Berlian & Kepala Casper

Berlian & Kepala Casper
Taktik Jitu


__ADS_3

Mendengar suara cekikikan dari dalam kamar putrinya, Ibu Nila merasa kepo, kemudian nyelonong masuk ke sana. "Sayang ...," sapanya ketika seluruh tubuhnya sempurna memasuki ruangan tersebut.


"Eh, Mamah." Berlian tiba-tiba membungkam mulutnya dengan telapak tangan.


Ibu Nila perlahan mendekat, lalu memeluk tubuh sang putri dari samping. "Kenapa kamu tertawa sendirian?" tanyanya yang mulai menggunakan jurus interogasi halus sembari mengelus lembut pundak Berlian.


"Ini, Mah, em ... tadi aku abis baca novel komedi," jawabnya berusaha menutupi kenyataan sebenarnya. Karena tidak mungkin ia menceritakan tentang kelakuan konyol Kepala Casper kepada ibunya.


Ibu Nila tersenyum lapang dada, tak ada tanda-tanda sedikitpun bahwa ia tidak mempercayai alasan tersebut. "Oh ... ini ponsel kamu." Menyerahkan benda pipih berukuran enam inci milik putrinya.


Berlian terperangah. Lalu fokus menghadap sang ibunda. "Loh, kok bisa ada sama mamah?" tanyanya tidak habis pikir. "Aku kira ponselku udah hilang," terangnya yang memang sudah menyadari bahwa sejak tadi malam, ponsel itu tak lagi bersamanya.


Ibu Nila tersenyum tipis, kemudian mengusap-usap pucuk kepala gadisnya itu dengan penuh kasih. "Tadi malam ada orang baik yang dengan ikhlas mengantarkan ponsel ini, Sayang." Ia langsung memaparkan kronologi penemuan alat telekomunikasi milik putrinya tersebut tanpa melewatkan detail-nya sedikitpun.


Berlian hanya manggut-manggut menyimak cerita lengkap dari sang ibu, seperti seorang anak kecil yang sedang mendengarkan dongeng sebelum tidur.


Setelah selesai dengan misinya, wanita yang usianya hampir setengah abad itu melenggang keluar dan meninggalkan Berlian dengan seribu pertanyaan akan sosok misterius yang katanya baik hati itu.


Siapa sebenarnya pria itu? Gumam Berlian di dalam hatinya sembari memutar-mutar ponsel di tangannya.


"Elu penasaran banget ya ama tu cowok?" celetuk Kepala Keparat sembari mendekati Berlian. Kedatangan ibundanya tadi sempat membuat Berlian lupa bahwa Kepala Casper masih menguping di sana.


Berlian sedikit terlonjak, hampir saja ponsel yang ia pegang itu terlepas dari genggamannya. "Kayaknya aku harus ngucapin makasih sama orang itu," tutur Berlian seolah mengiyakan terkaan Kepala Keparat.


"Tenang aja, Berlian. Kita bakal bantuin kamu buat nemuin cowok itu, kok," celetuk Kepala Syantik dengan semangat yang menggebu-gebu.


"Kenapa jadi elu yang semangat?" tanya Kepala Koneng seakan mencium gelagat mencurigakan dari teman gelutnya itu.


Tentu saja, hal tersebut membuat Kepala Syantik tersenyum penuh makna.


"Nah, gue tau nih kalo udah senyuman lu model begitu." Kepala Kentang juga mencurigai hal yang sama.


"Apa lagi kalo bukan roti sobek," tambah Kepala Kunti yang sedari tadi lebih banyak diam. Apa mungkin ia sedang sakit gigi? Ah, mungkin juga bengkak gusi.


Mendengar celetukan demi celetukan bermakna sarkas dari bibir para hantu aplikasi itu, membuat Berlian tak henti menggelengkan kepala sembari memutar kedua bola matanya malas.


"Bosan?" Kepala Terakhir bertanya pada Berlian. Gadis cupu itu mengangguk tanda mengiyakan.


"Auto nulis aja," sarannya dengan menaik-turunkan alisnya. Hal itu memang seharusnya Berlian lakukan sejak tadi.


Gadis itu kembali menghadap lappy, lalu mulai berkonsentrasi dengan gawainya.


"Soal cowok yang diceritain ama nyokap lu tadi, biarin alur cerita yang bakalan mempertemukan elu ama dia."


Ketujuh Kepala Casper itu lantas terbang melesat, satu per satu kembali ke dalam habitatnya.

__ADS_1


...πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž...


Angin tampak sedang duduk dengan ekspresi wajah serius menatap lurus laptop yang duduk anteng di atas meja kerjanya. Bukannya sedang serius soal pekerjaan, namun pria tampan yang usianya hampir menginjak kepala tiga itu, sedang serius membaca salah satu novel online, buah pena dari gadis yang merupakan sahabat kecilnya.


"Lian ...," lirihnya hampir tak terdengar. "Ternyata kisah kita masih terekam lekat di dalam ingatanmu, sehingga kamu bersedia menuliskan dan memublikasikannya pada khalayak ramai." Angin tertegun sekaligus terharu. Ia tak menyangka Berlian mau mengangkat kisah dari diary pribadinya.


Kedua bola matanya masih lekat membaca baris demi baris kalimat indah yang Berlian rangkai, dengan polesan kosa kata sederhana, namun sarat makna. "Impian kecil kita juga masih kamu teguhkan, Lian." Sepasang bibir penuhnya masih terus berkicau seiring ritual membacanya. "Aku juga sudah menjadi seorang Penulis Profesional, bahkan seorang Penerbit, tapi ...." Belum selesai Angin meneruskan kalimatnya, pintu ruangan tampak tersibak sekitar tiga puluh derajat.


"Pak ...." Ditambah lagi dengan suara Pelangi yang pasti telah membuyarkan konsentrasinya.


Ia mengangkat wajahnya tipis, lalu bertanya, "Ada apa?"


"Utusan dari PT. Bebas Berkarya sudah tiba di sini, dan diwakilkan oleh seorang ... wanita," jelas Pelangi yang hanya mengintip dari celah pintu ruangan.


"Oh, iya, suruh saja dia masuk!" perintah Angin tanpa basa-basi.


Setelah beberapa menit, terdengar suara ketukan pintu diiringi dengan tersibaknya benda pipih berbentuk persegi panjang itu, sempurna. Menampakkan sosok seorang wanita dengan postur tubuh tidak terlalu tinggi, berwarna kulit sawo matang, dan berwajah cukup manis untuk dipandang.


"Zoya ...," sapa Angin sekaligus berdiri menyambut kedatangan tamunya itu. Wanita berbusana khas seorang muslimah itu, lantas tersenyum menanggapi sapaan si penguasa ruangan. "Silahkan duduk!" serunya yang juga ikut mendudukkan tubuhnya kembali. Tak lupa pula ia meminta Pelangi untuk membawakan minuman untuk Zoya.


"Aku gak bisa berlama-lama, Ang. Ada peluncuran beberapa buku yang menuntut kehadiranku," pungkasnya dengan penuh kesopanan.


"Wah, Ibu Penerbit yang satu ini sepertinya agak sibuk, baiklah." Angin menumpukan kedua sikunya di atas meja. "Mana yang harus aku tanda tangani?"


Zoya meletakkan sebuah map berwarna merah jambu di atas meja, mengeluarkan selembar kertas yang terdapat di dalamnya, lalu menyerahkannya kepada Angin.


"Jika berhubungan dengan perusahaanmu, maka aku yang harus turun tangan," jawab Zoya dengan ekspresi wajah sesantai mungkin.


Angin terkekeh kecil. "Apa kamu takut kalau aku akan mengubah kesepakatan sebelah pihak?" tanya pria tampan keturunan Pakistan itu.


Zoya memutar kedua bola matanya jengah. "Ayolah, Angin Topan. Karya penulis yang aku sarankan padamu bukanlah karya yang kaleng-kaleng. Jika kamu mau sekali saja bertemu dengan para Penulisnya, aku yakin kamu pasti akan terkesima." Wanita berkerudung cokelat muda itu menempelkan tubuhnya pada sandaran kursi.


"Aku hanya perlu karya mereka, bukan orangnya," sarkas Angin setelah ia selesai membubuhkan tanda persetujuannya di atas kertas putih itu.


"Ah, kamu ini selalu saja begitu. Kamu pikir tanpa Penulisnya sebuah karya bisa tercipta?" Zoya tampak tersulut bara emosi. Ia tidak habis pikir dengan sikap Angin yang terkesan congkak itu.


Namun Angin hanya tersenyum tipis menanggapinya. "Bukankah yang harus kita apresiasi itu karya mereka, Zee?"


Zee adalah nama belakang Zoya. Ya, Zoya Zee.


Zoya menarik tubuhnya dari sandaran kursi, lalu menatap Angin dengan tatapan tidak suka. "Kamu salah, Ang! Justru Penulisnya lah yang harus kita apresiasi, agar mereka terus semangat menciptakan lebih banyak lagi karya yang luar biasa!" tegasnya tidak mau kalah.


Zoya adalah seorang Direktur Muda dari sebuah perusahaan Penerbit dan Percetakan yang selama ini menjalin kerja sama dengan perusahaan Angin. Mereka saling support dalam hal apa pun, karena memang mereka sudah berteman sejak duduk di bangku SMA. Selain sosok sang mama, hanya Zoya lah wanita yang bisa meluluhkan hati Angin jika sedang berada di dalam mode keras kepalanya. Namun, sejauh ini hubungan di antara keduanya hanyalah sebatas teman dan rekan kerja saja, tidak lebih.


Jadi, kalian tidak perlu khawatir!

__ADS_1


Angin menghela napas kasar. "Maaf, aku sedang tidak ingin berdebat."


Zoya juga melakukan hal yang sama, lalu mengemasi berkasnya, kemudian beranjak dari peraduan. "Terima kasih atas kerja samanya, Tuan Angin Topan," tuturnya dengan nada profesional tanpa embel-embel emosi negatif.


Angin hanya mengulum senyuman. Lebih tepatnya, ia sedang menahan tawa. "Zee," panggilnya lagi ketika Zoya berada di muka pintu. "Jangan lupa tutup kembali pintunya!" serunya sebelum ia tertawa terbahak-bahak.


Zoya menghunuskan tatapan tidak suka, lalu bergegas meninggalkan ruangan Angin setelah merapatkan daun pintu.


...πŸ’ŽπŸ’ŽπŸ’Ž...


"Gimana, Nov?" tanya Magisna kepada Novi yang baru saja mendudukkan tubuhnya di kursi kemudi. Pasalnya tadi ia tidak ikut serta dalam pengantaran surat kontrak kerja yang diajukan kepada Angin.


Apa? Bagaimana bisa?


Kalian bingung?


Simak percakapan mereka sampai akhir!


Wanita berbusana khas muslimah yang menemui Angin Topan tadi adalah Novi Artikasari, Direktur dari PT. Bebas Berkarya; Perusahaan Penerbit dan Percetakan Buku, sekaligus Penulis novel ini.


Masih bingung?


Lanjut!


"Kenape tu orang manggil elu dengan Nama laen?" tanya Magisna yang semakin kepo.


Novi mendelik ke arah Magisna, lantas bertanya, "Elu nguping percakapan gue ama Angin, tadi?" Memandang Magisna dengan tatapan curiga.


"Hehe, tadi Jibril titipin ini buat mata-mata." Magisna menarik benda berwarna hitam, berbentuk seperti kepala headset yang menempel di balik lipatan kerudung yang Novi pakai.


Novi kembali mendengus kesal. "Kek gini nih kalo memperkerjakan sahabat sendiri, Direkturnya aja diawasin," cebik Novi yang mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan Medium.


"Pan demi kebaikan elu juga, Nov," ujar Magisna dengan wajah cengengesan. "Kalo Angin macam-macam ama elu, 'kan kita bisa langsung nyerang," tandasnya memberikan penjelasan lebih lanjut dari tujuan penguntitan yang ia lakukan.


"Elaaah, lu pikir si Angin itu Kang Spam yang harus dirukiyah ama pasukan kita?" Novi melirik sekilas ke arah Magisna yang diikuti kekehan kecil dari bibirnya.


"Ya, kali, kalo dia pake akun samaran, auto dihujatlah ama kita-kita," respon Magisna sembari menyusupkan kamera pengintai itu ke dalam tas selempangnya.


"Elu nyinggung gue?" Novi lagi-lagi membeliak ke arah Magisna.


"Lah, baper. Emangnya elu pake akun bayangan?" Magisna hampir tergelak melihat ekspresi wajah konyol sahabatnya itu.


"Elu masih ingat 'kan Angin manggil gue apa, tadi?" Alih-alih menjawab pertanyaan Magisna, Novi malah bertanya balik, seraya menambah kecepatan mobilnya. Sementara Magisna hanya mengangguk dan menunggu penjelasan selanjutnya.


"Gue harus pake nama samaran kalo di depan tokoh-tokoh di novel ini."

__ADS_1


GUBRAAAK


__ADS_2