
Di pagi yang cerah tampak sepasang mata Gavin menatap tenang dua wanita yang tengah tertidur di atas ranjang pasien kali ini. Sesekali tangannya mengusap anak rambut yang berkali-kali terjatuh menutup sebelah kelopak mata Karlyn. Hingga perlakuan itu terhenti begitu saja saat pintu terdengar terbuka sangat keras.
"Gav, aku ketiduran. Sorry, Jesslyn ini mommy..." penuturan Rachel terhenti saat matanya melihat sosok anaknya tertidur lelap berpelukan dengan wanita yang entah mengapa begitu ia benci saat pertama kali bertemu.
"Pergilah! Berhenti memberi harapan yang tidak pernah bisa kamu berikan pada Jesslyn." tutur Gavin dengan wajah dinginnya.
"Gav, aku bukan tidak bisa memberikan. Pagi ini aku membawa semuanya untuk Jesslyn. Ini hanya perkara waktu yang lambat. Aku tetap menepati janjiku pada Jess. Tolong biarkan aku menemui Jesslyn." penuturan Rachel sungguh membuatnya begitu muak.
Gavin berdiri tegap menghalangi langkah Rachel hingga wanita itu benar-benar tidak bisa melakukan apa yang ia inginkan. Tatapan mata keduanya saling berpandangan begitu penuh arti. Jelas, dari pandangan mata Gavin terlihat ia begitu benci wanita di depannya. Namun, tidak dengan Rachel yang begitu menatapnya penuh kerinduan.
"Memberikan dengan hati yang tidak tulus. Itu tidak akan berarti apa pun untuk Jesslyn. Lebih baik kamu mengecewakannya dengan segala tindakanmu. Dari pada mendapatkan perlakuan yang baik namun semua penuh dengan keterpaksaan dan kepalsuan."
Mendengar pedasnya perkataan sang mantan suami, hati Rachel mendadak nyeri. Ia yang dulu begitu acuh dengan semua tuduhan dan perlakuan buruk sang mantan suami. Tidak dengan saat ini, ia tidak bisa mendengar apa pun penilaian buruk terhadapnya. Ia ingin menjadi wanita yang baik di mata Gavin.
"Gav, aku mohon..." Pelukan erat tiba-tiba saja membuat tubuh Gavin terdiam. Tangannya begitu keras mengepal tangannya sendiri. Marah tentu saja.
"Aku ingin memperbaiki semuanya, Gav. Ijinkan aku melakukan semua itu." Rachel begitu erat memeluk tubuh Gavin hingga suara tangisannya pun membuat sosok Jesslyn dan Karlyn terbangun dari tidur lelapnya saat ini.
"Mommy, Daddy." Seru Jesslyn tersenyum melihat dua orang yang lama tidak ia lihat berdekatan pagi ini justru sedang berpelukan dan itu sang mesra menurutnya.
__ADS_1
Mendengar hal itu Rachel tersenyum pada sang anak sembari mengusap air matanya. Pelukannya ia tambah dengan kepala yang bersandar di dada sang mantan suami. Sementara Gavin sudah mendorong kasar tubuh wanita yang tidak tahu malu itu menurutnya.
"Jess, kamu sudah bangun sayang? Karlyn tolong kembali ke rumah ambilkan pakaian kerja saya. Saya akan berangkat dari sini saja." pintah Gavin yang ingin Karlyn pulang meninggalkan mereka.
Tanpa bantahan Karlyn hanya mengangguk patuh. "Baik, Tuan." jawabnya segera pergi usai memeluk Jesslyn.
Tentu saja perlakuan itu tak lepas dari pandangan mata Rachel yang menatap penuh aura permusuhan. Jesslyn tersenyum melambaikan tangannya pada Karlyn dan kini ia beralih menatap sosok Rachel yang menatapnya juga.
"Mommy mengapa selalu jahat dengan Jess? Mommy selalu ingkar dengan Jess?" tuturnya cemberut sedih melihat kelakuan sang mommy yang benar-benar tidak bisa di harapkan menurutnya.
Terbata Rachel inginĀ menjelaskan apa pada sang anak hingga akhirnya terpaksa ia meninggalkan Gavin dan mendekati sang anak. Yah, Rachel tahu saat ini kunci satu-satunya kembali ke kedudukannya semula yaitu hanya ada Jesslyn. Apa pun yang Jesslyn katakan Gavin tak akan mampu menolak tentunya.
"Memangnya kenapa kalau pusing? Kan mommy bisa sekalian kesini. Jess kan di rumah sakit, jadi mommy bisa sekalian di periksa dokter." tuturnya dengan polos dan memang ada benarnya yang di ucapkan Jesslyn.
Tak kehabisan akal, Rachel kembali mengarang cerita yang kebetulan ada benarnya juga. "Mommy bisa celaka sayang, kan mommy bawa mobil sendiri semalam. Lagi pula supir di rumah daddy kan di pakai sama tante tadi." celetuknya menyangkut pautkan nama Karlyn.
"Tapi Jess semalam senang banget Tante Karlyn datang. Mommy tidak jadi datang tidak apa-apa jika ada Tante Karlyn. Tante Karlyn baik sekali bacain dongeng yang bagus buat Jess, Mommy." ujarnya seketika membuat wajah sedih Rachel tampak berubah jadi marah.
Tangannya jelas terlihat mengepal sempurna, sementara Gavin kini tengah menahan tawa yang ingin pecah rasanya mendengar ucapan sang anak yang seolah rela kehilangan sang mommy demi datangnya tante yang baik hati itu.
__ADS_1
"Jess, lain kali tidak boleh bicara seperti itu. Tidak baik, Sayang. Kamu masih punya mommy jangan mengharapkan orang yang kita tidak tahu baik atau jahat. Dia itu bukan siapa-siapanya Jesslyn. Jangan memujinya berlebihan. Mengerti?" Inilah sosok Rachel yang tak pandai menahan amarahnya. Dadanya yang bergemuruh mendadak ingin meledak saat bicara pada sang anak.
"Hel, apa-apaan kamu memarahi Jesslyn? Sayang, tidak papa. Sekarang ayo sarapan. Biar daddy suapin Jess." Gavin yang marah menggeser kasar tubuh Rachel dengan tubuhnya. Ia mendekati sang anak yang kini tampak menundukkan kepala sedih.
Bagaimana pun Jesslyn adalah anak kecil yang hanya bisa berucap jujur dari hatinya tanpa bisa menyembunyikan apa pun yang ia rasa. Dan kini sang mommy telah menegurnya untuk tidak memandang baik sosok tante yang ia sebut seperti malaikat itu.
Di tempat yang berbeda, suara bel pintu terdengar berbunyi. Elis yang baru selesai menata makan di meja makan tak sebanyak biasanya segera menuju pintu utama rumah itu.
"Apa Tuan datang? lalu siapa yang menjaga nona Jesslyn di rumah sakit? Wanita itu? Hih aku sih tidak akan percaya dengan perempuan jahat seperti itu." ucapnya mengingat sosok Rachel yang ketus dan kasar menurutnya.
Hingga saat pintu terbuka bukanlah Gavin yang ia lihat, melainkan sosok yang bertugas sebagai pengantar surat.
"Ini mba, surat dari pengadilan yang di tujukan untuk Nyonya Karlyn." ujar pria itu dan Elis yang mendengar nama calon nyonya di sebut segera memanggil sang pemilik nama.
"Calon nyonya Karlyn!" panggilnya panjang membuat pria di depannya tampak mengerutkan kening. Panggilan yang lucu tentu terdengar saat ini.
"Ada apa, Lis? Kok teriak-teriak sih?" celetuk Karlyn yang merasa jengah jika terus menegur Elis agar tidak memanggilnya seperti itu padanya. Namun sepertinya semua percuma, Elis masih juga memanggilnya seperti itu. Dan berakhirlah ia harus pasrah.
"Permisi Ibu, surat dari pengadilan agama." Sang pengantar surat pun menyerahkan pada Karlyn surat itu. Sontak saja kening Karlyn mengerut tak mengerti sebab ia pun tidak tahu jika Erik akan segera menceraikannya.
__ADS_1