Bidadari Untuk Daddy

Bidadari Untuk Daddy
Segera Berakhir


__ADS_3

Berbagai prosesi pemakaman pun telah berjalan dengan baik meski tangisan dari sang ibu tak hentinya mengiringi. Rachel menangis dengan segala rasa penyesalan yang tertanam di hatinya. Berharap kepergian sang anak ke Swiss akan segera kembali dan membuatnya merubah segala yang telah terjadi, sayang Jesslyn tak menginginkan waktu untuk bersama sang mommy lagi.


Ia hanya menginginkan mengejar satu impiannya. Yaitu berada di negara yang paling mensejahterahkan hatinya dan ikhlas untuk pergi selama-lamanya.


“Tuan, pergilah. Nyonya Rachel butuh anda.” ujar Karlyn dengan penuh pengertian. Di saat sedih seperti ini ia tak boleh egois.


Di sana ada wanita yang tidak akan pernah bisa tergantikan posisinya sebagai ibu kandung Jesslyn. Dan pasti Jesslyn tenang melihat kedua orangtuanya berdamai.


Meski enggan, Gavin pun bergegas mendengarkan permintaan sang istri yang terdengar sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin sang istri meminta suaminya mendekati mantan istri? Yah itulah yang terjadi saat ini dengan Gavin dan Karlyn.


Melangkah dengan lunglai, Gavin akhirnya duduk di dekat sang mantan istri. Pelan tangannya menggenggam pundak Rachel. Di depan mereka jenazah sang anak tengah berbaring menutup mata.

__ADS_1


Tangisan dan isakan Rachel seketika semakin pecah kala ia menoleh melihat siapa yang datang menghampirinya.


“Gav, Jesslyn! Anak kita, Gav.” Ia menangis tersedu-sedu hingga tubuhnya rebah di dada bidang Gavin. Bukannya terhanyut dalam kesedihan sang mantan, kini sepasang mata Gavin justru bergerak ke arah Karlyn berada.


Pelan Karlyn memejamkan mata kemudian membuka lagi, seolah memberi isyarat pada sang suami semua baik-baik saja. Akhirnya dengan tangan kaku Karlyn melihat Gavin memegang dan menepuk pelan punggung Rachel.


Terisak tanpa henti hingga perjalanan ke makam pun wanita itu terus saja menangis.


“Jesslyn, kenapa kamu tinggalin Mommy? Mommy belum menebus semua kesalahan pada kamu, Jess?”


Di mobil yang berbeda tampak Elis mengusap punggung tangan Karlyn. “Nyonya, yang sabar yah?” ujarnya memberikan dukungan.

__ADS_1


Sebagai wanita ia pun paham tak ada istri yang rela suaminya bersama wanita lain. Namun, kali ini berbeda ceritanya.


Pelan Karlyn tersenyum. “Aku baik-baik saja kok. Mereka butuh waktu saat ini. Lagi pula dengan Jesslyn pergi, mungkin semuanya juga akan berakhir, Lis.”


Mendengar kata berakhir, kedua bola mata Elis membola sempurna. Ia syok membayangkan jika pernikahan kedua sang nyonya akan berakhir secepat itu.


“Nyonya, kok ngomongnya begitu? Kan nggak mungkin…”


Belum usai Elis berbicara, Karlyn menyela lebih dulu.


“Pernikahan kami hanya berdasarkan Jesslyn. Jadi, Tuan Gavin pasti akan segera mengakhiri ini semua, Lis. Lagi pula niat kita datang memang untuk bekerja, bukan? Sudahlah jangan di pikirkan terlalu berat.” Ucapan santai yang keluar dari bibir Karlyn nyatanya tak semudah itu.

__ADS_1


Di dasar hati yang terdalam, Karlyn merasakan sesak yang teramat saat membayangkan pernikahan keduanya juga berakhir dengan waktu yang singkat. Miris rasanya membayangkan ini semua, namun takdir sepertinya masih ingin menguji hidup wanita itu.


“Nyonya, pernikahan itu bukan dengan kepasrahan. Jika pernikahan tidak ada hal yang fatal mengapa harus menyerah? Tuan Gavin pria yang patut di perjuangkan, Nyonya.” ujar Elis bijak namun di sambut dengan kekehan Karlyn.


__ADS_2