
Bergetar tubuh Gavin melihat hasil testpack yang ada di hadapannya saat ini. Matanya berkaca-kaca menatap wajah cantik sang istri yang tersenyum. Tak ada kata yang bisa ia ucapkan selain pelukan erat yang ia berikan pada sang istri.
Karlyn memejamkan matanya menikmati hangatnya pelukan sang suami saat ini. Kebahagiaan yang tak pernah ia sangka kini terus menghujani pernikahan tanpa sengaja itu.
Sekali lagi nama sang malaikat kecil ia sebut di dalam doa.
“Jess, terimakasih. Terimakasih, Nak. Jodoh Mommy yang kau pilihkan begitu sempurna untuk Mommy. Pria yang berhati malaikat seperti Daddy mu begitu membuat mommy sangat bahagia. Terimakasih jasamu, Nak.” gumam Karlyn mengenang sosok Jesslyn yang kini sudah tiada.
Kebahagiaan juga terasa pasa Elis. Wanita itu hanya bisa memeluk tangannya di depan dada mengucap syukur berkali-kali.
“Anda patut bahagia, Nyonya. Tuhan mengirimkan pria yang tepat untuk hidup anda saat ini.” Memastikan kebahagiaan usai ia rasakan, kini Elis bergegas menuju kamarnya.
Beberapa kali kecupan Gavin layangkan di kening sang istri. Hingga kebahagiaan mereka terhenti kala suara sapaan dari puar terdengar masuk ke indera pendengaran mereka.
“Sepertinya kedatangan saya tidak tepat yah?” Rachel melangkahkan kaki mendekati keduanya. Senyuman di wajahnya tampak jelas tanpa ada rasa iri melihat keromantisan keduanya.
Yah, Gavin sama sekali tak berniat melepas pelukan itu meski Karlyn berusaha pelan mendorong tubuh sang suami.
__ADS_1
“Papah.” Tegurnya pelan sayang tak Gavin perdulikan juga.
Pria itu justru menatap Karlyn dengan penuh cinta meski ia sedang bertanya pada mantan istrinya.
“Ada apa, Hel?” tanyanya sama sekali tak tertarik menatap sang mantan.
Melihat itu Rachel hanya menghela napasnya kasar.
“Sudah kamu tenang saja. Aku tidak akan mengganggu terlalu lama. Aku datang hanya membawa undangan ini.” Tangan wanita itu bergerak menyodorkan sebuah undangan yang terlihat seperti undangan pernikahan.
Wajah Karlyn sontak bahagia melihatnya. “Wah ini undangan pernikahan yah?” tanyanya tanpa canggung.
Gavin menerima uluran tangan sang mantan. Jelas ia melihat jika itu undangan tunangan. Akhirnya ia menatap Rachel.
“Apa ini tidak membuang-buang waktumu? Kenapa tidak menikah segera?” Rachel tersenyum.
Ia tak ingin menjawab yang sesungguhnya. Rasa penyesalan tentu masih jelas ia rasakan. Kehilangan kedua cinta yang sesungguhnya ia miliki tentu tak mudah untuk Rachel memutuskan sesuatu dengan cepat. Butuh waktu baginya memulai semua dengan baik.
__ADS_1
Melupakan kesalahannya dengan sang anak. Serta melupakan rasa sesalnya yang menyia-nyiakan sang mantan suami.
“Papah, sudah. Ayo sebaiknya kita rayakan sekalian saja hari bahagia kita ini.” Tanpa segan Karlyn menarik tangan Rachel masuk dan menuju ke dapur meninggalkan sosok Gavin yang menggeleng.
Bukan hanya Gavin, namun Rachel juga sedikit canggung mendapat ajakan Karlyn yang seolah mereka begitu kenal dekat.
“Duduk di sini. Dan tunggu aku akan memasak menu spesial.” Karlyn bergerak lincah di tatapan Rachel.
Wanita itu tampak menikmati pergerakan Karlyn di dapur tanpa niat membantu. Sebab Rachel memang tak begitu suka dengan pekerjaan rumah.
Beberapa menit yang di butuhkan Karlyn berkutat di dapur hingga di pertengahan memasak ia terhenti.
“Kenapa memasak? Hem? Ayo duduk di kursi.” Gavin yang baru usai mandi dan berganti pakaian membawa paksa sang istri duduk di dekat Rachel.
Perilaku keduanya tak luput dari pandangan Rachel. Lagi ia melihat kesempurnaan pria yang pernah ia sia-siakan.
“Pah, masakannya belum selesai.” ujar Karlyn menoleh ke dapur yang tinggal sebentar lagi semua akan siap.
__ADS_1
“Duduk di sini. Biar Papah yang lanjutkan. Kasihan nanti dedeknya kecapean.” ujar pria itu mengelus perut sang istri.
Perkataan Gavin membuat Rachel menganga tak percaya.