem yang seperti ini sebenarnya bisa membunuh semangat para penulis yang berkarya susah payah dengan sepenuh hati. Bahkan karyanya yang berjumlah lebih dari lima sekalipun, masih saja tidak mendapatkan apresiasi yang semestinya.


Kalian tahu masalahnya dimana? Hanya karena minim episode.


Omong Kosong!


Tapi sayangnya, sistem yang seperti ini, juga tidak akan bisa mempengaruhi prinsip seorang penulis yang menjunjung tinggi harga diri dan nilai sebuah karya. Ia tidak akan putus asa dan tetap semangat dalam menciptakan karya dengan penuh manfaat.


Tidak masalah, tidak mendapatkan apresiasi dari sistem. Yang terpenting adalah karyanya mempunyai tempat yang khusus di hati para pembaca.


...SEMOGA SAJA SISTEM INI LEKAS CERDAS!...


...-...


...-...


...πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž...


"Berlian ...!" seru Kepala Keparat menyadarkan gadis itu dari lamunannya.


"I-iya ...," responnya dengan mata mengerjap.


"Udahlah, gak baik juga kalo diratapin. Ntar juga sistemnya bagus sendiri." Kepala Keparat mencoba memberikan penguatan.


Berlian tersenyum penuh syukur dan menganggukkan kepalanya, tanda menyetujui. Ia langsung bergegas keluar untuk menemui Gempita kembali. Namun sayang, gadis itu sudah tidak ada lagi di sana.


Beberapa saat kemudian, sayup-sayup terdengar suara berisik dari balik lemari pakaiannya. Berlian mengerjap dan memasang pendengarannya lebih tajam lagi.


Tidak salah lagi! Suara itu memang berasal dari dalam lemari pakaian. Dengan langkah perlahan dan ragu, Berlian mendekati lemari itu dengan menggenggam sebuah pemukul yang memang tersedia di pojokan kamar.


Dengan tangan bergetar, Berlian meraih handle pintu lemari itu, lalu membukanya secara perlahan.


KRIEEET


Ketika pintu lemari itu tersibak, kedua mata dan mulut Berlian pun membulat serentak.

__ADS_1


Dan ternyata ....


__ADS_2