Bidadari Untuk Daddy

Bidadari Untuk Daddy
Dongeng Di Masa Kecil


__ADS_3

Menunggu hingga malam, rasanya kantuk tidak dapat lagi tertahan. Untuk kesekian kalinya harapan Jesslyn sirna melihat sang mommy yang tak kunjung tiba usai mengatakan janji yang ia berikan pada anaknya.


Tok tok tok


Ketukan pintu terdengar tiba-tiba menyapa pintu ruang rawaj bocah yang sedari tadi kekeuh menahan matanya.


“Itu pasti mommy kan, Dad?” tanya Jesslyn bersorak girang pada sang daddy. Nyatanya saat pintu terbuka lebar, wajah Jesslyn berubah sendu.


“Kok Tante Karlyn? Bukan mommy, Daddy.” ujarnya menunduk menahan air mata yang hendak jatuh.


Tak perduli bagaimana sang mommy selalu membuatnya kecewa, nyatanya anak tetaplah akan berharap pada orang yang telah melahirkannya. Sayang, kepergian Rachel berjanji membelikan mainan justru tak kunjung kembali.


“Tuan, ini pakaian yang anda minta serta perlengkapan mandi.” ujar Karlyn mendekati ranjang dimana Jesslyn dan juga Gavin tampak duduk bersama.


Samar Jesslyn melihat Karlyn tersenyum. “Sayang, bagaimana kabarmu? Maafkan Tante yah, Jess.” ujar Karlyn takut-takut mendekat.


Sebab suasana seketika hening. Bahkan Gavin tampak menahan kekesalan di sana.


“Tidak. Tante tidak perlu meminta maaf. Jess baik-baik saja, Tante. Tante jangan pulang yah? Jess kesepian…” tutur bocah itu membuat Karlyn sontak menatap wajah Gavin yang hanya diam seribu bahasa saat ini.

__ADS_1


Pelan ia pun mengangguk saat tak mendapati respon dari Gavin. Jujur saja, pria itu ragu meminta Karlyn pulang ke rumahnya. Sebab, sang anak sedari tadi mengeluh kesepian. Dan sebagai daddy yang baik pun rupanya tak cukup bagi seorang Jesslyn. Ada banyak hal yang tak bisa daddy lakukan untuknya. Salah satunya adalah bermain barbie dan membaca dongeng untuknya.


“Tinggallah di sini temani Jesslyn.” Akhirnya setelah sekian lama bungkam, Gavin angkat suara.


Menimbang jika Rachel tengah membuat sang anak kecewa, rasanya tak pantas jika Jesslyn menunggunya kembali.


“Baik, Tuan.” jawab Karlyn patuh.


Melihat Karlyn duduk bersama Jesslyn, ia pun memilih duduk di sofa sudut ruangan itu. Menyandarkan kepala dan memejamkan mata melepas penat di tubuhnya.


“Sudah sangat malam, Tante bacain dongeng yah?” ajak Karlyn yang seketika mendapat anggukan dari Jesslyn.


Ia tinggal hanya berdua bersama sang anak. Setiap hari ia membawa sang anak berjualan di pasar. Sayangnya, setiap kali berjalan. Sang anak tidak pernah mau berjalan berdampingan dengan sang ibu…


Bahkan setiap kali ada pria yang bertanya, si anak selalu menjawab jika wanita yang berjalan di belakangnya adalah pembantunya. Yah, semua tentu saja percaya. Sebab si anak selalu tampil cantik dan anggun. Berbeda dengan sang ibu yang selalu berpakaian compang camping.


Meski tubuhnya tak terawat, penampilannya sangat menyedihkan, baginya kebahagiaan sang anak adalah yang utama. Berbanding terbalik dengan perasaan sang anak. Yang masa bodoh dengan sang ibu dan utama adalah dirinya.


Berkali-kali ia mengakui pada semua yang bertanya jika wanita di depannya adalah pembantunya, hingga pada akhirnya si ibu sakit sekali hatinya. Ia memilih membiarkan sang anak berjalan di depannya. Tiba-tiba saja sang ibu memasuki sebuah gua yang terlihat tanpa sengaja oleh si anak.

__ADS_1


“Hei apa yang kau lakukan? Cepatlah sini. Aku sudah sangat lapar!” Si anak berteriak memanggil ibunya yang terus berjalan memasuki gua.


“Apa kau tuli, anakmu lapar! Cepat keluarlah dan pulang.” Ia terus berteriak tanpa perduli sakit di hati sang ibu di perlakukan seperti pembantu.


“Pulanglah, Nak. Ibu sudah tidak kuat. Bahagialah hidupmu tanpa harus malu mengakui aku sebagai ibumu. Aku akan pergi tanpa kau minta lagi.” Usai mengatakan itu si ibu tampak berjalan kembali dan membuat si anak perlahan panik.


Bagaimana jika ia benar di tinggal seorang diri? Bagaimana jika tidak ada yang merawatnya lagi? Bagaimana jika tidak ada yang perduli padanya lagi?


Hingga air matanya mulai menetes saat rasa panik menyerangnya. Di depan sana jelas ia melihat sang ibu sudah tidak nampak lagi. Goa kecil yang di masukinya sudah tertutup.


“Ibu! Ibu! Jangan ke sana kembalilah, Bu! Ibu aku mohon keluarlah.” Gadis itu terus menangis hingga memukuli mulut goa itu.


Berjam-jam ia duduk menunggu goa itu terbuka kembali, hingga satu malam ia tidur menunggu sang ibu keluar. Seminggu ia bolak balik datang, goa itu masih tertutup.


“Pada akhirnya…”


“Jesslyn sudah tidur.” Ucapan dari Gavin membuat Karlyn menatap bocah yang tidur memeluk tangannya sebelah.


“Dongengmu bagus. Sejak kapan kau menghapal sampai bisa bercerita tanpa buku?” celetuk Gavin membuat Karlyn gugup seketika.

__ADS_1


“Itu dongeng sewaktu kecil, Tuan.”


__ADS_2