Berlian & Kepala Casper

Berlian & Kepala Casper
Nepotisme


__ADS_3

Novi baru saja tiba di kantornya ketika mobil Berlian meninggalkan lahan parkiran. Bahkan ia tak sempat memandang batang hidung gadis yang berperan sebagai tokoh utama di dalam novelnya itu.


Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, ia selalu berangkat ke kantor dengan Magisna. Namun, hari ini, tampak Mr. Potato dan Fafa mengekorinya dari belakang, setelah mereka keluar dari mobil masing-masing.


"Si Magisna tumben gak bareng elu, Nov?" Mr. Potato mengernyitkan dahinya ketika tak menemukan sosok Magisna di samping Novi. Karena sepengetahuannya, dimana ada Novi di situlah ada Magisna.


Novi masih fokus dengan langkahnya ketika menjawab, "Udah berangkat duluan bareng Angkasa."


Mr. Potato hanya membentuk mulutnya seperti huruf O, sementara Fafa nampak sedikit cemberut seolah tidak suka dengan hal itu.


"Elu kenapa, Beb?" Potato Bertanya pada Fafa dengan kedua mata terpicing sempurna. Seingatnya gadis itu baik-baik saja sewaktu di dalam mobil tadi.


Gue masih gak rela dengan kenyataan ini, kenapa harus sama Magisna, sih? Batin Fafa seolah menangisi kebersamaan yang terjalin antara Magisna dan Angkasa akhir-akhir ini. Ternyata personel Penulis Singa.co yang satu ini diam-diam juga mengidolakan sosok si tokoh usil tersebut.


"Beb?" Sekali lagi Potato bertanya pada gadisnya itu ketika mereka hampir memasuki lift.


Apa gadisnya?


Iya, Fafa adalah kekasih Mr. Potato!


Ada yang berpikiran bahwa Mr. Potato itu seorang wanita?


Maaf, kalian salah!


Aslinya beliau itu memang berjenis kelamin perempuan. Namun, berhubung nama avatarnya mengandung aroma pria tulen, jadi sudah sepatutnya ia berperan sebagai tokoh laki-laki di sini.


Fafa terkesiap ketika menyadari tepukan hangat mendarat di pundaknya. "Eh, maaf, Beb," tuturnya dengan wajah merunduk.


"Kami sakit?"


"Enggak!"


"Terus?"


"Aku lapar!"


GUBRAAAK


Setelah berpencar dan memasuki ruangan masing-masing, Novi langsung menangkap tumpukan naskah yang baru diletakkan oleh Anak Setan di atas mejanya sebelum ia tiba.


"Kerja bagus, Setan Kesayangan," ujarnya seolah sedang berkomunikasi dengan resepsionis mudanya itu, padahal ia sedang sendirian.


Tok ... Tok ... Tok


"Masuk!" seru Novi ketika tubuhnya telah sempurna duduk di atas kursi.

__ADS_1


Setelah pintu disibak, tampaklah Kozume Kenma yang diekori oleh Seul Ye, kekasih hatinya. Mereka berdua tampak semakin lengket saja.


"Ada apa, Tong?" Novi langsung menyapanya dengan pertanyaan.


Bukan Tongkang ya!


Apalagi Tongseng!


Tapi maksudnya di sini adalah ... Entong!


"Gua mau pulang, Nov. Bagi kunci dong?!" pintanya setengah memaksa.


Novi spontan mendelik ke arah pemuda berwajah oriental itu. "Atasan baru dateng, elunya mau pulang, enak aja!" cibir Novi setengah menghardik.


Kenma tersenyum nakal, lalu mendekati Novi, kemudian berbisik, "Elu mau gua bikinin ponakan gak?"


Mendengar hal itu, Novi lantas membulatkan kedua matanya dan menjauhkan wajahnya dari Kenma. "Gila lu yak, nikah dulu baru kawin, Woooy!" pekik Novi yang mulai naik pitam. Tidak habis pikir dengan yang diucapkan oleh personel tertampan dalam daftar nama Penulis Singa.co itu.


Eiiits ...!


Dari ruang sebelah, Senja seolah sedang melirik sinis ke arah Novi. Kalimat gadis itu ternyata berhasil menembus tembok pembatas yang memisahkan ruangannya dengan ruangan bersama.


Elu kira gue banci, Nov?! Begitulah kiranya maksud dari tatapan itu.


Di kantor ini, ada sebuah ruangan khusus yang dibuat untuk mereka berkumpul bersama di saat jam istirahat kantor.


Tanpa menggubris tatapan Senja yang seolah sampai ke pelupuk matanya, Novi lantas memberikan kunci markas alias base camp Penulis Singa.co yang berbentuk seperti kartu ATM itu kepada Kenma tanpa merasa keberatan.


Seul Ye sontak tersenyum mengembang ketika melihat hal itu. Sementara Kenma, merangkul tubuh gadis itu dari samping lalu melenggang dari sana.


Palingan juga gak bakalan bisa masuk. Batin Novi, sebelum bayang-bayang dua sahabatnya itu menghilang ditelan daun pintu ruangan.


...πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž...


"Kenapa novelmu bisa ada sama Zoya?" Angin mulai berang. Agaknya ia merasa kecewa karena Berlian tak mengindahkan penawarannya.


Sebelumnya Angin telah meminta tunangannya itu untuk mengajukan ulang naskah novelnya yang pernah ia tolak. Jika tidak mau langsung pada Angin, makan bisa melalui jalur umum, seperti yang dilakukan oleh orang lain. Namun, Berlian tidak ingin adanya sistem 'Orang Dalam' di dalam pencapaian impiannya.


Padahal seperti yang sering dilakukan oleh kebanyakan orang di dalam aplikasi ini, Berlian bisa saja memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai 'Aji Mumpung'. Menggapai ketenaran dalam waktu singkat dengan menyeret sebuah hubungan dekat sebagai pegangan.


Nepotisme!


Ya, apalagi. Penyakit yang satu ini sangat sulit untuk dihindari. Bahkan dalam kehidupan sehari-hari.


Nepotisme adalah perbuatan tidak terpuji, yang dimana lebih mementingkan hubungan kekerabatan atau kedekatan untuk menempati posisi tertentu, dalam hal ini adalah pekerjaan; jabatan, pangkat, dan lain sebagainya.

__ADS_1


Nepotisme sering dikaitkan dengan istilah dalam perekrutan aparatur negara. Padahal tidak hanya berhenti sampai di situ saja. Dalam bidang pekerjaan atau profesi lainnya, nepotisme juga tidak bisa dihindari. Malah semakin menjadi-jadi.


Di aplikasi paling horor ini misalnya. Penulis senior yang profesional dan sudah terkenal semakin difasilitasi. Sedangkan Penulis junior dan tergolong pemula hanya bisa pasrah dan berusaha sendiri sambil tertatih-tatih hanya untuk mencapai titik awal.


Jika sistem seperti ini terus dikukuhkan, apa yang akan terjadi selanjutnya? Mungkin bisa saja Penulis Senior tidak perlu menulis sebuah karya, cukup angkat kaki dan melipat kedua tangannya di depan dada, sudah bisa mengantarkannya pada kursi ternyaman di ujung sana.


Sungguh miris!


Penulis Pemula dianaktirikan!


Sementara Penulis yang memang sudah memiliki Pamor malah semakin dimanjakan!


Baiklah!


Tidak masalah!


Teruskanlah ketidakadilan ini hingga matahari terbenam, lalu lanjutkan kembali ketika fajar terbit di ufuk timur. Begitu saja terus sampai hari kiamat.


Barulah mereka sadar bahwa mereka tidak menjalankan keadilan.


Barulah mereka sadar bahwa sistem seperti itu tidaklah benar.


Barulah mereka sadar bahwa ada sebab ada akibat.


Dan barulah mereka sadar, bahwa yang mereka lakukan akan ada timbal baliknya.


Dosa itu akan menghantam dan menghujam serta menikam diri mereka sendiri. Menyerang balik tanpa rasa kasihani. Berkalungkan besi panas yang akan melelehkan tubuh mereka perlahan bak lilin kecil yang terbakar api.


Namun, hal itu tidak hanya berlaku dalam sehari. Melainkan akan terus menerus terjadi hingga hari akhir nanti. Di saat itulah mereka akan menyesali kebodohan diri. Mengikuti nafsu birahi yang tidak kenal kritikan dan opini.


Baiklah!


Kembali pada Berlian!


"Aku harus berusaha sendiri, Ang. Menguji kemampuanku dan bersaing secara sportif. Tidak menutup kemungkinan kamu akan campur tangan jika aku mengajukan karyaku di kantormu. Aku cuma pingin melindungi kamu dari perbuatan keji."


Dengan lembut Berlian menjelaskan. Tentu saja, kalimat itu sukses menarik lengkungan tipis pada kedua sudut bibir Angin Topan. Ia spontan menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan mendongakkan pandangannya ke langit-langit. Seolah sedang meresapi hembusan kalimat ampuh dari sang pujaan hati.


"Aku beruntung bisa memiliki kamu, Lian." Suara Angin terdengar sedikit bergetar di balik sambungan. Mungkin ia sedang terharu atau bahkan sedang menangis tersedu-sedu.


Entahlah!


Berlian juga tampak tersenyum walaupun tertuju pada layar lappy di hadapannya.


Setelah pulang dari kantor Zoya tadi, Berlian langsung kembali berkutat dengan karyanya yang ia publikasikan di aplikasi N.O.V.E.L.T.O.O.N.

__ADS_1


Sesaat setelah mengakhiri percakapannya, Berlian melihat segerombolan hantu cebol menyembul dari layar lappy seperti biasanya. Dari raut wajah mereka agaknya ada kabar baik yang sedang mereka bawa.


__ADS_2