Berlian & Kepala Casper

Berlian & Kepala Casper
Kembalinya Angkasa


__ADS_3

Ketika euforia itu masih menyelimuti mereka, tiba-tiba saja terdengar deru mesin motor yang menarik perhatian seluruh umat di sana.


Tampak Jibril Ibrahim dengan kekasih hatinya, Senja terakhir, berboncengan di atas sebuah motor N*nja layaknya pembalap motor profesional. Namun, yang terlihat aneh di sini adalah ... si Pria berambut sepinggang itu malah menempati posisi sebagai boncengan.


Angin mengernyit keheranan. Tidak pernah ia saksikan sebelumnya pemandangan yang sangat menganehkan. Ya, bagi Angin tidak gentle rasanya bertengger di belakang seorang wanita. Apalagi saat sedang berkendara. Namun, tidak untuk Senja. Ini adalah scene paling romantis menurutnya. Dengan begitu ia bisa memeluk Jibril dengan leluasa.


Aha!


Berlian masih bergeming. Merasa tidak asing dengan wajah kedua makhluk kasat mata yang sering mengalami pertukaran kepribadian itu. Tentu saja, setelah mereka berdua menyembulkan wajahnya dari balik helm yang digunakan.


Berselang beberapa detik kemudian, tibalah rombongan mobil mewah yang mendekat beriringan seperti ingin melakukan prosesi lamaran.


"Zoya!" gumam Angin, yang masih bisa terdengar oleh Berlian.


"Kamu kenal mereka?" Berlian mulai bertanya. Angin hanya mengangguk tipis tanda mengiyakan.


Tampak dari masing-masing pintu mobil, Novi Artikasari mengendarai mobilnya sendiri. Affxxvi alias Fafa bersama Mr. Potato keluar dari mobil yang kedua. Sementara dari mobil yang terakhir, ada Seul Ye menggandeng lengan kekasihnya, Kozume.


Kozume Kenma, ya, Gengs!


Ehe!


Tapi, ada yang kurang!


Siapa?


Magisna, kemanakah gadis itu?


Ah, entahlah!


Setelah memastikan bungkusan kado berada di dalam genggaman masing-masing, mereka berjalan mendekati sang Ratu dan Pangeran.


"Selamat ya, Berlian ...." Kenma mengerlingkan sebelah matanya disaat mengucapkan selamat kepada gadis itu. Agaknya Kenma sudah tergoda dengan pesona si Cupu.


Seul Ye yang menyadari hal itu, tak segan-segan menjewer telinga Kenma sampai teleng. Semua tamu yang menyaksikan hal itu pun, tentu saja tertawa ria sambil geleng-geleng.


Ada-ada aja si Rambut Koneng!


Sementara Berlian kembali berpikir, hingga akhirnya ia mengingat scene terakhir pada bab yang berjudul 'Kang Ghosting'.


Jadi, mereka ini para Penulis Singa.co yang dimaksud Kepala Terakhir? Batin Berlian, ketika mengingat kejadian di toilet taman baca kala itu.


"Selamat atas pertunangan kalian, ya, Ang." Seorang gadis yang perawakannya tidak begitu tinggi, berbalut busana khas hijab style, menjabat tangan Angin dan Berlian secara bergantian.


"Makasih, Zoya." Angin menerima kado pemberiannya sembari tersenyum penuh bahagia.


Zoya? Bukankah dia Penulis novel ini? Bagaimana bisa namanya berubah menjadi Zoya? Berlian nyaris tak habis pikir. Namun ia tidak ingin protes. Masih berusaha mengikuti alur cerita ini.


Seusai berjabat tangan dan memberi selamat, semua personil Penulis Kamvret itu menempati kursi yang mengitari meja bundar di pojok kanan depan.


Acara pun dilanjutkan kembali dengan hiburan. Tak ada pertikaian. Apalagi keributan. Acara pertunangan Angin dan Berlian berjalan dengan lancar.


Seakan tak ingin berada jauh dari sang pujaan, Angin selalu menggenggam jemari Berlian. Bahkan di saat acara ramah tamah pun diadakan.


Beberapa saat kemudian


Angin bertiup kencang. Seolah menandakan bahwa badai akan datang. Semua orang tampak panik dan terancam. Namun, tak ada satu pun yang berani hengkang.


Tampak di pandangan mereka, gumpalan asap putih melesat dan terbang mengitari tempat kejadian. Awak media pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Tidak sedikit dari mereka yang merekam peristiwa, yang tergolong sangat menganehkan.


Sekitar lima menit unjuk kebolehan, gumpalan asap putih itu seakan menghilang di telan angan.


Namun, siapa yang bisa menyangka? Hanya Berlian yang bisa melihat sosok di balik asap.


Siapa lagi kalau bukan ... keenam makhluk eksentrik alias hantu cebol yang sudah lama cuti lebaran.

__ADS_1


Aseeek!


"Bisa gak sih, kalo kalian gak bikin kehebohan?" bisik Berlian kepada keenam sahabat tak kasat matanya itu.


"Gak bisa dong, kita 'kan juga pingin terkenal, iyuuuh," sahut Kepala Syantik dengan nada manjanya.


"Betul, Berlian. Masuk tipi, terus viral, ngehehehe." Kepala Koneng menimpali.


"Iya, masa gue selamanya jadi hantu kentangan?" Kepala Kentang mulai mencurahkan isi hatinya.


"Udah, Mpok. Gak usah dijadiiin beban. Gak akan ada yang tau apa yang akan terjadi di masa depan." Kepala Vampire dengan kaca mata hitamnya, bersuara untuk menenangkan.


"Ya, kali. Gue mah bisa liat masa depan." Celetukan Kepala Keparat membuat pandangan mereka berpindah pada satu tujuan. Tak terkecuali Kepala Terakhir.


"Udahlah, Sayang. Belum waktunya unjuk kekuatan." Kepala Terakhir mengatakan.


Masing-masing Kepala Casper memang mempunyai kekuatan yang berbeda-beda. Namun, mereka mempunyai kelemahan yang sama.


Sudah bisa menebak apa kelemahannya?


Ya, mereka tidak bisa dihadapkan pada kenyataan. Karena ruang lingkup mereka hanyalah di dunia khayalan.


Aha!


"Si Kunti kemana?" Celetukan Berlian berhasil membuat makhluk aneh itu kebingungan.


"Iya, ya, kemana si Kunti?"


DREEEN


DREEEN


DREEEN


Apakah ada tamu tak diundang?


Sepertinya tidak mungkin. Bahkan Angin sendiri pun tidak bisa menebak, siapakah gerangan yang menjadi tamu kejutan?


Tampak seorang pria dan wanita. Masih duduk anteng di atas kendaraannya. Setelah helm mereka dilepas dari kepala, semua orang pun terkejut nyaris dengan mulut ternganga.


Penasaran siapakah mereka?


Mereka adalah Magisna!


Diikuti oleh satu makhluk eksentrik yang ketinggalan kereta. Kepala Kunti!


Dan ... Angkasa!


Apa?


Bagaimana bisa?


Simak terus ceritanya!


"Oh, rupanya si Konah ngawal gebetannya!" celetuk si Koneng.


"Sssst ...!" seru teman-temannya, berusaha membuat Kepala Koneng bungkam.


Kedua makhluk yang sudah bisa dipastikan bahwa mereka adalah manusia biasa itu, berjalan mendekati kerumunan.


Melangkah bergandengan melewati tamu undangan yang masih terperangah dengan kenyataan.


Angkasa bukannya sudah meninggal?


Angkasa bagaimana bisa hidup kembali?

__ADS_1


Itu beneran Angkasa?


Siapa gadis yang bersamanya?


Begitulah kiranya bisik-bisik tetangga yang terdengar di telinga Angkasa. Ia bahkan tak menggubrisnya. Apalagi menjawab.


Langkah tegap berdampingan dengan langkah anggun dari Magisna, cukup membuatnya percaya diri untuk bersua.


"Aksa ... putraku!" Ibu Bulan tak lagi bisa menahan haru ketika melihat kembalinya sang putra bungsu.


"Kamu masih hidup, Nak?" Membelai kedua pipi Angkasa penuh kasih. Hingga akhirnya, tangisannya pecah di pundak sang buah hati.


Tuan Ribut yang juga berdiri di samping sang istri, tak lagi bisa membendung air mata bahagianya.


"Papa," sapa Angkasa dengan suara khasnya.


"Putraku!" sahut Tuan Ribut. Ibu Bulan pun melepaskan rengkuhannya. Memberikan waktu kepada suaminya untuk melepaskan rindu yang sudah menggunung.


Semua mata yang menyaksikan tontonan mengharukan itu, tak segan-segan ikut tersentuh.


Sementara Angin dan Berlian tampak menghampiri adik dan calon tunangan gagalnya itu. "Angkasa ...." Nama itu lolos dari sepasang bibir Berlian. Ia tidak pernah melupakan nama itu, karena Angkasa sendiri yang memintanya.


Bukan karena cinta, namun karena budi baiknya!


"Berlian, Kakak ...," sapa Angkasa setelah sang ayah melepaskan rangkulannya.


"Kamu terlambat, Wel!" ejek Angin sebagai salam pembuka.


"Gak masalah, Kak. Yang pantas mendampingi Berlian itu ... memang Kakak, bukan aku." Tersenyum ikhlas tanpa ragu. "Karena aku sudah menemukan seseorang yang benar-benar peduli padaku." Merengkuh tubuh Magisna dari samping.


Gadis itu tersenyum malu sekaligus haru. Tampak dari kejauhan Kepala Syantik, Seul Ye, dan juga ... Jibril Ibrahim, menekuk wajah seakan tidak terima dengan alur cerita ini. Magisna tersenyum mengejek ke arah mereka bertiga. Seolah ia sangat memahami perasaan dari para sahabatnya.


"Siapa gadis ini? Kamu cantik sekali, Sayang." Ibu Bulan menyentuh dagu Magisna, yang diikuti oleh senyuman ampuhnya.


Jiaaah, si Kunti, menang banyak!


"Magisna, Tante." Suara merdunya pun sukses meluluhkan hati calon mertuanya itu.


Eaaak, camer!


"Aksa, bagaimana cerita kamu bisa selamat dari maut?" Tuan Ribut menyela.


"Nanti akan aku ceritakan, Pa." Angkasa kembali merangkul Magisna. Membawanya naik ke podium dan menjawab semua pertanyaan yang ada di benak orang-orang.


"Selama dalam masa persembunyian, tidak ada yang peduli dengan keberadaanku, selain ... Magisna," tuturnya memulai penjelasan. Magisna tersipu malu.


Semua mata tak berkedip sama sekali. Seakan tak ingin melewatkan cerita misteri dari hilangnya tokoh usil itu.


Angkasa tersenyum tipis pada gadisnya, lalu kembali memandang ke depan. "Magisna adalah satu-satunya orang yang bisa menemukanku."


Semua terperangah. Menatap curiga ke arah Magisna. Gadis itu melirik sekilas ke pojok kanan depan.


Jadi, selama ini Magisna diam-diam saja? Batin para sahabatnya.


Aku tidak terima! Batin Seul Ye.


Pokoknya aku gak rela! Batin Kepala Syantik.


Pacar gue! Batin Jibril Ibrahim.


Seolah ini adalah alur cerita yang paling menyesakkan bagi para penggemar Angkasa. Bukannya Penulis tega. Namun, begitulah kenyataannya. Memang hanya Magisna yang peduli dengan keberadaan Angkasa.


Bagaimana ceritanya?


Tunggu episode selanjutnya!

__ADS_1


__ADS_2