Bidadari Untuk Daddy

Bidadari Untuk Daddy
Pelampiasan Erik


__ADS_3

Suara bel berbunyi dari arah pintu utama kala itu. Seorang pria yang tengah duduk menikmati belaian seorang wanita di pangkuannya menggeram kesal. Lantaran kegiatan asiknya harus terganggu dengan orang yang ia sendiri tidak tahu siapa yang datang.


"Biar aku yang buka pintunya." tutur wanita itu dengan langkah seksi mendekati arah pintu.


Erik yang melihat itu menaikkan alisnya sebelah menatap penuh nafsu hingga kesadarannya terusik saat mengingat jika dirinya dalam bahaya. Jangan sampai orang tua Erik yang datang saat ini. Segera pria itu pun berteriak memanggil wanita itu.


"Elena, berhenti!" teriaknya membuat Elena seketika menghentikan langkah dan menatap dirinya dengan tatapan penuh godaan.


"Masuklah ke kamar itu, biarkan aku yang membukanya." pintah Erik tanpa bantahan dan wanita itu berjalan mengikuti perintah pria arogan itu.


Segera Erik merapikan meja dan pakaiannya. Usai memastikan semuanya aman terkendali akhirnya ia pun membuka pintu kamarnya dengan wajah yang memerah menahan sesuatu di tubuhnya yang ingin segera di tuntaskan saat itu juga.


"Kau!" Ia menggeram kala melihat seorang wanita yang bersembunyi di balik punggung tegap pria bernama Gavin Erano.


Yah, Erik menyadari pria yang di hadapannya adalah pria yang sangat ia kenal. Wajah garang milik Erik seketika berubah hangat. Kepalanya menunduk sejenak untuk memberikan sapaan hormat.


"Selamat malam, Tuan. Sebuah kehormatan anda berkunjung ke rumah saya. Apa ada sesuatu yang bisa saya bantu, Tuan Gavin?" Senyuman lebar seketika mengembang di wajah Elis mendengar bagaimana halusnya bibir Erik berkata pada pria yang ia bawa kali ini.


Sungguh Elis ingin berteriak dan menjulurkan lidahnya sepanjang-panjangnya dengan pria yang sudah merenggut miliknya secara paksa.


"Mampus! Mampus! Baru nyahok kan lu. Ayo Tuan Gavin balaskan sakit kami pada pria ini!" batin Elis yang menatap penuh amarah pada Erik yang kini tampak sesekali menatapnya dengan tatapan yang penuh tanya.

__ADS_1


"Saya ingin bicara di dalam." jawab Gavin datar dan seketika Erik pun mempersilahkan masuk.


Beruntung saja ia kini sudah merapikan meja ruang tamu lebih dulu sebelum membuka pintu.


"Mari, Tuan. Silahkan Tuan, maaf saya tidak menyediakan apa-apa sebab anda datang tanpa memberi tahu saya." basa basi Erik berucap.


Gavin tak duduk dan hanya berdiri. Tentu saja Erik merasa kikuk melihat sikap Gavin yang kaku seperti ini. Dan pada akhirnya Gavin pun buka suara maksud tujuannya datang.


"Segera urus perceraianmu dengan Karlyn. Sebab saya ingin surat cerai itu ada pada saya dalam minggu ini." tutur Gavin yang tak ingin basa basi dan sukses membuat Erik mendadak membulatkan matanya terkejut. Sungguh rasanya ia seperti mimpi mendengar nama sang istri di sebut pria yang sangat ia kenal.


"A-apa? Menceraikan Karlyn? Tuan, ada apa ini? Dan..." belum sempat Erik bertanya untuk rasa penasarannya, Gavin kembali bersuara lagi.


"Ceraikan segera atau semua saham akan saya tarik?" ancaman yang membuat Erik tak bisa berucap lagi selain menganggukkan kepalanya.


Susah payah Erik menganggukkan kepalanya menyetujui permintaan Gavin kali ini. Bagaimana mungkin ia bisa menceraikan Karlyn, sementara wanita itu adalah wanita yang selalu membuatnya merasa puas. Namun, jika tidak menceraikannya. Nyawa perusahaan Erik pasti akan terancam. Dan ia tidak siap jika harus kehilangan perusahaan yang belum seberapa besar itu.


"Ba-baik, Tuan. Saya akan menceraikannya." Senyuman di wajah Elis semakin lebar bahkan kini ia tak takut lagi untuk menaikkan alisnya pada Erik seolah mengejek pria itu jika ia tak ada tandingannya dari pria yang di bawanya saat ini.


"Elis, ayo pulang. Dan untukmu, kabari aku secepatnya. Jika seminggu kau tidak bisa memberikan berkas perceraian itu aku akan turun tangan. Dan kau tahu, bukan hanya perceraian dan perusahan yang kau dapatkan. Tapi juga mendekam di jeruji besi tentunya." Usai mengatakan itu Gavin melangkah pergi bersama Elis di belakang layaknya ekor yang selalu membuntut.


Erik terdiam mematung mendengar ancaman yang tak pernah ia duga datang dari seorang Gavin. Sungguh ingin menolak namun tak ada daya lagi. Memastikan pintu tertutup dengan rapat, akhirnya Erik membali meja kaca yang di hadapannya hingga pecah berhamburan.

__ADS_1


"Argh! Brengsek!" umpatnya sangat kesal saat ini.


"Baby, ada apa?" tanya Elena yang keluar dari kamar buru-buru kala mendengar keributan dari arah luar.


Ragu-ragu ia menenangkan Erik. Tentu saja Elena tidak ingin kehadirannya berujung pulang denganĀ  tangan kosong. Ia harus mendapatkan uang bayaran yang Erik janjikan padanya tadi.


Mendapat sentuhan tangan di tubuhnya, sontak saja Erik menatap dalam netra mata wanita yang menggunakan softlens itu.


Kasar ia meraup bibir seksi milik Elena demi melampiaskan kemarahannya. Tangannya bukan lagi bergerak meremas dua bongkahan di tubuh depan Elena, melainkan sudah mencengkram begitu kuat. Tak perduli bagaimana Elena bersuara sakit namun tetap menikmati gairah yang ia dapatkan dari sosok Erik.


"Puaskan aku, Elena." Suara serak nan berat milik Erik membuat Elena menganggukkan kepalanya cepat.


Segera Erik membuka bibir wanita itu dan menyumpalnya dengan benda panjang miliknya. Tak perduli lagi, Erik dengan kasar mendorong miliknya hingga Elena yang terpenuhi mulutnya beberapa kali terbatuk tanpa bisa melepaskan benda panjang itu. Air matanya menetes sakit di tenggorokan tak tertahankan lagi. Erik terus mendorong hingga bibirnya pun terbuka sangat lebar.


Jangan lupakan tangan kasar Erik menjambak keras rambut panjang Elena, sungguh permulaan yang begitu menyakitkan bagi Elena. Sementara di atas sana Erik sudah bersuara sangat keras tanda ia begitu menikmati permainan ini.


"Cepat Elena, buka bajumu!" pekik Erik yang memerintah agar Elena segera melepaskan pakaian.


Namun, Elena menggelengkan kepala tak setuju. Ia takut jika tubuhnya turut akan merasakan sakit luar biasa. Pengalaman pertama bersama Erik sungguh membuat Elena ketakutan kali ini.


"Argh! Berani kau melawanku?" marah Erik menarik paksa dress wanita itu hingga robek tak berbentuk lagi.

__ADS_1


Tubuh polos Elena membuat Erik menelan salivahnya susah payah.


Tak sabar, segera Erik menghempas tubuh Elena di atas sofa. Ia benar-benar marah saat ini hingga cumbuan pun tak ada ia berikan pada Elena.


__ADS_2