
TAP
TAP
TAP
Langkah Awan terhenti, ketika tubuhnya berdiri tepat di depan sebuah ruangan, yang daun pintunya tampak sedikit terbuka.
Tok ... tok ... tok ...
Mengetuk pintu terlebih dahulu, sebelum akhirnya masuk untuk memenuhi panggilan Si Penguasa ruangan.
"Dari mana saja kamu?" Mendongak sekilas ke arah Awan, lalu kembali merunduk fokus pada gawainya yang masih belum tuntas. "Pelangi bilang, kamu tidak ada di ruanganmu tadi." Masih terus mengoret-oretkan tinta bolpoin pada beberapa dokumen yang harus ia tanda tangani.
"Aku tadi bertemu teman sebentar, di kafe depan," jawab Awan seraya mendudukkan tubuhnya di atas kursi, tepat di hadapan pria itu.
"Teman atau pacar?" kelakar pria itu sembari menyabit senyuman tipis di kedua sudut bibirnya. Awan tampak sedikit salah tingkah karena pertanyaan itu.
"Sahabat kecilku," respon Awan sekenanya. Namun di dalam hatinya berkata lain.
Sayangnya, pria yang berada di hadapannya itu tak lagi menggubris jawabannya. Awan menggeleng pelan seraya bersungut kesal. "Jadi, ada hal penting apa sehingga kamu memanggilku? Aku tidak yakin, kalo kamu hanya membutuhkan jasaku untuk mengikatkan tali sepatumu."
Kalimat terakhir Awan sukses membuat lelaki itu tergelak hebat.
"Hahaha ... sekarang aku sudah bisa melakukannya sendiri tau," tuturnya membela diri.
"Terakhir kulihat ... Pelangi masih melakukannya untukmu," ejek Awan seraya menyematkan smirk khas pada bibirnya.
"Itu karena aku sedikit sibuk." Masih saja berkilah, tak mau kalah. Membuat Awan tersenyum masam.
Ya, begitulah seorang Angin Topan. Tidak akan mau kalah, walaupun berada di pihak yang salah. Ia akan terus saja mencari alasan untuk menang walaupun rekam jejaknya amat kentara di mata orang lain.
Sungguh sangat menyebalkan bukan?
Kayak kamu ... iya kamu!
Yang suka nyebar komentar spam tapi tetap aja gak terima dibilang Kang Spam.
JLEB
Baiklah, kembali ke Awan!
"Berdebat denganmu itu sama saja seperti berdebat dengan bocil tau," celetuk Awan seraya menggeleng pasrah.
"Hahaha ... secepat itukah kamu menyerah?" Angin mengakhiri gawainya, lalu fokus menatap Awan.
"Aku bukan tipe orang yang mudah menyerah, Aang. Dan kamu tau itu. Aku hanya berusaha untuk mengalah. Bisa-bisa kamu akan menangis jika aku terus berjuang." Awan berkata sembari bertopang dagu. Kedua sikunya bertumpu pada meja kaca berwarna hitam milik Angin.
(Aang adalah panggilan khas Awan untuk Angin)
"Wow ... super sekali." Angin beranjak dari peraduannya, seraya bertepuk tangan, mengitari mejanya. "Pemikiran yang sangat bijak, Tuan Awan." Angin tersenyum remeh. "Tapi kenapa naskah novel minim kualitas seperti ini bisa sampai ke tanganku?"
Angin menyodorkan satu eksemplar naskah novel yang telah ia baca. Membuat Awan menyipitkan kedua matanya tidak percaya. Secepat mungkin ia menerima naskah itu dan membaca halaman depannya.
"Cahaya Rindu ...." Awan tampak berpikir sejenak. "Bukankah dia salah satu penulis yang karyanya selalu menempati rangking teratas di aplikasi N.O.V.E.L.T.O.O.N?" Tutur Awan sambil menatap ke arah Angin.
"Ranking apa?" Angin mengerutkan keningnya penasaran.
"Vote mingguan," respon Awan secepat kilat, membuat Angin menghela nafas kasar.
"Apakah dengan memenangkan rangking vote bisa menjamin karya seseorang memiliki kualitas yang tinggi?" Awan tercekat. Pertanyaan Angin benar-benar menohok hingga ke ulu hatinya.
Sahabat Berlian Sighania itu tampak menimang dan mempertimbangkan pendapat Angin.
"Kenapa tidak dijawab?" Angin tersenyum menang, karena Awan tak lagi berkutik.
"Bukankah memang benar seperti itu? Sangat tidak bijak jika kita dengan mudahnya memberi label terbaik pada sebuah karya, yang hanya dimenangkan oleh sistem angka, tanpa harus memperhatikan ide dan cara penulisannya terlebih dahulu. It's not fair!"
Awan semakin merasa terpental jauh oleh tendangan kalimat yang diucapkan oleh Angin.
__ADS_1
Sebagai seorang penerbit yang profesional, Angin tidak ingin asal-asalan menerbitkan sebuah karya. Ia sangat menjunjung tinggi kualitas sebuah tulisan dengan memperhatikan beberapa komponen penting yang terkandung di dalamnya.
Baik itu tentang pemilihan tema (ide) yang diangkat, memiliki nilai moral dan pendidikan atau tidak? Atau hanya mengedepankan tema cabul yang bisa merusak akhlak para pembaca? Mengikis moral dan rasa malu yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang yang hidup dengan budaya timur, seperti di negara ini.
Selain itu, penggunaan kosa katanya tepat atau tidak? Menyesuaikan dengan genre atau malah melenceng jauh? Atau bahkan tidak terdaftar sama sekali di dalam KBBI?
Terlebih lagi, penulisan narasinya terasa menyegarkan saat dibaca atau malah terkesan bertele-tele dan mubazir kata? Apalagi, jika penulisannya amburadul tidak sesuai dengan PUEBI yang telah ditetapkan sesuai aturan.
Jika karya seperti itu jatuh ke tangannya, maka Angin tidak akan pernah tertarik, apalagi berselera untuk menerbitkannya.
Kritis sekali bukan?
Tapi, begitulah seorang Angin. Dibalik beberapa sifat menyebalkan yang dimilikinya, ia akan selalu bersikap profesional jika menyangkut tentang pekerjaan.
"Tapi, Ang, bukankah Cahaya Rindu itu, adik sepupumu, ya?" Sepertinya Awan masih belum puas menguji kinerja Direktur Utama PT. Maha Karya itu.
"Kalo memang iya, kenapa?" Angin mendelik tidak suka sembari melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku bukanlah tipe penerbit yang menganut sistem kekerabatan di dalam lingkungan kerja, camkan itu!" Tandasnya menegaskan.
Awan tersenyum bangga, lalu bertepuk tangan. "Wah ... wah ... wah ... super sekali, Tuan Direktur Utama." Awan berdiri tepat di hadapan atasan sekaligus sahabatnya itu. "Ternyata seorang Angin Topan telah berubah menjadi Angin P-u-t-i-n-g Beliung yang siap untuk meluluh-lantahkan dunia persilatan," kelakar Awan, sehingga membuat Angin tersenyum tipis seraya menonjok sebelah pundak Wakil Direktur Utama di perusahaannya itu.
...πππ...
"Itu punyaku, Gem," kesal Berlian sembari berusaha merebut kemasan keripik kentang berbentuk tabung berwarna merah, yang sedang dipangku oleh Gempita.
"Bagi inyong napa, Er. Tumben kamu pelit." Gempita terkekeh kecil dengan terus menjejalkan satu persatu keripik kentang itu ke dalam mulutnya.
"Ah, payah." Berlian masih belum merelakan. Ia tampak memonyongkan bibirnya ke depan.
"Udaaah, fokus aja sama N.O.V.E.L.T.O.O.N mu itu, Sayang." Gempita terkekeh tidak peduli.
Mau tidak mau Berlian kembali fokus pada layar berukuran dua belas inci itu, melanjutkan pengecekannya pada laman novel baru yang belum lama ini dirilis pada akun pribadinya.
Namun setelah melalui masa loading, betapa terkejutnya ia, ketika melihat banyaknya komentar yang tertera pada laman Prolog di dalam novelnya.
"Aaaa ...," pekik Berlian tampak kegirangan. Tentu saja, tingkah sahabatnya itu, membuat Gempita terperanjat dan spontan melepas kemasan kripik kentang itu sehingga membuat isinya berhamburan ke lantai.
"Yaaah, jatoh kan ... kamu kenapa sih, Er?" Gempita berdecak kesal. "Pake teriak-teriak lagi, untung yang jatoh cuma cemilan, kalo hati inyong gimana?" Gadis Ngapak itu berlakon seolah merasa paling dirugikan di sini.
Kayak kamu ... iya kamu!
Yang terus aja ngirim komentar spam walaupun karyanya udah dibaca dengan tulus.
GUBRAAAK
Berlian sontak membekap mulutnya seraya terkekeh kecil. "Iya, maaf, maaf," tutur gadis cupu itu merasa menyesal. "Tapi kalo hati kamu yang jatoh ke lantai, ya tinggal dimakamkan aja ke TPU terdekat." Berlian tergelak seraya mendongakkan kepalanya.
"Yaaah, tega amat kamu, Er. Hati inyong kan belum ada yang memiliki, masa' udah mau dimakamkan sebelum lepas masa lajangnya." Gempita berpura-pura memasang wajah memelas.
"Tumben baper?" Menatap Gempita penuh tanda tanya. "Biasanya juga keker," ejek Berlian sekali lagi.
"Inyong gak baper, Er. Cuman ... inyong laper ... hehehe ...," kelakar Gempita sambil terkekeh kecil.
"Ya, udah, mending sini deh." Gempita menuruti instruksi Berlian.
Layar lappy berlian menampilkan laman prolog yang tadi sempat membuatnya histeris kegirangan. Ia tidak menyangka bahwa novel pertamanya, telah mendapatkan respon positif dari para pembaca. Pada icon berbentuk lonjong horizontal dengan ekor pendek di bawahnya itu, tertulis sekitar lebih dari seratus komentar yang tercantum di sana.
"Ini nih yang bikin aku teriak tadi. Seneng banget kan, Gem." Berlian tersenyum lebar. "Hem gak papalah ... walaupun novelku yang kemarin ditolak lagi oleh penerbit, tapi di aplikasi ini, karyaku disambut dengan baik oleh banyak orang." Berlian bersorak penuh semangat. Membuat Gempita memicingkan kedua matanya seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Tunggu dulu," sela Gempita, "Jangan senang dulu, Er." Gempita mengangkat sebelah telapak tangannya.
"Jangan-jangan yang berjumlah lebih dari seratus itu ... cuma berisi komentar PHP." Gempita tampak serius dengan ucapannya, sama sekali tidak ada mimik gurauan yang kentara di wajah bulatnya.
"Maksudnya? PHP gimana, Gem?" Berlian menghentikan aksinya yang mungkin akan membuatnya menyesal setelah ini.
"Ya ... biasalah. Para Kang Spam kan banyak banget, Er. Bahkan mereka berkeliaran dengan bebasnya seantero N.O.V.E.L.T.O.O.N," sarkas Gempita, membuat Berlian memicingkan sebelah matanya tidak mengerti.
Gempita memang lebih dulu mengenal aplikasi paling horor itu. Ia juga telah mempublikasikan beberapa karyanya di sana. Sementara Berlian, gadis cupu itu bagaikan anak ayam yang baru saja menetas dari cangkangnya. Baru pertama kali menggunakan aplikasi tersebut sebagai wadah untuk menumpahkan semua ide cemerlangnya. Jadi, wajar saja, jika ia belum memahami dengan baik, seluk beluk dan permainan para penulis yang bergabung di dalam aplikasi paling horor sejagat raya itu.
"Aku gak ngerti deh, kamu ngomong apa," tutur Berlian dengan polosnya.
__ADS_1
Namun Gempita bisa memaklumi semua itu. Ia mendekati Berlian dan merangkul pundaknya dari samping. "Coba deh, kamu buka dan baca isi komentar dari mereka!" Menaik-naikkan alisnya sembari menatap Berlian dengan senyuman yang tidak bisa diartikan.
Berlian tampak kebingungan, namun dia tetap melakukan instruksi dari sahabatnya itu.
Dan ...
"Ya ampun ...." Berlian menangkupkan kedua tangan di depan mulutnya tidak habis pikir. Sementara Gempita telah tertawa terbahak-bahak setelah berhasil membuktikan ucapannya.
"Nah ... bener kan, inyong bilang apa? Jangan senang dulu, Er." Gempita kembali tergelak dengan bebasnya.
Seandainya ada raket nyamuk di sana, ingin sekali rasanya Berlian mendaratkan pukulan telak ke arah mulut lebar Gempita yang saat ini tengah berbahagia di atas kekecewaannya.
"Bukannya prihatin, malah bahagia," gerutu Berlian sembari memberengut tidak suka.
Benar saja! Komentar yang berjumlah ratusan itu didominasi oleh komentar PHP dari para penulis yang telah salah kaprah dalam mengartikan makna promosi.
Tampak di layar, berjejer komentar spam yang tiba-tiba sangat meresahkan hati Berlian.
"Jangan sedih, Er ...." Gempita tiba-tiba memeluk tubuh jenjang Berlian dari samping.
"Terus aku harus gimana menanggapinya, Gem? Aku benar-benar sedih, ternyata gak ada yang benar-benar tulus membaca karyaku." Berlian merunduk putus asa.
Gempita tampak berpikir sejenak, dan berkata, "Ahaaa, inyong punya ide." Gempita membisikkan sesuatu ke telinga Berlian.
"Kenapa harus berbisik sih? Bukannya cuma ada aku dan kamu di sini?" Berlian tidak habis pikir dengan tingkah aneh dari gadis Ngapak itu.
"Takut kedengaran Setan Aplikasi," tutur Gempita setengah berbisik.
Setelah mendengar kalimat terakhir Gempita, memori Berlian seakan mengingat sesuatu yang paling utama dari kemunculan Setan Aplikasi yang dimaksud oleh Gempita.
"Ya, udah, kalo gitu, kamu pulang sekarang ya, Gem." Berlian bangkit dari kursinya, lalu mengambil ransel Gempita yang tergeletak di atas tempat tidur dan mendorong tubuh gadis Ngapak itu hingga melewati mulut pintu.
"Tunggu, tunggu, kamu ngusir inyong nih?" Gempita melongo tidak percaya. Sementara Berlian hanya mengerlingkan kedua matanya, lalu melambaikan tangan sebagai salam perpisahan.
Tanpa menggubris pertanyaan Gempita, Berlian lantas menutup pintu kamarnya dan berjalan menuju meja belajar.
"Huuh ... semoga aja berhasil." Berlian kembali duduk di atas kursi, lalu menatap layar lappy itu dengan penuh harap.
"Ayolah, Kepala Casper ... muncullah, tolong." ujar Berlian sembari menggenggam kedua tangannya menjadi satu. Kedua kakinya tampak dihentak-hentakkan ke lantai sehingga membuat irama senada yang menjadi musik latar dalam momen permohonannya.
Beberapa menit kemudian
Tampaklah asap putih menggumpal dari balik layar lappy-nya yang membuat Berlian tersenyum lebar.
Sepertinya Berlian sudah bisa menerima takdirnya, yang sudah lama ditetapkan, bahkan jauh sebelum novel ini dipublikasikan.
"Ka-kalian ...." Berlian lantas menutup wajah dengan kedua telapak tangannya setelah melihat penampakan makhluk gaje yang timbul dari gumpalan asap putih tadi.
"Ke-kenapa tidak memakai penutup aurat?" Protesnya seakan tidak suka jika para Setan Aplikasi itu menampakkan auratnya.
"Eh, salah. Rekam ulang, hihihihihi ...." tutur Kepala Kentang.
"Elaaah, elu pikir kita lagi syuteng, Mpok." Kepala Kunti menimpali.
"Ya, kali syuting di sini, Chat Story Singa.co aja gak update-update, iyuuuh," tutur Kepala Syantik sambil mengibaskan kipas bambu yang selalu menemaninya kemana-mana.
"Iyak, terakhir update sebulan yang lalu, sepi kali, Gengs ...," sambar Kepala Vampire dengan kacamata hitamnya yang tidak pernah ketinggalan.
"Gimana mau rame coba? Kontennya aja cuma berisi curhatan pribadi doang." Kepala Keparat angkat bicara.
"Kora ...," sapa Kepala Koneng. "Yang penting tetap bikin para pembaca happy dong, ngahahahaha."
"Kenapa jadi bahas CS Singa.co sih?" Kepala terakhir bersungut kesal. "Gua kan gak terlibat di dalamnya. Jadi, gak ada modal buat nimbrung, hahaha ...," lanjutnya, membuat percakapan mereka semakin receh.
"Ehem ... ehem ...." Suara itu sukses membuat mereka bungkam dan mengarahkan pandangan serentak pada satu arah.
Saking asyiknya berkocak ria, mereka hampir melupakan gadis cupu yang sedari tadi masih menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Kemudian ....
__ADS_1
WUUUSH
Tampaklah jubah hitam pekat, membalut tubuh semampai para Hantu Cebol itu. Persis seperti yang tampak di dalam mimpi Berlian sebelumnya.