
Waktu berjalan seiring kesibukan seorang wanita yang kini tengah memulai karirnya di tanah air sebagai desainer berlian, akhirnya usai. Hari libur yang ia nantikan telah tiba. Hari minggu tentu saja menjadi hari yang paling di idamkan semua orang termasuk Rachel.
Di depan cermin hias, tampak wanita itu memoles lipstik berwarna merah muda segar di sertai lipglos yang menambah kesan seksi pada bibir miliknya. Senyuman mengembang tatkala matanya melihat kesempurnaan di wajah serta tubuhnya.
“Oke semua belanjaan untuk Jesslyn sudah siap. Sekarang waktunya aku datang mengunjunginya.” tuturnya membawa beberapa mainan baru serta makanan yang sudah ia pesan sedari kemarin.
Melajukan mobil dengan bersenandung ria, Rachel tampak begitu bersemangat kali ini. Beberapa menit ia gunakan untuk berkendara hingga akhirnya security di depan sana membuka gerbang rumah yang dulu pernah ia tinggali.
Yah, Rachel memang memilih pergi dari rumah itu untuk menyenangkan dirinya dan meninggalkan anak dan suami. Namun, kali ini tanpa di minta kembali. Justru ia sendiri yang datang meski tahu kedatangannya selalu mendapat perlakuan dingin dari sang pemilik rumah.
“Maaf Nyonya…” sang security berlari mendekati Rachel.
Kening wanita itu mengernyit melihat pria di depannya. “Ada apa?” ketusnya bertanya.
__ADS_1
“Em apakah Tuan tidak memberi tahu anda jika mereka sedang pergi?” tanya security itu seketika membuat Rachel menggeleng heran.
“Pergi? Pergi kemana? Apa ke rumah sakit lagi?” tanyanya mulai menebak. Namun Rachel pun melihat pria di depannya menggeleng.
“Tuan dan Nona Jesslyn serta istrinya pergi berlibur ke swiss, Nyonya.” ujar pria itu membuat Rachel terdiam seketika.
Tubuh Rachel lemas mendengarnya. Ingin mengunjungi sang anak dengan harapan bisa memiliki waktu bersama Gavin, nyatanya ia tak akan pernah lagi mendapat celah itu. Hubungan Gavin dan Karlyn pun sepertinya semakin erat semakin kesini. Dengan pandangan lemas, Rachel mengalihkan pikirannya.
“Yasudah, saya titip ini untuk Jesslyn. Tolong berikan saat dia pulang nanti.” tuturnya dan kemudian masuk ke dalam mobil untuk pergi dari rumah itu.
Sedangkan di dalam pesawat, tampak beberapa kali Karlyn memeriksa keadaan Jeslyn. Suhu pendingin yang sangat terasa membuatnya menghampiri Jeslyn.
“Jess, ini pakai jaket mommy. Kamu mau minuman hangat?” tanya Karlyn penuh dengan perhatian.
__ADS_1
Mendapat perlakuan sayang itu, Jesslyn tersenyum menatap dua manik mata Karlyn. “Mommy benar-benar manusia kah?” Pertanyaan Jesslyn membuat Karlyn kaget. Tak mengerti pertanyaan itu tertuju pada pembahasan apa sebenarnya.
“Maksud kamu?” tanya Karlyn.
“Jess merasa mommy bidadari seperti di dongeng. Cantik dan baik, tapi kenapa mommy tidak punya selendang atau sayap seperti ibu peri?” celetuk bocah itu sukses membuat Karlyn dan Gavin terkekeh bersama.
“Sayang, istirahatlah. Biar mommy kamu yang mengurusmu. Jangan banyak bangun, nanti sampai di swiss kamu kelelahan dan tidak bisa bermain.” celetuk Gavin yang sejujurnya sangat khawatir akan keadaan sang anak.
Jesslyn patuh, “Baik, Daddy. Mom, Jess pegang tangan mommy yah?”
Tanpa menolak Karlyn hanya menganggukkan kepala saja. Ia menatap wajah tedu bocah menggemaskan ini. Rasanya dadanya begitu sesak membayangkan bagaimana jika mereka menghadapi kepergian Jesslyn nanti? Tidak, Karlyn tak siap menghadapi hari itu.
Hingga tanpa di sadari air matanya menetes menatap Jesslyn yang sudah mendengkur halus pertanda bocah itu tengah tertidur nyaman. Genggaman di tangannya pun kian melonggar. Tak ingin mengecewakan, Karlyn berinisiatif bergantian menggenggam tangan mungil milik sang anak.
__ADS_1
“Ssst sssst! Panggil Gavin memberi kode pada sang istri. Karlyn menatap suaminya. Dan Gavin hanya melambaikan tangan pertanda untuk Karlyn tidak boleh menangis sembari menunjuk bawah matanya sendiri. Secepat kilat Karlyn mengusap air matanya.
“Tuhan, aku bersyukur mendapatkan istri sepertinya. Aku mohon jangan biarkan hariku sepi dengan kepergian anakku. Berikan keajaiban untuk Jesslyn.” ucap Gavin dalam hati berdoa sungguh-sungguh.