
Air mata membasahi kedua pipi Karlyn dan juga Gavin. Tangan kekar pria itu mengulurkan jemari dan merasakan nadi yang tak lagi bergerak. Bibir Karlyn bergetar melihat jemari sang suami beralih pada kedua hidung Jesslyn. Dimana pernapasan tak lagi ada di sana.
Tertunduk, Gavin menahan teriakan yang ingin ia lampiaskan saat itu juga. Hanya air mata yang menetes di kedua matanya dan berjatuhan di dasar tanah taman itu.
“Tuan, Jesslyn baik-baik saja kan?” menangis Karlyn masih berusaha berharap semuanya baik. Ia tersenyum meski air matanya terus berjatuhan kian banjir. Dadanya terasa sesak sulit bernapas. Sakit sekali melihat wajah teduh bocah kecil di depannya saat ini.
Jesslyn terpejam tak lagi membuka matanya. Ia pergi dengan keadaan tenang. Harapannya telah ia dapatkan mencari malaikat untuk sang daddy sebelum ia pergi.
“Dad, kelak sebelum Jess tiada. Daddy harus banyak makan. Jangan khawatir. Kelak Jess akan dapat malaikat yang pandai memasak agar Daddy tetap sehat dan tampan.” Ucapan dari suara cempreng sang anak seolah membuat Gavin benar-benar mengutuk takdir hidupnya.
__ADS_1
Ia merasa sulit menerima kenyataan meski sang dokter sudah mewanti beberapa saat lalu. Sungguh ia tak siap Jesslyn pergi secepat ini.
“Jesslyn!!” Gavin berteriak sekencang mungkin. Kepalanya menengadah ke atas menatap langit yang tampak mendung begitu terasa sejuk. Semesta seakan turut merasakan kepergian Jesslyn.
Pelan pria itu berdiri dari duduknya yang sulit ia lakukan. Kedua lutut kokoh itu terasa rapuh saat itu juga. Namun, kesedihan membuatnya harus tetap kuat. Gavin menggendong tubuh sang anak. Ia menciumi wajah kening seluruh kepala sang anak terus ia kecup sembari meneteskan air mata.
“Kenapa kamu secepat ini perginya, Nak? Mommy baru saja mengenalmu. Maafkan mommy yang belum bisa membuatmu bahagia di hari terakhirmu, Jess. Kita akan merindukan keceriaan dan ocehan kamu, Sayang.” Kedua tangan Karlyn ia gunakan mengusap air matanya.
Langkahnya perlahan pun mendekati Gavin yang tak lagi berteriak. Pria itu justru terduduk di tanah taman itu memeluk sang anak di pangkuannya. Berusaha kuat nyatanya ia rapuh hingga tubuhnya lemas terasa sulit untuk berdiri tegap.
__ADS_1
“Tuan, kita bawa Jesslyn segera.” Tangan Karlyn mengusap darah yang keluar dari hidung Jesslyn. Melihat itu Gavin sadar ia tak bisa terlalu larut dalam kesedihan. Sang anak seharusnya di tangani cepat untuk di bersihkan dan mengurus jenazah itu.
Kesedihan pun mengiringi kepergian Gavin dan Karlyn ke dalam mobil. Mereka membawa Jesslyn ke rumah sakit untuk meminta dokter mengurus semua termasuk memberangkatkan Jesslyn dengan pesawat.
Singkat cerita, perjalanan panjang pun telah berakhir. Mobil jenazah telah tiba di kediaman Gavin saat itu. Seorang wanita berlari menyambut jenazah sang anak yang membuatnya sang histeris lantaran bersalah selama ini tak menjadi ibu yang baik.
“Jesslyn! Anakku! Jesslyn!” Rachel memeluk jenazah sang anak yang di dorong ke dalam rumah.
Bahkan Gavin sudah tak terlihat menangis lagi. Wajah pria itu tampak datar. Pasrah satu-satunya pilihan saat ini. Begitu pun dengan Karlyn yang tampak matanya bengkak sekali. Namun, hanya merah tanpa ada air mata yang keluar. Kesedihan mereka telah mereka keluarkan saat berada di Swiss. Berbeda dengan Rachel dan Elis yang menangis histeris melihat kedatangan jenazah bocah kecil itu.
__ADS_1