
Di tengah Gavin memasak, kin Rachel menatap Karlyn dengan tatapan penuh tanya. Wajah bahagia kedua wanita itu sunggu membuat suasana tampak tenang dan hangat.
Seolah mengerti akan tatapan Rachel, Karlyn hanya tersenyum dan mengangguk.
“Iya, Kata Gavin benar. Saya sedang hamil.” ujarnya semakin membuat senyum Rachel melebar.
“Wah berarti hari ini hari bahagia kedua keluarga kita? Astaga aku benar-benar tidak menyangka. Kehamilan kamu di jaga baik-baik, dan aku ingin minta maaf atas semuanya.” Mendengar ucapan Rachel, Karlyn sontak memegang tangan wanita di depannya.
“Iya ini adalah hari bahagia keluarga kita dan juga Jesslyn. Dia pasti sangat bahagia melihat kita bahagia bersama.” tuturnya di angguki kepala pleh Rachel.
Mendengar bagaimana dua wanita di meja makan itu berbicara, Gavin hanya tersenyum sendiri. Tentu saja rasanya sulit menduga, sosok Jesslyn yang begitu kecil tanpa tahu permasalahan orang dewasa begitu tepat memecahkan masalah di kemudian hari meski dirinya sudah tak ada lagi di dunia.
Tak terasa air mata pria itu menetes kala tangannya sibuk mengaduk masakan di kuali. Rindu yang begitu tak pernah habis bahkan semakin bertambah pada sosok sang anak begitu sulit ia lampiaskan. Andai saja bisa memeluk kembali tubuh mungil itu, ingin sekali Gavin lakukan.
Ingin memeluk dan mencium wajah lucunya berkali-kali. Sayangnya itu hanya angannya saja yang sampai kapan pun tak akan bisa kembali ia rasakan.
__ADS_1
“Papah, apakah belum selesai? Seharusnya itu sudah selesai loh?” Karlyn menoleh menatap punggung sang suami.
Dimana suara itu membuyarkan lamunan Gavin. Pria itu bergerak cepat menoleh ke arah sang istri usai mengusap kasar kedua matanya.
“Iya, ini sudah selesai.” Gavi mengambil wadah lalu meletakkan makanan ke wadahnya, ia membawa ke meja makan.
Melihat kedatangan Gavin, Rachel dan Karlyn tersenyum. Bertiga mereka sarapan bersama sembari mendengar cerita dari Rachel.
“Selamat yah, Hel. Semoga ini jalan yang baik untukmu ke depannya.” ujar Gavin menatap sang mantan istri dengan tatapan biasa.
Melihat itu Karlyn tahu jelas tatapan sang suami tak ada sama sekali sisa cinta yang tertinggal.
Beberapa menit kemudian, akhirnya Gavin berpamitan untuk segera ke kantor. Ia mencium puncak kepala sang istri, dan pemandangan yang romantis itu membuat Rachel ingin merasakan hal yang sama kala menikah nanti.
“Karlyn, saya juga harus segera pulang yah? Kerjaan sudah menunggu. Main ke sana yah? Banyak koleksi berlian saya yang baru loh.” ujarnya membuat Gavin tertarik mendengarnya.
__ADS_1
“Mamah, pergilah bersama Elis. Minta antar supir. Rasanya belum ada belanja selama kita menikah. Ada baiknya Mamah belanja kebutuhan yah? Nanti ada waktu kita akan berjalan berdua juga belanja.” Gavin berucap begitu membuat hati Karlyn meleleh mendengarnya.
“Baiklah. Nanti kapan-kapan saya akan main ke sana.” jawabnya.
Rachel dan Gavin berlalu meninggalkan pelataran rumah dengan mobil mereka masing-masing. Sementara Karlyn bergegas menuju kamarnya.
Usai kepergian sang suami, rumah terasa sunyi. Namun, wanita itu memilih untuk melakukan olahraga ringan. Yoga pilihan yang Karlyn ambil hari ini.
Setidaknya ia ingin menenangkan pikiran juga.
Sembari menuju ruang dekat kolam, Karlyn berpikir untuk menyiapkan kado apa untuk ia berikan pada Rachel.
***
Berbeda dengan sisi yang lain. Di sini Rachel justru meneteskan air mata melihat sebuah foto yang baru di kirim dari nomor tak di kenal.
__ADS_1
Syok rasanya bahkan wanita itu menepikan mobil demi menenangkan diri. Air matanya terus jatuh dengan deras.
“Tidak. Ini tidak mungkin.” tuturnya menggeleng tak percaya.