Bidadari Untuk Daddy

Bidadari Untuk Daddy
Kedatangan Seseorang


__ADS_3

Selama di perjalanan beberapa kali Gavin tampak mengirim pesan pada Karlyn menanyakan apa yang Jesslyn lakukan bersama wanita itu. Dan Karlyn yang sudah memegang ponsel baru tentu saja siap mengirimkan laporan serta foto kegiatan Jesslyn hari ini.


"Ini Tuan, Jesslyn lagi menggambar. Katanya selagi bunga mataharinya mekar di depan rumah." Isi pesan dari Karlyn yang terlihat menyertakan foto sang anak tertawa ceria melihat lukisannya yang tidak begitu bagus.


Namun, Gavin sangat senang bisa melihat semangat dan wajah bahagia sang anak setelah sekian lama. Sadar akan waktu yang selama ini hanya ia gunakan untuk merawat tanpa tahu apa yang sang anak inginkan selain berjalan di taman. Gavin mengerti saat ini jika Karlyn benar wanita yang tepat untuk sang anak.


Tak terasa kepergian Gavin rupanya harus tertunda kepulangannya. Tiga hari pria itu mengurus beberapa masalah yang bersangkutan dengan perusahaannya. Hingga meminta maaf dengan Jesslyn ia terus lakukan di malam hari saat pekerjaan telah usai.


"Sayang, Daddy minta maaf sekali. Kamu pasti akan marah dan kesal karena Daddy harus pulang terlambat." tutur Gavin untuk malam ketiga.


Bukan wajah cemberut dan sedih yang Gavin lihat di wajah sang anak. Melainkan senyuman yang terus mengembang. "No, Dad. Jess baik-baik saja. Jess oke. Daddy bekerja saja untuk menikahi Tante Karlyn. Kelak Jess akan melihat pernikahan kalian yang ramai dan indah. Jess akan sabar menunggu Daddy pulang." ujarnya membuat Gavin terbengong.


Bukan hanya Gavin yang kikuk mendengarnya, tetapi Karlyn pun turut tercengang mendengar penuturan anak sekecil Jesslyn.


"Iya kan, Tante? Tante pasti akan cantik memakai baju princess di saat pernikahan nanti bersama Jess." tuturnya mengedipkan satu mata.


Merasa tak sanggup untuk meneruskan pembicaraan akhirnya Gavin memilih segera mengakhiri panggilan itu. Sementara Karlyn yang mendapatkan godaan dari Jesslyn kini bertambah malu saat Elis turut menggodanya.


"Wah calon Nyonya pasti rindu sama Tuan Gavin yah? sabar, biar nanti ketemu jadi berasa pengantin baru. Iya kan, Jess?" tanya Elis dan Jesslyn mengangguk tanpa tahu maksud ucapan Elis barusan.


"Memang pengantin baru itu rasanya gimana, Bi Elis? Apa enak? seperti kue pengantin?" tanya Jesslyn tak paham dan ingin tahu.

__ADS_1


"Sudah-sudah. Sekarang Jesslyn cuci kaki dan sikat gigi yuk." ajak Karlyn yang memilih untuk segera membawa Jesslyn menjauh dari Elis.


Malam itu mereka bertiga tidur dengan tenang di kamar masing-masing. Jam sepuluh malam Karlyn terbangun dan memilih pindah kamar. Sebab ia tertidur saat menemani Jesslyn tidur dengan membacakan sebuah dongeng anak-anak.


Setibanya di kamar, ia pun tampak melihat wajahnya di cermin. Meski tidak berdarah lagi namun luka di wajahnya membekas sangat jelas. Sungguh, sangat mengganggu penglihatan.


"Ya Tuhan, harus seperti apa biar segera hilang? Aku malu melihat wajahku seperti ini? Semoga setelah gajian nanti aku bisa membeli obat untuk menghilangkan noda hitam ini." ujar Karlyn penuh harap.


Beberapa saat wanita itu duduk menatap wajahnya dengan pandangan tak enak melihat hingga Karlyn memutuskan untuk segera tidur.


Tak terasa pagi sudah menyapa begitu cepat. Sesuai dengan janji Gavin. Hari ini ia akan pulang dan tiba sore harinya. Semangat Karlyn bangun begitu terlihat sampai Elis yang baru bangun sudah melihat wanita itu di jam setengah enam pagi tampak mengepel lantai rumah.


Tentu saja Elis wanita yang paling bahagia pagi ini, dimana pekerjaan terberat menurutnya adalah mengepel telah di gantikan oleh Karlyn.


"Kemarin calon Nyonya, hari ini mantan calon Nyonya, besok apa lagi, Elis?" kesal Karlyn yang tak suka dirinya di panggil dengan embel-embel Nyonya. Sebab ia merasa saat ini mereka berdua setara pekerjaannya.


Elis hanya menyengirkan giginya yang tidak seberapa putih itu.


Bekerja saling membantu pagi ini tampak tak terasa memakan waktu cukup lama. Namun sungguh tidak melelahkan sama sekali, sebab keduanya saling bercanda sembari bekerja. Elis memasak dan Karlyn mencuci pakaian. Hingga tanpa terasa waktu telah menunjuk angka setengah tujuh pagi.


"Lis, aku belum kelar cuciannya sekali lagi. Tapi yang lain sudah aku jemur. Tolong liatkan yah? Jesslyn sudah waktunya bangun dan mandi." tutur Kalyn bergegas untuk menuju kamar sang nona kecilnya.

__ADS_1


"Iya, calon Nyonya." jawab Elis yang hanya mendapatkan pelototan mata dari Karlyn sejenak lalu pergi dari sana.


***


Mentari yang semula masih belum tampak kini perlahan telah naik ke tempat peraduannya. Suasana sejuk kini mulai terasa panas seiring cahaya mentari yang semakin terik. Dan waktu sudah menunjukkan angka setengah sepuluh. Artinya segala aktifitas Jesslyn telah usai dari mandi, makan dan minum obat.


Kini Karlyn membawa Jesslyn bermain di depan ruang televisi. Di sana ia juga turut menemani Jesslyn bermain piano.


"Wah...hebat. Kamu pintar banget main pianonya, Jess. Tante saja tidak bisa seperti itu loh." puji Karlyn yang melihat keahlian Jesslyn dalam memainkan tuts piano.


Sayang, belum sempat Jesslyn menjawab. Suara hentakan heels terdengar beradu dengan lantai marmer rumah megah milik Gavin. Dan suara itu kini sudah semakin dekat.


"Itu siapa yah?" tanya Elis yang lebih penasaran.


"Iya, apa Daddy sudah pulang? tapi sepertinya bukan suara sepatu?" gumam Jesslyn mendengar semakin jelas dan tak lama tampaklah sosok wanita yang cantik dan penampilannya begitu wah. Rok span di atas lutut dan dress motif bunga dengan tangan yang berbentuk puff. Sungguh cantik dan sempurna.


"Jess," suara lembut terdengar mengayun indah di telinga Karlyn maupun Jesslyn dan Elis.


"Mommy!" Jesslyn berteriak girang dan merentangkan kedua tangannya melihat kedatangan sang mommy yang mendekat dan merentangkan kedua tangannya.


"Jess, biar Tante antar. Jangan bangun dari kursi roda yah?" tutur Karlyn yang sayangnya tidak di hiraukan oleh Jesslyn. Anak itu bangun dan ingin berlari menyambut kedatangan sang mommy.

__ADS_1


Di detik berikutnya. "Aaaaa!" teriakan Jesslyn terdengar hingga Karlyn pun sigap menarik tubuh Jesslyn dan menjadikan tubuhnya yang jatuh di bawah tubuh Jesslyn.


"Jesslyn!" wanita yang baru datang barusan turut berteriak histeris melihat sang anak terjatuh.


__ADS_2