
Kereta roda empat milik Angin, baru saja terparkir sempurna di pelataran sebuah gedung pencakar langit. Disusul oleh mobil sedan berwarna hitam dop milik Awan.
Hari ini adalah jadwal mereka melakukan kunjungan pada toko buku milik perusahaannya. Jauh sebelum memasang situs penjualan online, Angin sudah menjalankan usaha yang bergerak dalam bidang jasa penyewaan dan jual beli buku tersebut.
Gedung ini merupakan aset berharganya, karena di sinilah Angin menumpahkan semua impian dan imajinasinya.
Ya, Angin adalah seorang Penerbit sekaligus Penulis. Jadi, tidak heran, jika ia mengerti seluk beluk dalam penulisan. Mengerti akan aturan menulis dan unsur penting apa saja yang harus ada di dalam sebuah karya.
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia memang sudah suka membaca dan menulis. Terbukti dari banyaknya piala dan piagam yang ia terima dalam banyaknya kompetisi menulis yang telah ia ikuti.
Dan gedung ini adalah impiannya sejak dulu. Memiliki galery, taman membaca, dan perpustakaan, dalam satu tempat. Jiwa bisnis yang mengalir di dalam darahnya, sepertinya mengantongi gen dari sang ibu.
Beberapa saat kemudian, terlihat sebuah motor harley berwarna silver, berhenti tepat di samping Angin, yang baru saja menyembulkan tubuhnya dari pintu mobil.
Pandangan Angin dan Awan yang juga sudah keluar dari kendaraannya, sontak mengedar pada pemilik kendaraan beroda dua itu.
Angkasa, pria itu membuka helmnya, lalu berdiri santai di samping kakaknya.
Sekarang silahkan dibayangkan, jika ketiga pria tampan ini berkumpul pada satu titik yang sama!
Tet ... Tot ....
Jangan lama-lama!
Puasa!
Yuk, lanjut baca!
Awan sedikit terkejut dengan kedatangan Angkasa, pasalnya ini kali pertamanya ia bertemu dengan adik dari sahabatnya itu.
Tidak bisa dibayangkan jika Awan mengetahui bahwa Angkasa adalah salah satu dari lelaki yang suka mem-bully Berlian.
Apa yang akan ia lakukan?
"Wan, kenalin, ini adikku, Angkasa." Angin menepuk pundak adiknya agar mau berjabat tangan dengan Awan.
"Angkasa, Penulis Jelata yang karyanya tidak pernah diterbitkan oleh kakaknya sendiri," sarkas pria berambut ikal sebahu itu, seraya menjabat tangan Awan. Namun, kedua bola matanya melirik sekilas ke arah sang kakak. Angin hanya menghela nafasnya seraya membuang pandangan ke sembarang arah, seolah merasa bahwa hal itu bukan lagi gosip baru.
"Senang sekali bisa bertemu denganmu, Angkasa. Angin memang sangat selektif, jadi bersabarlah," tutur Awan sambil terkekeh kecil. "Oya, Aku Awan, Wakil Direktur di Perusahaan kakakmu." Awan semakin terkekeh setelah melihat raut wajah Angin yang terlihat terpojokkan oleh adiknya sendiri.
Benar kata Angin, Angkasa memang frontal sekali, gumam Awan di dalam hatinya. Sebelum-sebelumnya, Angin sudah pernah menceritakan sedikit tentang saudara kandungnya itu kepada Awan. Untuk mengantisipasi, kalau-kalau Angkasa berulah tidak mengenakkan di depan Awan.
Dan itu benar, baru saja sesi perkenalan, anak itu sudah berkelakar seenak dengkulnya.
"Lalu, untuk apa kakak menyuruhku ke sini?" Angkasa lagi-lagi menagih jawaban dari Angin, karena sebelumnya ia sudah bertanya di dalam telepon, namun Angin tak juga mengutarakan maksudnya.
Angin adalah lelaki yang cenderung kaku, sedangkan Angkasa, ia tampak lebih santai seperti di pantai.
"Jawabannya ada di dalam, ayo kita masuk," ajak Angin, lagi-lagi dengan jawaban yang tidak diharapkan oleh Angkasa.
Angkasa bersungut kesal, namun tetap mengekori langkah kakaknya yang sudah berjalan terlebih dahulu bersama Awan.
Sesampainya di dalam gedung, kedua netra Angkasa mengitari setiap sudut ruangan.
Gedung ini dibangun dengan design full of glasses. Jadi sangat transparan. Sesuai dengan filosofinya, gedung ini sengaja Angin bangun, untuk tempat singgah para pecinta buku. Karena di dalamnya terdapat sebuah taman baca, dan juga kafe untuk bersantai ria, sambil mengisi perut sekaligus mengisi nutrisi otak.
Di lantai dasar, khusus dibuat untuk galery yang menampilkan banyaknya karya Angin. Mulai dari sajak, puisi, novel, buku-buku dokumentasi, sejarah, dan banyak lagi yang lainnya.
__ADS_1
Di lantai dua, khusus dijadikan perpustakaan, yang disediakan bagi para pembaca yang membutuhkan konsentrasi penuh tanpa ingin adanya keributan. Untungnya lagi, para pengunjung juga bisa menyewa beberapa buku yang mereka sukai dengan tarif yang sangat terjangkau.
Seperti yang dikatakan tadi, pada lantai berikutnya, terdapat sebuah kafe yang di-design bundar dan berada tepat di titik tengah ruangan itu. Sedangkan di pinggir ruangan, terdapat rak buku yang dibentuk melingkar, mengitari kafe tersebut.
Berhubung semua jenis buku sengaja Angin sediakan di sini, jadi taman baca ini, jarang sekali sepi pengunjung. Bahkan berasal dari berbagai kalangan.
Sementara di lantai empat, dikhususkan untuk toko buku. Di sini Angin menjalankan bisnis yang sesungguhnya. Para pengunjung bisa membeli berbagai jenis buku dari seluruh penjuru dunia.
Lalu, di lantai kelima adalah ruang menulis. Di sana Angin menyediakan banyak sekali laptop yang memang disiapkan untuk para penulis yang tidak memiliki media untuk mengembangkan dan menumpahkan seluruh ide cemerlangnya ke dalam bentuk tulisan. Dengan membayar tarif yang cukup terjangkau, mereka bisa menggunakan fasilitas di sini dua puluh empat jam penuh.
Jadi, tidak jarang, jika sedang merasa jenuh, Angin selalu menghabiskan waktunya di sini. Mengobrol ria dengan layar laptop melalui bahasa tulisan.
Sementara lima lantai paling atas, tampak masih kosong. Sebenarnya Angin sudah merencanakan sesuatu yang unik, namun belum saatnya untuk dipublikasikan.
"Kak ...," pekik Angkasa yang telah tertinggal jauh dari dua pria sukses di hadapannya.
Angin memutar rotasi badannya 180 derajat agar bisa memandang wajah sang adik.
"Kenapa?"
"Sebenarnya apa yang ingin Kakak tunjukkan padaku?"
"Ikuti saja!"
Angin kembali melanjutkan langkahnya menuju kotak ajaib berjalan, yang diekori oleh Awan dan Angkasa. Kemudian, ia menekan tombol tiga.
...πππ...
Selepas menceritakan kegundahan hatinya via telepon, pagi ini Berlian langsung menuju ke taman baca favoritnya bersama Gempita. Benar saja, kali ini hanya gadis Ngapak itu yang bisa dijadikan tempat mengadu.
"Hahaha, muka kamu udah kayak tempe bacem aja, Er," ejek Gempita di sela-sela tawanya.
"Habisnya mau gimana, Gem. Aku benar-benar gak mau dijodohin." Berlian menegakkan posisi duduknya. "Apalagi sama Angkasa, gak lah pokoknya." Menggeleng-geleng sembari menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Kenapa?" Gempita mengernyitkan dahinya. "Atau mungkin, kamu udah punya cowok idaman lain?" tanya Gempita sembari memicingkan kedua matanya curiga.
Berlian tampak mematung setelah mendengar pertanyaan tersebut. Entah mengapa memorinya mulai menyibak kilas balik momen di saat ia diseret paksa oleh seorang pria tampan. Hatinya terasa menghangat ketika mengingat genggaman tangan pria tersebut. Karena selama ini, Berlian belum pernah bertemu dengan pria yang bermandikan kharisma seperti itu.
"Er ...." Telapak tangan Gempita melayang ke depan wajah Berlian, ketika gadis itu tak merespon pertanyaannya sama sekali.
Dan di saat yang bersamaan, kedua netra cokelat keemasan milik Berlian, tak sengaja menangkap sosok pria yang sama dengan yang ada di dalam benaknya.
Apa aku sedang berhalusinasi? Batin Berlian. Ia mengucek kedua matanya, untuk meyakinkan diri. Tanpa menggubris panggilan Gempita, arah pandang Berlian kini berpindah, mengekori pergerakan dari sosok tersebut.
"Er, kamu ini kenapa, sih? Inyong ngomong malah dikacangin?" Gempita bersungut kesal. Menyadari hal itu, Berlian sontak memutar lehernya sehingga kembali menghadap Gempita.
"Hehe, maaf, Gem." Berlian dengan wajah cengengesan, sontak menyelipkan rambutnya di belakang telinga, seperti orang yang sedang salah tingkah. "Kamu tadi nanya apa?" tanyanya melebur kecanggungan.
"Gak jadi," kelakar Gempita dengan membuang wajah ke arah lain, dengan kedua lengan terlipat di depan dada.
"Yah, jangan marah dong, Gem. Maaf, tadi aku ...." Suara Berlian tercekat ketika Awan tiba-tiba datang menghampiri.
"Hai, Berlian, Gempita ...," sapanya dengan wajah sumringah. "Kebetulan sekali kita bertemu di sini." Awan berdiri tepat di samping meja mereka. Tentu saja hal itu semakin membuat Gempita tidak bisa menyembunyikan kegirangannya. Dengan gaya duduk yang terkesan dibuat-buat, Gempita memasang pose seeksotis mungkin, seperti gaya seorang gadis centil yang berupaya menarik perhatian sasarannya.
"Kenapa kamu bisa ada di sini, Wan?" tanya Berlian penasaran.
"Iya, iya, kenapa bisa?" Gempita menimpali dengan senyuman merekah.
__ADS_1
"Ini salah satu aset kantor," jawab Awan singkat.
DEG
"Berarti tadi aku gak berhalusinasi," gumam Berlian di dalam hati.
"Ya udah, selamat bersantai ria," ucap Awan, seolah memberi isyarat bahwa ia akan mengakhiri percakapan.
"Loh, mau kenapa, Bang Awan?" Gempita seakan tidak rela melepas kepergian pria tampan itu.
"Aku masih ada pekerjaan, Angin sudah menungguku di ruangannya," jelas Awan, yang membuat jantung Berlian berdetak kencang setelah mendengar nama itu.
Angin, batinnya, selaras dengan desiran darah yang teramat deras di dalam sana.
"Aku pamit, ya." Awan melambaikan tangan ke arah Berlian yang masih saja bergeming.
Setelah kepergian Awan, Gempita memekik kegirangan sekaligus menyayangkan. "Duuuh, ganteng banget yak itu cowok ...." Sambil menghentak-hentakkan kedua kakinya ke lantai, heboh sendiri. "Kali ini dia mau merespon inyong, aaaaa ...." Menggoyang-goyangkan kedua tangan saking berbunga-bunganya.
Berlian yang tersadar akan tingkah sahabatnya itu, lantas hanya bisa menggelengkan kepalanya, tidak heran.
Beberapa saat kemudian, Berlian tampak terlonjak. "Kok bisa begini, sih?" Ia memajukan wajahnya mendekati layar lappy yang memang sudah menyala sedari tadi.
"Kenapa, Er?"
"Kenapa total followers-ku jadi nol besar ya, Gem? Perasaan kemarin aku check, udah banyak."
Gempita beranjak dari duduknya, lalu merundukkan sedikit tubuhnya menatap pada layar yang sama.
"Oh, ini mah udah bukan gosip baru, Er," celetuk gadis centil itu.
"Maksud kamu?" Berlian mengernyitkan dahinya, tidak mengerti. Gempita kembali pada kursinya, lalu memasang ekspresi seserius mungkin.
"Gini, Er. Di aplikasi apa aja tak terkecuali N.O.V.E.L.T.O.O.N, itu ada aja yang namanya pengguna PHP." Gempita menghentikan kalimatnya, sekedar untuk menghirup oksigen. "Kebanyakan pengguna, pingin punya followers banyak, tapi gak mau terlihat mengikuti akun lainnya," timpalnya. Sementara Berlian, masih setia mendengarkan.
"Mereka sengaja unfol akun yang udah folbek mereka, agar jumlah followers mereka lebih banyak dari akun yang mereka ikuti." Gempita berhenti kembali, kali ini untuk menyesap manisnya jus buah naga yang berada di hadapannya. "Lebih parahnya lagi, kadang ada yang sengaja meng-unfol semua akun orang, agar tidak ada lagi akun yang mereka ikuti, gitu ...," lanjutnya memperjelas.
Berlian manggut-manggut tanda mengerti, tapi sepertinya ia masih saja penasaran. "Tapi sebenarnya, kenapa mereka harus melakukan hal seperti itu? Bukankah itu namanya penipuan?"
"Yah ... mungkin biar terlihat pemes, hahaha ...," jawab Gempita sekenanya.
Berlian tampak termangu. Tidak habis pikir dengan hal semacam itu. Di zaman yang semakin modern seperti sekarang ini, pengikisan moral pun semakin menjadi-jadi.
...πππ...
Lalu apakah itu PHP?
PHP di sini adalah singkatan dari Pemberi Harapan Palsu. Mungkin sudah banyak yang menjadi korban PHP di sini. Bahkan oleh temannya sendiri. Jika benar, maka kalian faham betul seperti apa rasanya.
Uh, sangat mengecewakan bukan?
Nah, *apakah PHP merupakan suatu penyakit*?
Ya, benar sekali. Fenomena ini memang suatu penyakit. Lebih tepatnya, penyakit masyarakat yang sering dikenal dengan Modus Pengikut. Biasanya, pengguna terlebih dahulu mengikuti akun kita, setelah itu mereka menghapus akun kita dari daftar yang diikutinya.
Pendapat di atas disadur dari Story Chat Forum Paravisi, karya Jibril Ibrahim. Jika ingin mengetahui info lebih jelasnya, silahkan baca langsung.
__ADS_1