
Matahari kian beringsut membenamkan diri. Cahaya jingga yang menyorakkan keindahan langit sore pun tak lagi menetap.
Sebuah mobil mewah tampak memasuki pekarangan rumah Pak Iwa, ketika jam dinding menunjukkan pukul tujuh malam.
Keluarga besar Pak Iwa sudah berjejer di depan pintu masuk, untuk menyambut kedatangan tamu kesayangan mereka.
Berlian dengan rambut tergerai, mengenakan gaun berwarna biru dongker, setengah lutut berlengan panjang, tampak tak begitu antusias dengan momen ini. Tak lupa, kacamata kesayangannya bertengger indah pada hidungnya. Polesan make up tak sedikit pun tampak pada wajahnya yang masih saja terlihat memesona.
Sementara Pak Iwa dan Ibu Nila, mengenakan pakaian couple dengan tema batik indonesia.
"Sudah lama tidak bersua, kau semakin makmur saja," sapa Pak Iwa kepada sahabatnya itu sambil berjabat tangan dan memeluk macho tubuh satu sama lain.
"Kau juga tampak semakin berisi, Wa," canda seorang lelaki yang usianya hampir setara dengan Pak Iwa, sembari menepuk punggung sahabatnya itu.
"Ah, kau ini bisa saja. Mari masuk ...." Pak Iwa mempersilahkan sahabat dan istrinya itu masuk ke dalam rumah megah mereka.
"Gimana perjalanannya kemarin, Jenk? Katanya baru pulang dari Abu Dhabi," tutur Ibu Nila untuk membuka percakapan. Ia dan tamunya itu duduk berdekatan. Begitu juga dengan Pak Iwa dan sahabatnya. Sementara Berlian hanya menyesuaikan, ia duduk tepat di samping ibunya.
"Alhamdulillah sangat berkesan, Jenk. Padahal cuma tiga hari. Tapi, berasa puas banget loh." Istri sahabatnya Pak Iwa memberi tanggapan. "Oh, ya, apa gadis cantik ini, Berlian?" tanya istri sahabatnya Pak Iwa.
"Betul, Jenk. Ini Berlian, putri kami." Ibu Nila menyentuh pundak Berlian, membuat ia terpaksa tersenyum kikuk.
"Oh, iya, dimana putra semata wayang kalian?" Pak Iwa sepertinya sudah tidak sabar lagi. Namun, hal itu justru membuat Berlian melirik sinis ke arah ayahnya.
"Bukan semata wayang, Wa," koreksi sahabatnya Pak Iwa. "Sekarang kami sudah mempunyai dua orang putra," lanjutnya memperjelas.
"Oh, ya? Sudah lama tidak bertemu, ternyata kau ini produktif juga." Pak Iwa dan sahabatnya tergelak bersama, sedangkan para ibu dan Berlian juga ikut tertawa.
"Lalu kemana mereka? Kenapa tidak ikut?" Pak Iwa semakin kepo. Ia tidak ingin rencana awalnya gagal.
Rencana?
Ya, rencana memperkenalkan Berlian kepada putra sahabatnya itu. Jika bukan anak tunggal, berarti salah satu dari mereka harus bisa menjadi menantunya.
Wah, kasian Berlian!
Sahabat Pak Iwa hanya tersenyum tipis sembari menyeruput minumannya yang baru saja diantarkan oleh ART. Ia sudah mengerti dengan apa yang ada di benak sahabatnya tersebut, karena dia sendiri juga menginginkan hal yang sama.
"Mereka akan datang, tapi agak terlambat." Lelaki itu menjawab. "Biasalah, anak laki-laki, mana mau satu mobil dengan orang tua yang sudah renta begini." Candaan lelaki itu membuat para tetua tertawa karena merasa terhibur.
Kecuali ... Berlian.
Sedari tadi Berlian hanya memaksakan diri untuk tertawa. Dia semakin yakin jika ayahnya memang akan menjodohkannya dengan salah satu dari anak sahabatnya itu.
Ini tidak bisa dibiarkan! Batin Berlian. Lalu ia melirik ke sisi kiri, dimana Pasukan Pembasmi Komentar Spam yang sudah siap siaga di tempatnya.
Bingung ya kenapa mereka masih bergentayangan di sini?
Baiklah, simak cerita kilas baliknya di bawah ini!
...FLASHBACK ON...
Berlian tampak memekik tertahan mendengar permohonan dari Kepala Terakhir. Ingin rasanya ia menerkam tujuh Kepala Casper itu karena saking geramnya. Bukannya meminta maaf atas ketidakpeduliannya, mereka malah ingin kembali ke habitatnya dengan mudah.
Tentu saja, Berlian tidak akan melepaskan mereka begitu saja. Terlebih lagi, malam ini adalah malam yang akan sangat membosankan baginya.
Sebelum merespon permintaan dari ketujuh makhluk eksentrik itu, pikiran usil Berlian tiba-tiba saja timbul ke permukaan.
"Aku pasti akan menyalakan lappy-ku, tapi ...." Berlian menggantungkan kalimatnya seraya tersenyum penuh makna. Sementara semua Pasukan Anti-Spam itu masih setia mendengarkan dengan wajah penasaran.
"Tapi apa?" Kepala Kentang merasa sudah tak sabar lagi.
"Kalian harus melakukan sesuatu untukku, malam ini!" seru Berlian sembari melipat kedua tangannya di depan dada dengan posisi yang masih terduduk di atas tempat tidur.
"Basmi komenan spam-nya siapa lagi? Ngehehehe ...," celetuk Kepala Koneng.
"Ngebasmi spam di dunia nyataku," jawab Berlian secepat kilat. Semua makhluk cebol itu membeliak tidak mengerti, lalu saling bertukar pandang satu sama lain.
__ADS_1
"Maksud lu?" Sepertinya Kepala Terakhir menginginkan penjelasan lebih.
"Aku mau kalian ngerjain seseorang." Berlian menaik-naikkan kedua alisnya.
...FLASHBACK OFF...
Ketika Berlian sedang memberi kode kepada Kepala Casper untuk berjaga di depan pintu, terdengar suara langkah kaki seorang pria yang baru saja melewati batas pintu masuk, dengan kedua tangan menyugar rambutnya yang sedikit berantakan karena baru saja melepaskan helmnya.
Dengan kepala sedikit tertunduk ia masih fokus dengan gawainya, namun ketika mengangkat wajah, betapa terkejutnya ia dengan pemandangan yang ada di depannya.
"Ber-Berlian ...."
"Ang-Angkasa ...."
Secara serentak muda-mudi itu menyebutkan nama mereka masing-masing dengan wajah terpana.
"Jadi, kalian sudah saling kenal?" tanya Ibu Nila sembari menyentuh lembut lengan Berlian.
Tanpa menjawab, Berlian hanya mengangguk, tanda mengiyakan.
Bagus, batin Pak Iwa.
Pak Iwa yang tidak ingin melewatkan kesempatan ini, akhirnya bangkit dari duduknya dan menghampiri Angkasa.
"Wah, ternyata kau sudah sebesar ini ya, tampan pula," puji Pak Iwa sembari melingkarkan lengannya pada pundak Angkasa.
Pria berambut ikal sebahu itu hanya bisa tersenyum kaku karena merasa tidak mengenal Pak Iwa.
"Dia bukan Angin, Wa."
JENG JENG JENG
Kalimat itu membuat Pak Iwa melempar pandangannya pada sumber suara.
Siapa? Angin? Berarti sahabat Pak Iwa itu ... orang tuanya Angin Topan?
"Oh, begitu. Aku kira si Angin. Soalnya tampang mereka sama. Sama-sama tampan." Pak Iwa tersenyum lebar, selebar-lebarnya.
"Aksa, ini Om Iwa, sahabat kecil Papa." Tuan Ribut menjelaskan. "Wa, dia Angkasa, putra kedua kami," lanjutnya memperkenalkan putranya pada Pak Iwa.
Aksa adalah nama kecil Angkasa. Panggilan itu hanya diberikan khusus oleh keluarganya. Namun, tidak dengan Angin, karena Angin mempunyai panggilan tersendiri untuk adiknya yang suka usil itu.
"Oh, jadi, nama kamu Angkasa." Pak Iwa mengulangi kalimat Tuan Ribut.
"Iya, Om. Saya Angkasa," respon Angkasa dengan sopan sambil tersenyum hangat.
Tumben sekali dia bersikap sopan, batin Berlian. Dasar Angkasa bermuka dua, umpatnya lagi di dalam hati.
"Kemana kakakmu? Kenapa kamu hanya sendirian, Nak?" tanya Nyonya Bulan kepada anak bungsunya itu.
"Ka-kakak ...." Angkasa tampak gelagapan. Pasalnya Angin tidak ingin menghadiri pertemuan antar dua keluarga ini, karena dia tahu bahwa akan ada embel-embel perjodohan di sini.
Anak itu, batin Tuan Ribut. Sepertinya dia sudah mencium rencana perjodohan ini, Tuan ribut kembali mendesah pasrah.
Sejak awal ia memang menginginkan Angin berjodoh dengan Berlian. Namun, Angin sangat susah sekali diberikan pengertian. Tuan ribut dan Nyonya Bulan sangat mengkhawatirkan putra sulungnya itu. Di usianya yang hampir menginjak kepala tiga, Angin belum juga terlihat menggandeng pasangan. Sebagai orang tua, mereka hanya berusaha memberikan jalan, namun keputusan tetap berada di dalam genggaman Angin.
"Pa ...." Nyonya Bulan yang mengerti akan raut wajah kecewa sang suami, lantas menyentuh lembut tangan suaminya. "Gak papa, 'kan udah ada Angkasa di sini." Nyonya Bulan mencoba menenangkan.
Angkasa yang memang faham dengan situasi itu, lantas duduk bergabung dengan kedua orang tuanya.
Angkasa juga tahu, kakaknya tidak mungkin menyusul. Karena sebelum ia berangkat, Angin sudah menjelaskan padanya bahwa ia tidak ingin dijodohkan. Sebenarnya, bukan Angin tidak ingin menikah. Hanya saja, ia ingin menikah dengan wanita pilihannya sendiri.
Angkasa yang memahami keresahan hati sang kakak, hanya bisa melakukan hal ini untuk membantunya. Walaupun terkenal dengan keusilannya, namun Angkasa sangat menyayangi kakaknya. Itulah kelebihannya. Pria yang terkenal minim akhlak di luar rumah itu, ternyata adalah sosok anak dan adik yang sangat baik jika berada di rumah.
Dan perlu di garis bawahi. Angkasa hanya melakukan keusilan itu pada Berlian semata. Tidak untuk orang ataupun gadis lain.
"Ya sudah, tidak apa-apa," sela Pak Iwa, mencairkan suasana canggung pada keluarga sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kita makan malam saja, yuk. Hidangan sudah siap untuk disantap." Ibu Nila mempersilahkan tamunya memasuki ruang makan. Sudah barang tentu, di atas meja makan sudah terpampang berbagai jenis makanan ala Hindustan.
Mereka semua tampak menikmati makan malamnya. Namun, tidak dengan Berlian. Sedari tadi ia hanya memasang wajah masam. Apalagi, setelah mengetahui bahwa anak dari sahabat ayahnya itu adalah lelaki yang suka mengganggunya selama ini.
Berlian semakin tidak sabar, meminta Kepala Casper untuk memberikan pelajaran kepada Angkasa.
Namun, tanpa Berlian sadari, sepasang mata elang itu, sedari tadi mencuri pandangan terhadapnya. Ia sangat memahami, seperti apa perasaan Berlian saat ini. Gadis Cupu itu pasti merasa takut, jengah, dan ... khawatir.
Setelah menandaskan makanannya, Angkasa meminta izin kepada kedua orang tuanya dan kedua orang Berlian, untuk mengajak Berlian berbicara di teras samping. Tentu saja, para tetua itu mengizinkan.
Akhirnya, mereka berdua duduk di kursi yang terdapat di teras samping rumah Berlian, yang berhadapan langsung dengan kolam renang.
Sungguh pemandangan yang sangat menyegarkan.
Berlian tetap mengatupkan sepasang bibirnya, hingga Angkasa membuka percakapan.
"Kamu kaget banget pasti!" seru Angkasa dengan seringai khas miliknya yang selalu ia tunjukkan pada Berlian.
Tentu saja, ekspresi itu sudah tertanam di dalam memori Berlian. Bahkan Berlian sudah menganggap pria yang berada di sampingnya ini, mempunyai kelainan mental.
Dasar pria cacat mental, geram Berlian di dalam hatinya.
"Kamu sudah tau kan, kalo kita akan dijodohkan?" Kalimat Angkasa sontak membuat Berlian mengangkat wajahnya dan menatap tajam wajah Angkasa.
"Aku tidak akan pernah mau menikah dengan pria sepertimu!" tegas Berlian.
"Kenapa? Apa aku kurang tampan, Berlian lima puluh karat?" Angkasa tergelak dengan wajah mengejek.
Berlian paling benci ketika Angkasa mengembeli namanya dengan sebutan itu. Seketika itu juga, Berlian tersenyum usil. Ia memberi aba-aba pada tujuh Kepala Casper yang sejak tadi terbang mengikutinya.
Dengan terpaksa, Pasukan Pembasmi Kang Spam itu, mengikuti kemauan Berlian. Walaupun sebenarnya ini di luar konsep keeksisan mereka. Namun, atas nama persahabatan, mereka rela melakukannya.
"Aw ...." Angkasa nampak meringis ketika kepalanya terasa dijatuhi sesuatu. Berlian terkekeh kecil melihat tingkah Kepala Syantik yang tiba-tiba menjatuhkan satu mahkotanya di kepala Angkasa.
"Nih, aku kasi roti sobek, Bang. Biar badanmu makin kekar, hahahaha ...," ucap Kepala Syantik setelah melancarkan aksinya.
Karena merasa ada yang aneh, kedua netra Angkasa sontak mengekori sekitar.
Namun sayang, tidak satu sosok pun yang tertangkap oleh mata elangnya.
"Siapa itu?" Pandangan Angkasa tampak mengitari langit-langit.
"Kena lu!" seru Kepala Vampire.
"Eh, gue mau dong, mau dong," ujar Kepala Kentang sembari mendekati dua Kepala Casper yang hobi ngomik cabul itu.
"Nih, gue hujani ama krispian, hihihihi ...." Kepala Kentang tampak menghamburkan krispian kentang goreng di atas Angkasa. Entah dapat darimana, yang jelas hal itu membuat Angkasa mengalami hujan lokal.
"Apalagi ini?" Angkasa memekik, lantas berdiri sambil membersihkan butiran krispi yang telah mengotori rambut setengah gondong dan kemejanya.
Berlian semakin terkekeh melihat ekspresi wajah Angkasa yang terlihat kesal.
"Giliran gue woi!" sergah Kepala Koneng.
"Emang lu punya sesuatu buat dijadiin senjata, Tan?" tanya Kepala Kunti.
"Ada lah, Konah. Pan gue punya rambut jagung. Otomatis bijinya ngekor lah," kelakar Kepala Koneng yang membuat mereka tergelak bersama.
"Yodah, kita serang sama-sama aja," celetuk Kepala Keparat, "pegimane?" lanjutnya mengonfirmasi.
"Boleh, boleh." Semuanya menjawab dengan antusias.
Setelah melakukan aksi berjama'ahnya, Angkasa sontak berlari ke kamar mandi. Tentu saja, karena ketujuh Kepala Casper itu dengan tanpa rasa kasihan, mengguyur Angkasa dengan air kolam renang yang mereka semburkan dari mulut masing-masing.
Hal itu sontak membuat Berlian tertawa terbahak-bahak, karena merasa puas dengan momen pembalasan dendamnya pada Angkasa.
"Jadi, Berlian ...." Kepala Terakhir mengangkat suara.
__ADS_1
Berlian yang faham dengan hal itu, lantas mengacungkan kedua jempolnya, lalu segera menuju kamar untuk menyalakan lappy-nya.