Bidadari Untuk Daddy

Bidadari Untuk Daddy
Makan Bersama Dengan Status Baru


__ADS_3

Hingga hari yang di nanti akhirnya pun tiba, sekian bulan menjalani masa iddah akhirnya penantian Gavin usai. Tepat di hari sabtu jam sepuluh pagi,di KUA keduanya telah resmi melangsungkan akad nikah sederhana. Tentu di hadiri dengan Jesslyn yang duduk di kursi roda di temani Elis dan beberapa saksi.


Tak ada yang tahu jika di kediaman Gavin, sosok wanita yang beberapa kali datang tanpa tahu malu kini kembali membuat kegaduhan.


"Nyonya, jangan masuk, Nyonya." ucap security yang berjaga di depan atas perintah Gavin.


Sepasang mata Rachel mendelik mendengar larang itu. "Heh saya ini pernah tinggal di sini. Apa hak kamu melarang saya masuk? Saya ingin menjenguk anak saya!" Teriak Rachel yang semakin naik darah tinggi kala langkahnya terus terhalang oleh kedua tangan security itu.


Sang security bingung. Sebab sesuai pesan dari sang tuan jika tidak ada yang boleh mengetahui pernikahan ini. Selain tertutup dan rahasia, Gavin tak ingin ada yang membatalkan pernikahan mereka tentunya. Rachel mengerutkan keningnya heran melihat pria di depannya saat ini tengah menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ah lama banget. Minggir!" terobosnya mendorong kasar tubuh pria itu hingga akhirnya Rachel pun berhasil lolos meski terus di kejar pria itu.


Namun, tentu saja security tidak akan berani berlaku melewati batas dengan mencekal tangan Rachel. Ia tentu tahu batasan sebagai bawahan. Dan Rachel adalah wanita yang sangat garang menurutnya.


"Jess! Jesslyn! Ini mommy." Beberapa kali Rachel terus berteriak melangkah ke sana kemari hingga tiba di kamar sang anak tak ada siapa pun rupanya. Satu orang pun tidak ada Rachel temui di dalam rumah. Hingga akhirnya ia memberanikan diri menuju kamar sang mantan suami yang dulu pernah ia tempati berdua dengan Gavin.


"Jess! Gav!" Teriaknya tidak ada siapa pun di sana.


"Dimana mereka?" selidik Rachel membalikkan tubuhnya dan kini bertanya pada security yang terus membuntuti dirinya.


"Saya tidak tahu, Nyonya." ujar security itu dengan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Tentu saja kejanggalan ini membuat Rachel merasa penasaran dan gelisah. Dalam pikirannya apa mungkin mereka ke rumah sakit atau justru pergi berpiknik? Tidak, Rachel tidak akan membiarkan rencana mereka semua bahagia tanpa dirinya akan baik-baik saja.


"Heh katakan di mana mereka?" teriak Rachel yang justru tak mendapatkan respon apa pun dan security itu justru meninggalkan Rachel lantaran pusing mendengar teriakan demi teriakan terus.


"Astaga...perempuan doyannya teriak-teriak terus. Bakat jadi suporter bola kayaknya." gerutu security itu tak perduli bagaimana Rachel terus meneriaki dirinya.


Singkat waktu berlalu di KUA, semua sudah membubarkan diri. Sementara Gavin yang telah resmi menikah dengan Karlyn tampak biasa saja. Tak ada aura kebahagiaan seperti pengantin baru pada umumnya. Hal yang sama Karlyn rasakan kembali untuk kedua kalinya.


"Ya Tuhan, ini pernikahan keduaku. Apa tidak ada bahagia sedikit pun yang akan kau selipkan pada pernikahan yang ku jalani saat ini? Mengapa semua pernikahan yang ku dapat berdasarkan keterpaksaan? aku inginĀ  menikah dengan sekali seumur hidup dan bahagia saling mencintai." Ucapan dalam hati Karlyn selama di perjalanan pulang mampu terbaca samar oleh Elis yang duduk di sampingnya.


Sapuan lembut di punggung tangannya di berikan Elis seolah untuk memberikan semangat pada sang nyonya yang baru sah beberapa menit lalu. Karlyn pun tampak tersenyum melihat tangan itu.


"Kita makan di luar, Daddy?" tanya Jesslyn yang bermaksud ingin mengutarakan keinginannya.


Kedua wanita yang bersampingan hanya diam mendengar percakapan anak dan ayah. Lima belas menit mereka pun tiba di sebuah restauran dan segera turun lalu masuk.


Status pernikahan yang baru saja terjadi rupanya tak merubah apa pun yang Jesslyn lihat saat ini.


"Huh..." Bocah itu menghela napasnya kasar.


"Dadd, mom, ayo duduk di sini. Mengapa berjauhan? Jess ingin duduk di samping Bi Elis saja." celetuknya yang melihat Karlyn tengah duduk di samping Elis sementara Gavin duduk di samping Kalryn. Posisi meja hanya terdiri dari empat kursi. Dan dua kursi saling berhadapan dengan dua kursi di depannya.

__ADS_1


"Tante di sini saja, Jess. Em maksudnya mommy di sini saja biar lebih enak mengambil makan untukmu." elak Karlyn semakin gugup kala melihat tatapan Gavin yang dalam padanya.


Jesslyn menggelengkan kepala. "No, Jess biar Bi Elis yang mengambilkan. Bukankah kata guru agama istri akan melayani suaminya?" tanyanya dengan polos tentu saja Elis terkekeh mendengar hal itu.


"Sayang..." belum sempat Karlyn ingin mengelak, Gavin sudah lebih dulu bersuara.


"Pindahlah kemari atau aku yang akan menarik kursi itu bersamamu juga?"


Satu tegukan salivah susah payah Karlyn lakukan. Hingga dengan kaku tubuhnya bergerak mendorong kursi roda Karlyn lalu berpindah duduk di sana. Senyuman mengembang sempurna di wajah Karlyn.


"Nanti malam Jess mau tidur sendiri saja, Dadd." tuturnya membuat kedua bola mata Karlyn mau pun Gavin membulat bersamaan.


"Loh kok sendiri? bukannya minta mommy dan daddy yang tidur menemani kamu, Jess?" tanya Kalryn kaget mendengarnya. Sebab biasa Jesslyn terus meminta mereka untuk tidur di kiri dan kanan tubuhnya. Dengan alasan takut.


Jesslyn menggelengkan kepalanya lagi. "Jess sudah besar, Mommy. Daddy. Kalian terlalu lama menikahnya, jadi Jess keburu berani tidur sendiri deh. Tapi Jess senang mommy dan daddy sudah menikah. Itu artinya Jess punya dua mommy." celetuknya tersenyum gemas dan mulai menikmati makannya.


Hingga keheningan saat makan kembali riuh saat darah segar tiba-tiba menetes di hidung bocah mungil itu. "Cake ini kenapa bau sih, Dadd?" tanya Jesslyn polos saat menikmati cake pencuci mulut usai ia memutuskan untuk selesai makan.


"Jesslyn!" Teriakan menggema Gavin membuat Elis maupun Karlyn sama-sama terkejut. Semua mata mereka tertuju pada Jesslyn.


"Daddy..." Jesslyn yang semula begitu bersemangat bicara tiba-tiba lemas dan hanya memanggil sang daddy dengan suara lirih. Matanya sayup dan pelan tidak sadarkan diri lagi.

__ADS_1


"Jesslyn!" Karlyn turut bangkit dari tempat duduknya.


Secepat mungkin Gavin sudah menggendong Jesslyn menuju mobil di ikuti Karlyn. Sementara Elis memilih tetap di sana untuk membayar makan mereka. Beruntung uang dapur yang Gavin berikan untuk ia pegang jumlahnya sangat banyak.


__ADS_2