
Sesuai rencana di sinilah Gavin dan Karlyn berada. Keduanya tampak menunduk membaca doa di depan gundukan tanah yang tak lain adalah makam si kecil Jesslyn. Sedih terasa kembali merasuk ke dalam dada Karlyn mau pun Gavin. Bocah yang kerap kali menjadikan suasana pecah dan bahagia kini sudah berganti menjadi suasana sedih, hanya timbunan tanah yang bisa mereka lihat.
Bayangan senyum wajah Jesslyn di gundukan tanah tak mampu membuat air mata Karlyn tertahan. Ia meneteskan air mata kesedihan itu. Sumpah demi apa pun ia begitu merindukan sosok Jesslyn.
“Mommy rindu, Nak. Mengapa waktu kita bersama begitu singkat? Seandainya ada wakti sedikit lebih banyak, Mommy akan lakukan banyak hal bersama kamu.” lirih Karlyn berucap.
Begitu pun dengan Gavin yang meneteskan air mata memegang nisan sang anak. Ingin sekali rasanya tubuh kekar itu menghangatkan tubuh Jesslyn yang sering kedinginan.
“Daddy merasa kehilangan kamu, Jess. Anda Daddy bisa membeli waktu ingin sekali Daddy menambah waktu kita sedikit lebih lama. Sekian lama Daddy merawat kamu, rasanya masih kurang untuk Daddy. Rumah terasa begitu sepi, sayang. Daddy ingin sekali memeluk kamu, Jess.” Gavin memejamkan mata sejenak menahan dadanya yang kian terasa sesak.
Pria itu beralih memeluk tubuh sang istri, hingga tangis pun kembali pecah. Gavin sungguh tak kuasa menahan kesedihan tiap kali mengingat sosok anaknya.
__ADS_1
Penyesalan kian mendalam, mengingat di sisa akhir napas Jesslyn. Ia pun tak sanggup mempertahankan pernikahannya bersama Rachel demi kebahagiaan sang anak. Hingga keberuntungan ia dapatkan kala kehadiran Karlyn di tengah-tengah mereka.
“Pah, jangan seperti ini. Jesslyn akan sedih.” Pelan Karlyn mengusap punggung suaminya. Ia mengusap air mata yang kian deras mendengar betapa pilu tangis Gavin saat ini.
Pria itu bahkan sampai sesenggukan merasakan sakit mendalam. Beberapa menit tangisan menghiasi pemakaman pagi itu, akhirnya Gavin terdiam. Ia melepaskan pelukannya di tubuh sang istri dan menatap kembali makam sang anak.
“Jess, Daddy sudah bahagia saat ini bersama Mommy Karlyn, Mommy pilihan kamu. Jesslyn bahagia kan? Daddy bahagia dengan pilihan Jess. Terimakasih, Nak. Di sisa waktu bahkan Jesslyn masih memikirkan kehidupan Daddy. Kamu benar-benar anak yang baik. Sayang Tuhan lebih sayang dengan Jesslyn hingga waktu kita begitu singkat di dunia ini. Terimakasih, Sayang. Daddy akan selalu mengingat kamu dan mencintai kamu.” Gavin mencium penuh kasih nisan yang bertuliskan nama sang anak.
“Terimakasih untuk semuanya, Jess. Terimakasih untuk amanah yang kamu beri pada Mommy. Mommy janji akan bahagiakan Daddy Jess, Mommy akan mencintai Daddy lebih dari apa pun. Semua untuk kamu, Nak. Mommy dan Daddy sangat menyayangi Jesslyn.”
Merasa puas menumpahkan kerinduan, keduanya pun beranjak pergi dari pemakaman itu. Gavin dan Karlyn memilih untuk pulang ke rumah. Selama di perjalanan suasana begitu hening.
__ADS_1
Keduanya larut dalam kenangan sosok Jesslyn. Meski sudah beberapa waktu kepergian anak kecil itu, namun sosok Jesslyn terasa masih begitu dekat dengan mereka.
“Minggu depan kita liburan yah?” Tiba-tiba saja Gavin berkata dan mengejutkan Karlyn.
Sontak wanita itu menoleh ke arah sang suami.
“Papah?”
Gavin tersenyum dan mengangguk melihat wajah kaget sang istri.
“Kita akan liburan berdua dan memulai semuanya. Aku janji akan terus bahagia dan semangat. Sudah cukup sedihku saat ini.” Karlyn hanya bisa tersenyum memeluk sang suami.
__ADS_1