Bidadari Untuk Daddy

Bidadari Untuk Daddy
Kedatangan Erik Ke Rumah Mertua


__ADS_3

Air mata yang membasahi wajah cantik Elena kini membuat wanita itu tak sanggup bangun. Sakit di seluruh tubuh luar mau pun dalam membuatnya hanya bisa berbaring di sofa dengan tubuh yang beberapa terlihat tampak luka bahkan memar. Mata sembab dan rambut yang acak-acakan tak ada sedikit pun rasa iba di hati Erik.


"Ini bayaranmu. Aku ingin ke kamar." Erik melempar satu buah amplop berisi uang cash lalu ia pergi ke kamarnya.


Isakan Elena yang terdengar semakin lirih akhirnya membuat wanita itu tanpa sadar memejamkan mata terlelap di sofa.


Sementara di tempat yang lain kini tampak Karlyn bersama Jesslyn duduk di meja makan dengan kedua mata yang saling berpandangan.


"Tante, kok Daddy lama banget yah?" tanya Jesslyn melihat pintu rumah tak kunjung juga ada sang daddy.


Karlyn pun tampak menghela napas kasar, ia pun tidak tahu kemana pria duda itu pergi bersama Elis. Hingga akhirnya ia pun tersenyum saat mendapatkan ide.


"Gimana kalau Jesslyn makan sedikit dulu. Yang penting minum obat, setelah itu tunggu Daddy baru makan yang banyak." ujarnya mendapat gelengan kepala cepat dari Jesslyn.


Anak kecil itu kekeuh ingin makan bersama Daddy dan Tantenya.


"Tidak, Tante." jawabnya terhenti saat mendengar suara mobil sudah memasuki halaman rumah denganĀ  suara gerbang yang bergeser tertutup kembali.


Sontak saja senyum di wajah Jesslyn dan Karlyn mengembang serentak. Akhirnya Karlyn tak perlu lagi membujuk sang nona untuk makan, sebab pawangnya telah tiba.


"Sayang, sudah makan?" Pertanyaan Gavin tiba-tiba saat ia baru memasuki rumah melihat sang anak duduk di meja makan sembari bertopang dagu dengan kedua tangannya.


"Nona Jesslyn tidak mau makan jika Tuan belum datang." jawab Karlyn yang membuat Gavin tersenyum dan mengecup puncak kepala sang anak. Ia tahu Jesslyn sangat ingin makan bersamanya dan juga Karlyn.


Segera Gavin meminta Elis membawakan jas miliknya dan duduk di samping sang anak. "Ayo sekarang kita makan. Daddy sudah ada dan Tante juga sudah ada. Jesslyn senang?" tanya Gavin di sambut dengan anggukan kepala oleh anaknya itu.


"Elis habis itu pergilah makan bersama kami." pintah Gavin dan Elis mengangguk patuh.

__ADS_1


"Baik, Tuan." jawabnya.


Malam pun tampak tenang, seperti suasana di meja makan kini ketiga orang itu tengah makan bersama di tambah Elis yang kini ikut bergabung. Meski tak enak, namun ia tidak bisa menolak sebab sang tuan telah memberinya perintah.


"Dadd, habis nonton Jess mau di temani tidur dengan Tante dan juga Daddy. Boleh kan?" tanya Jesslyn membuat Gavin dan Karlyn saling pandang tak bisa bicara.


Ingin menolak tak kuasa melihat wajah kecewa Jesslyn, hingga pada akhirnya keduanya mengangguk serentak.


"Boleh, Tante dan Daddy akan menemani Jess tidur. Iya kan Tante Karlyn?" tanya Gavin menatap Karlyn yang di ikuti oleh Jesslyn.


Tentu saja Karlyn tak bisa menolak selain menganggukkan kepalanya ragu. "Iya, Jesslyn." jawabnya.


"Yeeee asik malam ini di temani tidur sama Tante dan Daddy. Jess senang banget rasanya seperti punya orangtua lengkap. Semoga besok-besok Tante dan Daddy jadi orangtua lengkap Jess, Ya Allah." doa polos anak kecil itu tak terduga.


Elis yang menjadi pendengar hanya terkekeh melihat wajah kikuk dua orang yang di jodohkan dalam doanya.


***


Menghabiskan waktu dengan tidur, kini tepat pada jam sembilan malam. Erik baru keluar kamar dengan keadaan tubuh yang sudah segar. Pria itu melirik ke arah sofa, seketika bibirnya tersenyum sinis melihat sofa bekas pergulatannya sudah tak ada orang di sana. Itu artinya Elena sudah pergi dari rumahnya entah kapan.


"Cih dasar pelac*r." umpatnya seraya bergegas pergi dari rumah melajukan mobil.


Singkat cerita perjalanan yang memakan waktu setengah jam akhirnya mengantarkan Erik pada rumah berlantai satu tidak begitu besar. Ini adalah rumah kedua orangtua Karlyn.


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu membuat sepasang suami istri yang tengah menonton televisi menatap bersamaan ke arah pintu utama berdaun dua itu.

__ADS_1


"Siapa yah Pah?" tanya Mamah Yuki Alina.


"Coba di buka saja, Mah. Papah juga tidak tahu siapa yang datang semalam ini?" ujar Papah Willy David.


Merasa penasaran, akhirnya Mamah Yuki berjalan membuka pintu rumahnya dan betapa terkejutnya ia melihat sang menantu berdiri di depan pintu dengan wajah yang tampak kusut.


"Erik, ada apa? Mana Karlyn? kok..." belum sempat Mamah Yuki bertanya lebih detail, Erik dengan lancangnya sudah berjalan melewati sang mertua perempuan.


Yah, merasa dirinya berkuasa atas semuanya, sang mertua pun tidak bisa ia hormati lagi. Bahkan pernikahannya dengan Karlyn pun atas dasar paksaan Erik pada kedua mertuanya yang tidak bisa menolak. Melihat perlakuan tidak sopan sang menantu, Mama Yuki hanya bisa menghela napas sebab mereka pun memang tidak bisa melakukan protes apa pun.


"Erik," sapa Papah Willy yang langsung berdiri menyambut sang menantu.


"Pah, aku harus menceraikan Karlyn, Pah. Aku tidak bisa lagi mempertahankan pernikahan kami." tutur Erik tanpa bersapa ria sebelum mengutarakan niatnya datang.


Wajah Mamah Yuki dan Papah Willy sontak sama-sama terkejut.


"Bercerai? A-apa yang terjadi? Apa Karlyn melakukan kesalahan? katakan pada kami, Erik. Biarkan Papah yang memberinya pelajaran." ujar Papah Willy tak terima sang anak harus mengakhiri pernikahannya saat ini.


"Pernikahan kami harus berakhir sebab Tuan Gavin Erano, Pah. Papah tentu tidak asing dengan nama itu." ujar Erik tanpa basa basi.


"Apa? Tuan Gavin? Bagaimana bisa pria itu yang menyebabkan ini semua? Erik, katakan apa yang bisa Papah bantu?" tanya Papah Willy berusaha untuk membuat sang menantu tenang dan membatalkan niat cerai itu.


Bahkan mereka pun tak perduli lagi dengan keadaan sang anak yang sungguh menyedihkan.


"Meski Papah dan Mamah yang mengusahakan. Semuanya percuma, Tuan Gavin tidak akan mau menerima. Ia ingin aku dan Karlyn pisah, entah aku pun tidak tahu apa hubungan mereka. Yang jelas perusahaan ku dan diriku yang akan mendapatkan resiko jika tidak segera menceraikan Karlyn."


"Erik, bukankah kau begitu menginginkan Kalryn? mengapa semudah..." belum sempat Papah Willy menyelesaikan pertanyaan, Erik sudah lebih dulu menyela.

__ADS_1


"Perusahaan ku lebih dari segalanya, Pah. Bahkan Papah akan jauh lebih paham soal ini. Sebab Papah pun mengutamakan perusahaan Papah di bandingkan Karlyn, anak papah. Itu juga yang terjadi padaku, Pah." Telak. Papah Willy tidak bisa berkata apa pun lagi selain hanya bisa diam menatap sang istri.


__ADS_2