Bidadari Untuk Daddy

Bidadari Untuk Daddy
Kepergok


__ADS_3

Hari pertama bekerja segera di mulai. Wajah riang milik Elis turut membuat Karlyn tersenyun. Rasanya ia pun juga bahagia bisa mendapatkan langsung tempat tinggal serta bisa hidup dengan layak.


Memiliki majikan yang baik menjadi impian semua para pembantu pastinya.


“Lis, kamu semangat banget nyuci piringnya. Awas malah jatuh nanti.” ujar Karlyn menghampiri Elis usai menemani Jesslin tidur malam.


Waktu bahkan sudah menunjukkan angka sembilan, dimana keadaan rumah tampak sunyi. Hanya sosok Jesslyn lah yang mencairkan keadaan rumah sepi nan besar ini.


“Hehehe iya, Nyonya. Saya senang banget kita aman di sini. Kalai kita di luar bisa-bisa Tuan Eric nangkap kita dan menghukum kita.” ujar Elis mengingat bagaimana menakutkannya sang tuan.


Seketika senyuman di wajah Karlyn pun lenyap mendengar nama sang suami di sebut. Ia baru ingat jika dirinya masih penasaran apa yang membuat Elis nekat untuk pergi.


“Lis, jangan panggil saya Nyonya lagi. Kita sekarang sama, bahkan aku tidak bisa menggajimu lagi.” ujarnya merasa tak nyaman jika Elis masih menganggapnya majikan.


Sebab di rumah ini keduanya memiliki kedudukan yang sama dan gaji yang sama pula.


“Em jangan Nyonya. Saya tetap menganggap anda majikan saya. Jangan bicara seperti itu.” ujar Elis kekeuh.


Karlyn menggelengkan kepala. “Aku tidak mau tahu. Panggil aku dengan nama saja. Kita sekarang teman. Okey? Kalau tidak aku akan beri tahu Erik kau ada di sini.” ancaman Karlyn membuat Elis terlonjak kaget. “Eh jangan Nyonya. Kalau begitu berarti kita berdua akan di tangkap dong.” Ucapnya membuat Karlyn terkekeh. Beruntung Elis masih bisa berpikir rupanya.


“Bagus kamu tahu. Yasudah panggil aku dengan nama saja. Aku tidak mau tahu.” Akhirnya Elis pun menganggukkan kepalanya.


“Lalu ngomong-ngomong apa yang membuat kamu membawaku pergi? Kamu tidak takut dengan Erik?” Kini Karlyn tampak mengelap seluruh kaca meja makan membantu Elis agar cepat selesai.

__ADS_1


“Nyonya, eh salah maksud saya Kar-lyn, Tuan telah mengotori saya dengan sangat mengerikkan.” Mendengar ucapan ambigu dari Elis. Sontak Karlyn menghentikan kegiatan membersihkan meja makan. Ia kaget dan mengerutkan kening dalam.


Langkahnya cepat mendekati Elis yang sudah menundukkan kepala meneteskan air mata.


“Lis, jelaskan apa maksud ucapan kamu tadi?” Kedua bahu milik Elis, Karlyn pegang erat dan ia guncang kuat.


“S-saya di perkosa, Nyonya. Eh Karlyn.” Bersamaan dengan itu Elis menangis terisak.


Karlyn turut menjatuhkan air matanya kaget mendengar penuturan Elis barusan. Bibirnya terbuka lebar tak percaya jika Erik sangat keterlaluan.


“Lis, apa itu benar? Kapan itu terjadi? Kenapa kamu tidak katakan dengan saya? Kenapa kamu tidak jujur dengan saya? Kita bisa bunuh dia sebelum pergi!” Karlyn sangat emosi mendengar pengakuan sang mantan pembantunya.


Sungguh, amarah Karlyn meluap rasanya mendengar betapa bejad sang suami.


“Maafkan aku, Elis. Ini pasti karena aku. Maafkan aku. Aku penyebab ini semua.” Karlyn terus menyalahkan diri sendiri.


Andai ia tidak pergi mungkin tak akan ada korban lainnya. Cukup dirinya saja yang menderita. Ia tidak rela jika orang susah seperi Elis turut menerima penderitaan itu.


“Ehem…” Tiba-tiba saja kedua wanita yang berpelukan dengan air mata yang berderai terkejut mendengar suara deheman keras. Segera mereka melerai pelukan dan menunduk hormat pada pria yang ternyata adalah Gavin.


“Selamat malam, Tuan. Ada yang bisa kami bantu?” Karlyn menyapa dengan pertanyaan yang lengkap.


Satu persatu wajah keduanya Gavin tatap dengan dalam.

__ADS_1


“Apa yang terjadi dengan kalian? Mengapa menangis?” Pertanyaan Gavin cukup lama tak mendapatkan jawaban. Keduanya bingung harus menjawab apa.


Hingga akhirnya Gavin pun tahu bahwa ada batasan yang tak boleh ia campuri. Mengingat Elis dan Karlyn yang tengah mencari tempat tinggal, itu artinya mereka sedang dalam masalah. Dan mungkin saja ini ada kaitannya dengan tangisan mereka.


“Karlyn, Jesslyn sudah tidur?” tanyanya yang mengalihkan pertanyaan awal tanpa mendapatkan jawaban.


“Ehm…iya Tuan. Baru saja tidur itu sebabnya saya membantu Elis di dapur, Tuan. Makanan dan obat sudah Jesslyn makan dan minum juga, Tuan.” tutur Karlyn lengkap.


Melihat Gavin yang mengangguk akhirnya kini keduanya melihat pria itu pergi menuju kamar sang anak.


“Huh untung saja Tuan tidak marah. Yasudah kita selesaikan dan kita kembali ke kamar lanjutkan cerita tadi yah, Lis?” ujar Karlyn bernapas lega.


“Iya, Nyonya.” jawab Elis seketika.


“Lis?” Kode Karlyn yang mengingatkan jangan memanggil Nyonya lagi.


“Hehehe iya maaf, Karlyn. Masih agak kaku rasanya.” tutur Elis terkekeh dan kembali ke pekerjaan mereka.


Sementara di kamar Jesslyn. Gavin tampak mengelus pipi tirus sang anak yang terlelap. Di cium pipi dan kening Jesslyn beberapa saat. Sungguh keinginan terbesar pria tampan ini hanyalah sang anak segera sembuh melawan penyakit mematikan.


“Dengan cara apa aku membawa mommynya menemui Jesslyn, Tuhan? Memaksanya pun yang ada akan membuat wanita itu kasar pada anaknya sendiri. Jesslyn sangat butuh penyemangat saat ini.” gumamnya menatap nanar sang anak.


Hingga akhirnya kini Gavin pun pergi ke kamarnya untuk istirahat. Hari ini pekerjaannya untuk kantor lebih cepat selesai sebab ada yang menemani Jesslyn. Jika biasanya, Gavin akan bergadang bekerja usai menunggu Jesslyn tidur lebih dulu.

__ADS_1


Sedikit beban terbantu dengan keberadaan Karlyn. Menjaga Jesslyn bukanlah beban untuk sosok ayah baik seperti Gavin. Namun, bergadang untuk bekerja di rumah tentu sangat melelahkan di kala tubuhnya sudah ingin istirahat harus ia paksa bekerja.


__ADS_2