Bidadari Untuk Daddy

Bidadari Untuk Daddy
Pernikahan Rachel


__ADS_3

Tumpukan undangan yang siap di sebar kini berantakan usai Rachel menghamburnya. Air mata wanita itu menetes melampiaskan kekecewaannya.


Pria yang hampir saja sah menjadi pendamping hidupnya, menjadi pengganti sosok Gavin kini hancur semua.


“Kenapa kamu mengkhianati aku? Kenapa?” Rachel menggeretakkan giginya tak kuasa menahan amarah. Wajahnya tampak berantakan.


Rachel berbaring sejenak hingga tangisnya terhenti mendengar suara dering ponsel. Nama yang tertera tampak honey di beri emotikon love. Tak ada niat sama sekali untuk Rachel bicara lagi.


Sudah sakit sekali rasanya melihat kekasihnya berciuman di foto yang entah siapa mengirimnya.


Merasa tak memiliki siapa pun lagi, Rachel kembali bergegas menuju kediaman Karlyn. Ia ingin mencari penenang di saat hancur seperti ini.


***


“Sayang, sudah mandi?” Gavin datang dari kantor di sore harinya.


Rasanya begitu senang melihat sang istri tampak segar menyambut kepulangannya.


Karlyn tersenyum sembari menganggukkan kepala. “Baru saja selesai mandi. Papah mau mandi sekarang juga?” Gavin menganggukkan kepala mendengar pertanyaan sang istri.


Baru saja keduanya hendak masuk ke rumah, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti dan turun Rachel dari dalam sana.


“Karlyn!” Panggilnya dengan berjalan cepat.

__ADS_1


Rachel yang hatinya tengah gusar tampak tak perduli dengan keberadaan Gavin. Ia menyikirkan tangan pria itu dan memeluk tubuh Karlyn.


“Hel, ada apa?” Karlyn mengusap punggung tubuh Rachel.


Mendengar bagaimana Rachel terisak dalam pelukannya, sungguh Karlyn dan Gavin sama-sama bingung. Keduanya tampak saling pandang mendengar bagaimana isakan pilu itu.


Tubuh Rachel bahkan sampai bergetar. Matanya banjir dengan air mata.


Beberapa waktu berlalu, barulah Rachel melerai pelukannya. Ia menatap nanar wanita di depannya yang pernah ia benci.


“Pertunangan itu batal. Aku memutuskan untuk hidup sendiri selamanya, Karlyn.” Rachel mengadu pada Karlyn sembari memeluk tubuhnya lagi menangis di sana.


“Hel, ada apa? Apa yang terjadi?” Kini Karlyn pun bertanya.


Gavin menganggukkan kepala seolah memberi tahu sang istri untuk membawa Rachel masuk ke dalam rumah.


Tahu jika privasi wanita tak layak untuk ia dengar, Gavin memilih pamit untuk menuju kamarnya.


“Aku ke kamar dulu,” ujar Gavin pamit dan Kalryn pun mengangguk setelah keningnya mendapat kecupan sang suami.


Di ruang tengah dua wanita itu tampak saling duduk bersampingan. Beberapa kali Karlyn mengusap lengan Rachel untuk menenangkannya.


“Ada apa? Sudah bisa cerita kan?” tanyanya menatap Rachel.

__ADS_1


Hingga Rachel pun menceritakan masalah yang tengah ia hadapi. Dimana nomor asing mengirim gambar padanya. Bahkan beberapa kali sang kekasih menghubungi, Rachel sama sekali tak berniat untuk bicara.


Sejenak Karlyn berpikir mencerna ucapan Rachel.


“Pertunangan itu hampir sama dengan pernikahan. Dimana hari yang bahagia itu akan mendapatkan cobaan yang besar. Bahkan banyak yang tidak bisa lolos dengan ujain itu. Coba tenangkan dulu pikiranmu. Bicarakan semua baik-baik. Cari kebenarannya. Setelah kebenaran jelas baru boleh mengambil keputusan.”


Rachel menunduk mengusap air mata mendengar ucapan Karlyn. Ia sadar jika dirinya sudah dewasa dan sepatutnya mengambil keputusan dengan bijak.


***


Sejak saat itu pula Rachel bahkan merubah keputusan setelah tahu jika ada orang yang memang tidak suka dengan hubungannya bahkan menjebak sang kekasih untuk mendapatkan foto itu.


Hari ini tepat dimana waktunya Rachel menggelar acara yang mulanya adalah pertunangan justru menjadi acara pernikahan.


Senyumanya merekah bersama sang suami berdiri di depan menyambut para tamu yang datang.


Karlyn datang dengan Gavin, keduanya turut bahagia melihat Rachel yang sudah berhasil melewati tantangan pernikahannya.


“Selamat yah, semoga bahagia selalu.” ujar Karlyn memeluk tubuh Rachel dan di balas pelukan juga oleh Rachel.


“Terimakasih yah, Karlyn. Berkatmu pernikahan ini terjadi. Aku benar-benar berhutang budi denganmu.” tuturnya.


Gavin dan Karlyn bergandengan turun usai mengucapkan selamat. Sementara Rachel begitu lebar tersenyum menatap sang suami di sampingnya.

__ADS_1


Pria yang hampir saja ia batalkan untuk menempuh ke jenjang lebih serius.


__ADS_2