Bidadari Untuk Daddy

Bidadari Untuk Daddy
Sambutan Hangat


__ADS_3

“Selamat sore, Tuan,” Elis yang berlari menyambut kedatangan Gavin membuat pria itu mengernyitkan keningnya heran.


Sepasang mata miliknya menatap ke arah pintu rumah yang terbuka lebar. Tak ada sosok yang rindukan satu hari ini datang menyambutnya.


“Tuan pasti nyari Nyonya kan?” goda Elis paham, memangnya siapa lagi yang bisa Gavin cari selain Karlyn. Di rumah ini tidak ada orang yang penting untuk pria tampan ini selain Karlyn.


Malaikat kecilnya sudah tidak ada lagi yang selalu ceria kala sang daddy tiba di halaman depan rumah.


Ada rasa rindu yang tiba-tiba hadir dalam benar pria itu membayangkan sang anak yang sudah tenang di rumah barunya.


“Nyonya tadi baru saja mandi, Tuan. Kira Nyonya, Tuan masih di perjalanan.”


“Baiklah, terimakasih.” Mendengar kata mandi, tiba-tiba saja dada Gavin berdebar kuat. Cepat ia melangkahkan kakinya menuju kamar.


Tak ada tanda jika sang istri sudah selesai mandi. Rupanya di kamar mandi pun sama sekali tak terdengar suara gemericik air.


“Pasti lagi berendam.” Tebaknya seketika mengembangkan senyum penuh makna.


Tanpa berpikir lagi, Gavin bergegas membuka pakaian di tubuhnya dan membuka pintu kamar mandi.


“Pah?” Karlyn terlonjak kaget, reflek tangannya menutup dada yang polos.

__ADS_1


“Masih malu?” Gavin dengan berani melangkah masuk ke dalam bathup yang di tempati sang istri berendam.


Pelan Karlyn meneguk salivahnya kasar. Keduanya sudah saling berhadapan.


Alangkah bahagia rasanya Gavin yang merasa tubuhnya lelah dan mengantuk mendapat sambutan hangat seperti ini dari sang istri.


“Em… kok masuk nggak…” belum usai Karlyn berkata, bibirnya sudah terbungkam oleh bibir merah milik Gavin.


Pelan namun penuh sesapan mendalam, nikmat tentu saja. Keduanya bahkan menikmati permainan bibir itu sampai memejamkan mata. Bagian tubuh lainnya mulai bergerak mengikuti peran mereka masing-masing hingga tanpa sadar Karlyn telah merapatkan tubuhnya pada sang suami.


“Berikan Papah adik untuk Jesslyn,” lirih namun Karlyn bisa mendengar jelas ucapan sang suami.


Keduanya pun bermain di dalam genangan air hangat. Hingga rasa lelah mulai terasa saat keduanya sama-sama mendapat pelepasan.


Wajah merah milik Karlyn terlihat jelas di mata Gavin. Ia tahu istrinya tengah menahan malu saat ini.


“Auwh…”


“Mana yang sakit?” Gavin sigap bertanya.


“Di bawah.” Jawab Karlyn.

__ADS_1


“Mau di bantu obati?” tanya pria itu serius.


Karlyn menggeleng malu. “Tidak, biarkan saja.” jawabnya.


“Tunggu di sini. Sebentar biar Papah yang bereskan semuanya. Mamah diam tunggu air bathupnya di ganti dulu, jangan berdiri yah?”


Sigap Gavin membantu membersihkan tubuh sang istri. Karlyn pun tampak menikmati perlakuan sang suami yang memperlakukannya seperti ratu.


Usai membersihkan tubuh sang istri, pria itu menggendong Karlyn menuju kasur dengan membalut tubuhnya bathrobe. Karlyn hanya diam seolah menjelma menjadi bayi kecil yang tengah di urus oleh baby siternya.


“I love you.”


Tak ada balasan dari Karlyn selain senyum yang mengembang.


“Jesslyn pasti bahagia melihat kita seperti ini sekarang.”


“Semoga saja, Pah. Jujur aku sangat rindu dengan Jesslyn.” jawab Karlyn berterus terang.


“Besok kita ke makam Jesslyn sebelum aku ke kantor, bagaimana?” Mendapat tawaran dari sang suami, tentu saja Karlyn setuju.


Ia sudah berniat mengunjungi makam sang anak. Dan besok adalah waktu yang tepat jika datang bersama sang suami.

__ADS_1


__ADS_2