Bidadari Untuk Daddy

Bidadari Untuk Daddy
Pengaruh Buruk


__ADS_3

“Cepat pergi dari sini dan jangan pernah ganggu yang bukan kehidupan kamu!” Pelan namun penuh penekanan. Gavin menuturkan setiap katanya pada Rachel.


Mendengar hal itu kedua manik mata Rachel berkaca-kaca. Gavin tak pernah sekasar ini padanya. Pikirannya mulai berkelana. Apakah semua ini karena wanita asing itu?


“Gav, aku mohon. Aku ingin kembali. Aku ingin menjadi mommy yang baik untuk Jess. Aku pulang demi kalian.” mohonnya meneteskan air mata.


Tentu saja setelah semua yang ia lakukan, Gavin sama sekali tidak bisa mentolerir apa pun itu. Ingatannya sangat jelas saat melihat bagaimana sang anak memanggil mommynya. Dan Gavin berulang kali pun memohon untuk Rachel datang. Sayang, wanita itu terlalu keras dengan pendiriannya. Tanpa mau memikirkan siapa yang membutuhkan dirinya.


“Aku bilang pergi, pergi Rachel. Pergi dari sini!” Teriak Gavin tak bisa menahan diri lagi.


Hingga tiba-tiba terdengar suara dari dalam ruangan sang anak.


“Tuan, Nona Jesslyn sudah sadar. Apakah anda mommynya?” Pertanyaan dari sang dokter membuat napas Gavin seketika lega. Namun setelah itu ia turut menatap Rachel yang menganggukkan kepala.


“Iya, Dokter. Benar, saya mommynya.” jawab Rachel dengan wajah antusiasnya.

__ADS_1


Segera dokter pun memberi tahu jika di dalam, pasien sedang memanggil sang mommy. Tanpa minta izin terlebih dahulu, wanita itu berlalu ke ruang sang anak. Gavin yang semula keras mendadak tak bisa melakukan apa pun. Ia benar-benar muak melihat wanita yang tiba-tiba datang kembali.


Rasanya Gavin ingin menarik kembali pikirannya yang sempat tergerak untuk meminta Rachel kembali demi sang anak. Saat ini keadaan telah berpihak padanya, namun sesuatu jelas Gavin rasakan.


“Sebenarnya apa yang membuatnya kembali lagi? Dia bukan wanita seperti ini yang perduli dengan Jesslyn.” gumam Gavin bertanya-tanya perihal kedatangan sang mantan istri.


Hingga akhirnya Gavin tersadar dan ikut masuk ke dalam ruangan. Disana Jesslyn tersenyum bahagia meski wajahnya tampak pucat. Khawatir tentu saja Gavin rasakan.


“Jess,” panggilnya lirih.


Sementara yang Rachel lakukan hanyalah mengusap kepala sang anak. “Jessy happy?” tanyanya.


Anggukan Jesslyn perlihatkan segera. “Mommy juga happy lihat Jess happy.” lanjut Rachel mencium kening sang anak.


Gavin hanya diam melihat pemandangan itu. Ia tak bisa melakukan apa pun di depan sang anak.

__ADS_1


Hingga beberapa saat keadaan hening. Jesslyn mencari sesuatu. Keningnya mengernyit menatap sudut ruang rawatnya saat ini. Berhubung keadaannya kembali drop, mau tak mau pihak rumah sakit kembali membawa Jesslyn ke ruang rawat.


“Dad?” Suaranya membuat Gavin mendekat dan menatapnya penuh tanya.


“Ada apa, Jess? Apa yang sakit, Sayang? Katakan pada Daddy biar Daddy beri tahu dokter.” ujarnya penuh rasa khawatir yang berlebih.


“No, Dad. Bukan sakit, mana Tante Karlyn?” Tatapan mata Rachel yang semula penuh dengan kemenangan mendadak sirna berganti dengan tatapan benci.


“Sayang, untuk apa mencari dia? Ada mommy di sini. Dia itu orang jahat.” Kening Gavin mengkerut mendengar bagaimana sang istri mempengaruhi anaknya dengan hal yang tidak baik.


“Hel, jaga bicaramu!” peringat Gavin.


Sayang Rachel menanggapi dengan membuang pandangan masa bodoh. Berbeda dengan Jesslyn yang sudah tampak sedih.


“Tante Karlyn bukan orang jahat, Mom. Tante Karlyn orang baik. Jesslyn ingin Tante ada di sini bacain dongeng dan main sama Jess.” celetuknya dengan polos.

__ADS_1


__ADS_2