Bidadari Untuk Daddy

Bidadari Untuk Daddy
Pamit Gavin


__ADS_3

Tepat jam sebelas malam akhirnya Erik pun tiba di rumahnya. Tentu dengan wajah yang kusut lantaran tak mendapat jalan apa pun. Kedatangannya ke rumah mertua justru berakhir dengan adu mulut sebab Tuan Willy tak setuju jika sang anak bercerai dari Erik.


"Ah sialan! Mengapa harus pria itu ikut campur? Siapa dia?" umpat Erik melepaskan kekesalannya.


Kali ini mau tidak mau ia harus segera mengurus perceraiannya dengan Karlyn. Sebab seminggu bukanlah waktu yang lama untuk Erik. Mengingat lumayan banyak uang yang ia berikan pada sang mertua serta pernikahan yang lumayan memakan biaya, sungguh rasanya Erik tak rela menceraikan wanita yang menurutnya benar-benar perfect untuk di atas ranjang.


Hingga malam semakin larut, dengan langkah gontai pria itu mengambil satu botol wine dan mulai menikmati malam yang sunyi seorang diri. Tidak dengan wanita-wanita bayaran yang siap menemani Erik. Ia memilih menenangkan pikirannya sendiri malam ini.


Sementara di tempat yang berbeda tampak wajah dua wanita yang sama-sama cantik namun berbeda paras tengah terlelap dengan tenang. Suasana kamar yang terang membuat sosok Gavin tersadar jika waktu sudah sangat malam. Tak sadar ia mendengarkan curahan hati sang anak tanpa tahu jika semua tengah terlelap.


Tatapan matanya beralih dari wajah cantik sang anak ke wajah cantik wanita yang masih menampakkan beberapa luka di wajahnya. Cantik, tenang, dan penuh kasih sayang, itulah yang Gavin lihat saat menatap dalam wajah Karlyn.


"Aku akan melepaskanmu dari pria brengsek itu. Aku berjanji akan membuat sisa hidupmu bahagia tanpa bisa kau ungkapkan." tutur Gavin tersenyum menatap Karlyn.


Pelan tangannya menyibak anak rambut yang menutup sebelah kelopak mata Karlyn. Ia tersenyum dan beralih mencium pucuk kepala sang anak. Bergegas turun dari ranjang pelan-pelan lalu menarik selimut untuk menutup dua tubuh wanita itu.

__ADS_1


Beberapa detik ia berdiri memperhatikan kembali dua wanita itu, Gavin sadar saat ini kebahagiaan yang Jesslyn inginkan benar sangat indah ketika ia dapatkan. Oleh sebab itu Gavin mantap dengan keputusannya untuk segera menikahi Karlyn. Namun, mengingat akan ada masa iddah seorang wanita usai bercerai, Gavin kembali memijat pelipisnya.


"Sebaiknya aku ke kamar saja memikirkan semuanya." ucap Gavin dengan perasaan bingung. Masa iddah tidaklah sebentar baginya yang ingin segera menikahi Karlyn.


Hingga akhirnya setiba di kamar, pria itu justru mendapatkan email di ponsel jika besok ia harus bergegas ke kota C untuk menghadiri peresmian salah satu perusahaan kolega bisnisnya yang terdapat saham ia tanam di sana juga.


Batal memikirkan masa iddah sang calon janda, kini Gavin justru memejamkan mata lelah dan mulai terbang ke alam mimpi yang siap menyambutnya dengan indah.


***


Namun, memikirkan keadaan usai acara ada pertemuan sekaligus dengan rekan bisnis, sunggu Gavin tak bisa mundur kali ini.


"Daddy, are you okey?" tanya Jesslyn menatap sang daddy yang tampak melamun saat sarapan.


Seketika Gavin pun tersenyum menganggukkan kepalanya. "Sayang, pagi ini Daddy harus berangkat. Apa kamu tidak keberatan Daddy tinggal bersama Tante Karlyn?" tanya Gavin di iringi tangan yang mengusap kepala anaknya.

__ADS_1


Semua duduk di meja makan saat ini. Karlyn dengan telaten menata makanan di piring Jesslyn tak lupa beberapa obat sudah ia siapkan untuk Jesslyn minum usai makan.


Kini pandangan Gavin pun beralih pada Karlyn yang tengah duduk di samping sang anak. "Karlyn, saya harus pergi. Apa kau bisa saya percaya menjaga Jesslyn selama saya pergi?" pertanyaan Gavin secepat mungkin Karlyn jawab.


"Saya siap, Tuan. Jesslyn akan saya jaga sebaik mungkin. Saya akan usahakan yang terbaik untuk Nona Jesslyn, Tuan." anggukan kepala Gavin terlihat setelah Karlyn berucap.


"Dad, jangan khawatir. Jess senang bersama Tante. Lagi pula bukankah memang seperti itu jika seorang suami pergi bekerja keluar kota, anak dan istrinya akan menunggu dengan baik kepulangannya di rumah. Dan sekarang biarkan Jess merasakan apa yang teman-teman Jesslyn keluhkan saat di sekolah, Daddy." Elis yang mendengar celotehan anak itu terkekeh tanpa suara.


Ia mendukung setiap kata yang Jesslyn lontarkan sebab dengan begitu rasa pasti akan timbul sendirinya di hati Karlyn mau pun Gavin.


"Yasudah kalau begitu. Daddy akan segera berangkat. Ingat jangan keluar dari gerbang rumah selama Daddy tidak ada. Karlyn, bermain di halaman rumah saja jangan keluar gerbang. Sebab Erik pasti akan tahu rumah ini dan akan tahu di mana saya berada saat ini. Tentu itu akan sangat bahaya untuk mu dan juga Elis." penuturan Gavin barusan membuat Karlyn mengangguk.


"Baik,Tuan saya mengerti." jawab Karlyn apa adanya.


Usai sarapan bersama dan memastikan sang anak telah minum obat dengan baik, kini Gavin sudah berdiri di halaman rumah dengan Jesslyn yang di dorong oleh Karlyn melihat kepergian sang daddy. Senyuman di wajah anak kecil itu terukir lebar. Tak ada kesedihan di wajahnya saat sang ayah tak lagi bersamanya untuk hari dan malam ini.

__ADS_1


__ADS_2