
Angin masih anteng dengan mode bergemingnya. Ada desiran deras bak aliran sungai pasang di dalam sana. Ia masih saja fokus akan satu titik yang membuat detak jantungnya hampir tak berdegup dengan semestinya.
Apakah itu?
Ya, cinta pertamanya. Cinta masa kecilnya. Cinta monyetnya, dan cinta sejatinya, yang masih saja bersemi hingga detik ini.
Sementara Angkasa, ia hanya bisa menelan salivanya dengan susah payah. Membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Akankah sang kakak mengenali sosok Cupu di hadapannya itu? Akankah sang kakak menyadari bahwa gadis yang memakai kaca mata bening dengan kunciran rambut seperti ekor kuda itu adalah sahabat masa kecilnya?
Oh, tidak ...!
Sepertinya Angkasa belum siap untuk menerima kenyataan selanjutnya, yang mungkin Penulis novel ini pun tidak tega untuk merangkainya.
Tenanglah Angkasa, perjalanan masih panjang!
Bukankah kita harus mempertahankan cerita ini agar tidak segera tamat?
Teruslah berpura-pura tidak tahu. Walaupun sebenarnya engkau sangat tahu. Teruslah berpura-pura bodoh, padahal engkaulah yang paling spesial dan berbakat.
Apa? Berbakat? Ya kali, bakat julid.
Baiklah, kembali ke cerita!
"Kak ...," tegur Angkasa bersamaan dengan tepukan yang mendarat tegas di pundak Angin.
Lelaki itu terperanjat. Ia bahkan tak menyadari sudah berapa lama ia berada di dalam mode terkesima atau pun terpesona, entahlah. Yang jelas Angin merasakan adanya energi tarik-menarik antara katup negatif dan positif di antara dirinya dan gadis yang berada di hadapannya.
Dengan sikap yang masih terkesan kaku, Angin menggeser tubuhnya. Ia hendak memberi jalan kepada dua gadis itu untuk keluar dari kotak ajaib berjalan tersebut.
Berlian yang memang tetap pada mode sadarnya pun lantas menambah langkah dan melewati batas pintu. Disusul oleh Gempita yang mulai menampakkan sikap centilnya di hadapan Angin. Senyum-senyum tidak jelas dan pose tubuh yang terkesan diliuk-liukkan adalah jurus andalan sebagai ajian pemikat darinya.
Namun, entah mengapa, ketika pandangannya jatuh pada wajah tampan nan sangar milik Angkasa, senyuman gadis Ngapak itu perlahan surut bagaikan air sungai yang mengering.
"Apa lu liat-liat?!" sambar Angkasa dengan kedua mata membulat sempurna.
"Idiiih, GeEr, emangnya inyong liatin situ? Maaf yak, yang di sebelah sini lebih adem diliatnya daripada kamu Kutu Kupret." Gempita pun tak mau kalah. Celetukan khas yang mengandung makna sarkas pun ia layangkan tanpa ragu. Namun, gadis itu masih sempat mengarahkan senyuman ampuhnya ke arah Angin.
Tetapi sayang, Angin hanya berpura-pura tidak menyadari, bahkan tanpa segan membuang pandangannya ke sembarang arah.
Duh, ganteng-ganteng sombong! Kicau Gempita di dalam hatinya.
Berlian yang tidak mau berlama-lama di sana,, lantas menarik tangan Gempita dan berjalan melewati lorong menuju taman baca.
"Er, kenapa buru-buru, sih? Kan di situ ada Abang Ganteng. Padahal inyong masih pengen di sana." Gempita mengerucutkan bibirnya ketika mereka telah duduk di salah satu kursi di kafe tamca itu.
(Tamca adalah singakatan dari Taman Baca)
"Oh, ya? Ya, udah, balik lagi ke sana!" seru Berlian tanpa mengalihkan pandangannya dari buku tebal yang baru saja ia ambil dari rak.
__ADS_1
"Hehe, gaklah, Er." Menggaruk-garuk tengkuknya tidak enak hati. Gempita mulai menyadari bahwa ia terlalu berlebihan. "Eh, ngomong-ngomong, kenapa si Kutu Kupret bisa ada di sini, ya? Sama Abang Ganteng lagi," cerocos gadis Ngapak itu, yang mulai mengganggu konsentrasi Berlian.
"Kalo kamu penasaran, kamu bisa tanya langsung sama si Angkasa." Berlian menanggapi sekenanya.
"Ih, amit-amit, Er. Walaupun dikasi uang ratusan juta, inyong gak akan sudi ngobrol baik-baik sama si Kutu Kupret itu. Gak bakalan mau pokoknya, titik gak pake koma," kicaunya lagi dengan logat medok-nya.
Berlian hanya geleng-geleng kepala menanggapi kalimat ngaco sahabatnya itu. Agaknya mereka berdua telah melupakan sosok setan nyasar yang tadi sempat membuat mereka mati rasa.
"Eh, Gem, aku mau nanya deh." Berlian tiba-tiba mengingat sesuatu. Sementara Gempita hanya memasang wajah antusias untuk mendengarkan pertanyaan apa yang akan diajukan oleh sahabatnya itu.
"Tadi itu ... kamu pura-pura pingsan, ya?"
Tet ... Tot ....
Bagai disambar petir di siang bolong, Gempita menghentikan kunyahan cokelat batangan yang sejak tadi menjadi cemilannya. "Hehe, anu, Er. Itu ... apa? Inyong ...," ucapnya tidak jelas seperti benang kusut. Sedangkan Berlian masih menatapnya penuh tanya.
"Sebenarnya inyong ...." Gempita tak bisa mengelak lagi. Ia bangkit dari peraduannya, lalu berlutut di samping Berlian. "Iya, Er. Inyong cuma pura-pura, hehe. Jangan marah ya, Er," tuturnya dengan wajah memelas.
Namun berbeda dengan Berlian. Kedua bola matanya menghunus tajam ke arah Gempita. Bisa-bisanya gadis itu tidak melakukan aksi pertolongan terhadap dirinya yang sedang berada di ujung tanduk. Eh, malah sempat-sempatnya ber-acting pingsan segala. Beruntung, ia masih bisa selamat dari serangan setan nyasar itu. Kalau tidak, mungkin Gempita akan dipecatnya sebagai sahabat.
"Kamu kan baik, Er. Maafin inyong yah, yah, yah?" pinta gadis Ngapak itu dengan penuh harap. Kedua tangannya pun sudah bergelayut manja di lengan jenjang Berlian. Sehingga membuat gadis cupu itu tidak bisa berkutik lagi akan jurus ampuh dari sahabatnya ini.
"Iya, iya, aku maafin. Tapi awas kalo diulangi lagi!" Berlian mengarahkan telunjuknya pada wajah Gempita, sebagai bentuk penegasan.
Gempita kembali tersenyum riang, lalu kembali ke tempat duduknya. Sementara Berlian, kembali fokus pada bacaannya. Namun, sejurus kemudian, memorinya mengarah balik pada sosok tampan yang tadi memandanginya intens di depan pintu lift.
Tidak tahukah ia jika itu adalah Aang yang sempat menghantui tidurnya? Tidak sadarkah ia jika yang bersama Angkasa tadi adalah kakak kandung dari pria usil yang selalu mengganggunya selama ini?
Berlian masih bergeming. Di dalam hatinya ia sudah berjanji tidak akan mengingat Aang lagi. Ia juga sudah bertekad untuk fokus pada tujuannya. Ia juga sudah masa bodoh dengan ritual perjodohan yang sempat membuatnya emosi hingga ke ubun-ubun.
Namun bagaimana dengan perasaannya terhadap Angin Topan? Apakah itu sejenis perasaan kagum atau hanya terpesona akan keparipurnaannya saja? Berlian tidak tahu. Ia bahkan ikutan menggeleng pelan. Tidak habis pikir dengan hatinya sendiri. Bahkan ia juga tidak habis pikir akan kisah persegi banyak yang diciptakan oleh Penulis novel ini.
...πππ...
"Kenapa berantakan seperti ini, Pah? Berlian kemana?" tanya Ibu Nila yang mulai panik akan keberadaan sang buah hati.
Nampaknya mereka baru saja kembali ke rumah dan langsung mengecek keberadaan Berlian di dalam kamarnya. Tetapi ... nihil. Tidak ada siapapun di sana. Bahkan mereka hanya menemukan serpihan-serpihan kaca dan kondisi kamar yang sudah berantakan seperti kapal pecah.
Agaknya Kepala Casper telah melakukan aksi pertikaian yang cukup sengit dengan Nenek Sihir, si Hantu Salah Alamat itu.
"Tenang, Mah. Papah coba telepon Berlian dulu.
Panggilan pertama tak juga mendapatkan jawaban. Panggilan kedua dan ketiga juga begitu. Ketika melakukan panggilan yang keempat, terdengar sambutan di seberang sana. Namun ... bukan suara Berlian.
"Halo ...."
SEEER
Desiran darah begitu deras melewati lorong di dalam dada Pak Iwa. Pikirannya sudah melanglang buana kemana-mana.
__ADS_1
Kenapa bisa seorang laki-laki yang mengambil alih panggilannya?
Bukankah ini nomor Berlian? Batin Pak Iwa.
Apakah Berlian sedang Bersama seorang laki-laki di sebuah kamar? Ah, itu hanya pemikiran setan.
Pak Iwa menarik ponsel dari telinganya dan mengecek ulang nama kontak panggilan tersebut.
Tidak ada yang salah!
Itu memang benar kontak Berlian. Lantas bagaimana bisa suara Berlian berubah menjadi suara laki-laki?
Pak Iwa kembali menempelkan ponsel itu ke daun telinganya. Sementara Ibu Nila masih dalam mode hampir menangis dan memasang pendengaran tajam akan percakapan suaminya yang sengaja memakai mode pengeras suara.
"Ini siapa? Kemana putri saya?" tanya Pak Iwa dengan nada tegas.
Lelaki di seberang sana masih terdiam. Sepertinya dia bingung bagaimana cara menjelaskannya. Apalagi menangkap nada marah dari suara Pak Iwa.
"Hei, halo?" sapa Pak Iwa lagi dengan nada tak kalah menggelegarnya. Membuat sang istri menjadi ikut-ikutan panik karena kegopohan yang ia ciptakan.
"Iya, Om. Begini, saya menemukan ponsel ini tergeletak di jalanan. Tapi ...." Lelaki itu malah memotong kalimatnya, yang membuat Pak Iwa dan istrinya semakin panik.
"Tetapi ... orangnya tidak ada di sekitar situ, Om. Jadi, saya bingung mau mengembalikan ponsel ini kemana," jelas pria di balik sambungan itu dengan nada bicara yang terkesan ragu.
"Ya, sudah. Tolong kamu antarkan ponsel itu ke alamat saya!" seru Pak Iwa sebelum ia memberikan alamat lengkapnya kepada pria yang dianggapnya baik hati itu.
Ya, memang jarang sekali bisa menemukan orang jujur pada zaman sekarang. Terkadang kebanyakan orang dengan mudahnya mengecap bahwa barang temuan sebagai hak milik sendiri. Bahkan acap kali mengakui hak orang lain sebagai miliknya. Sama halnya dengan sarkasme di bawah ini.
Orang ini yang menanam, namun lain yang memanennya. Orang ini yang berjuang, namun lain yang diapresiasinya.
Sungguh, tidak bermoral!
Pak Iwa terlihat mondar-mandir di ruang tamunya. Menanti kedatangan pria yang tadi berjanji akan mengantarkan ponsel Berlian kepadanya. Sedangkan Ibu Nila, masih dengan isak tangisnya walaupun dengan volume yang masih terbilang rendah.
Beberapa menit kemudian
Sebuah mobil mewah tampak terparkir sempurna di halaman rumah megah Pak Iwa. Tidak ada tampang kurang mampu, seperti apa yang sudah dibayangkan oleh lelaki empat puluh tahunan itu sebelumnya.
Menyadari hal itu, Pak Iwa dan Ibu Nila lantas menghambur keluar rumah, untuk menemui si Pria Baik Hati.
"Selamat malam, Om," sapa Pria itu dengan sopan.
"Malam," sapa Pak Iwa balik. Sementara Ibu Nila hanya tersenyum menanggapinya.
"Ini ponsel yang saya temukan tadi." Tanpa basa-basi pria tadi langsung menyerahkan benda pipih berukuran enam inci itu kepada Pak Iwa.
Tentu saja, disambut dengan hangat oleh lelaki berbadan tinggi dan berwajah sangar itu. Namun, kali ini ada yang berbeda. Pandangannya terhadap pria muda itu terlihat sendu bahkan seperti tidak asing. Ia mencoba mengingat dan terus mengingat, dimana ia pernah bertemu. Tetapi, tetap saja tidak bisa. Ingatan Pak Iwa melewati jalan buntu.
Setelah menyerahkan ponsel tadi, pria tersebut langsung pamit undur diri dari hadapan Pak Iwa dan Ibu Nila. Keduanya masih dalam mode terpesona. Terpesona akan sikap terpuji pria itu dan terpesona juga akan kharisma yang dimilikinya. Hingga akhirnya, setelah mobil pria itu raib ditelan pintu gerbang, mereka baru menyadari bahwa mereka lupa menanyakan identitasnya.
__ADS_1