Bidadari Untuk Daddy

Bidadari Untuk Daddy
Saingan Yang Sebanding


__ADS_3

Mendengar Elis menceritakan kejadian yang sesungguhnya, mendadak Gavin mengeraskan rahangnya. Tangannya mengepal begitu kuat. Sudah ia duga ini pasti sebab kemunculan wanita yang tidak sadar dengan perilakunya itu.


“Rachel, kau datang dan merusak semuanya. Lihat saja.” gumam Gavin.


Sepanjang jalan ia terus berusaha menenangkan diri agar tidak berlaku kelewatan. Berusaha menghadapi semua dengan tenang meski rasanya akan sangat sulit. Wanita seperti Rachel akan sangat sulit di ajak bicara baik-baik.


Apa pun yang terjadi, ia pasti akan tetap membela dirinya dan menyalahkan siapa pun yang tidak ia suka. Termasuk Karlyn.


Hingga beberapa saat berlalu, akhirnya mobil Gavin tiba di depan kantor polisi. Tampak pria itu tengah berjalan tergesa-gesa menuju ruangan tempat Karlyn di tahan. Berusaha menemui salah satu pimpinan anggota polisi yang ia kenal dengan baik.


“Tunggu sebentar, Pak. Saya sudah meminta art saya untuk mengambil bukti. Saya yakin buktinya pasti akan bisa di gunakan dengan baik.” Gavin yang sangat paham mengenai hukum, tak serta merta meminta Karlyn segera di bebaskan.


Melainkan ia meminta Elis pulang ke rumah dan mengambil bukti cctv yang ada di setiap sudut rumahnya.


“Mau apa lagi wanita ini?” gerutu Gavin saat melihat ponselnya terus berdering dari Rachel.


Rasanya sungguh malas berhubungan dengannya. Namun, Gavin tentu saja tidak ingin sampai terjadi apa-apa dengan sang anak. Ragu ia pun mengangkat panggilan itu.


“Halo, bagaimana Jesslyn?” tanya Gavin datar.


“Gav, mengapa bertanya? Dimana kau? Mengapa belum sampai juga? Kita harus bicara.” ucap Rachel setengah kesal.

__ADS_1


“Aku masih dalam perjalanan. Jaga Jesslyn dan aku segera tiba.” pintah Gavin pada Rachel.


Namun, bukannya mendapat jawaban iya. Rachel justru tertawa kecut. “Berhenti membodohiku, Gav. Kau sudah tiba di kantor polisi. Apa begini caramu menjaga Jesslyn? Aku melacakmu dan kau berbohong. Apa wanita itu lebih penting dari Jesslyn?” Pertanyaan Rachel sontak membuat darah Gavin kembali mendidih.


Sungguh ia begitu emosi mendengarnya. Tanpa menjawab apa pun, Gavin mematikan telpon. Sungguh rasanya tak habis pikir jika Rachel masih tetap seperti dulu. Layaknya seorang polisi yang memantau targetnya.


“Saya serahkan semua dengan anda, Pak. Biarkan dia bebas dan di jemput art saya nanti. Saya harus segera pergi.” ujar Gavin tak bisa lagi menahan amarah.


Secepatnya ia ingin bertemu dengan Rachel dan menegaskan semuanya yang tak seharusnya wanita itu campuri.


Gavin pun meninggalkan kantor polisi bertepatan dengan Elis yang baru tiba. “Pesan dari Tuan, Lis.” ujar Pak supir memberikan ponsel miliknya pada Elis.


“Oke, Pak temani saya ke dalam. Takut saya yang jadi tahanan hati para polisi nantinya.” Di sela keadaan genting Elis bahkan masih sempat bercanda pada supir.


Masuk ke dalam dan memberikan bukti cctv yang Gavin pintah. Kini Karlyn di keluarkan dengan bebas tanpa hukuman.


“Calon Nyonya.” Elis mendekat dan memeluk Karlyn.


Sungguh Karlyn bersyukur mendapatkan majikan yang baik dan percaya seperti Gavin. “Tunggu, apa ini ada hubungannya dengan permintaan nikah itu? Ya Tuhan bagaimana aku bisa lupa dengan permintaan Tuan Gavin?” batin Karlyn yang baru sadar jika ia tengah menanti waktu dimana pernikahan tanpa cinta akan segera berlangsung usai perceraiannya dengan Erik.


“Haloo…calon Nyonya. Ayo kita pulang sebelum saya yang jadi tawanan polisi di sini.” Segera Elis menarik tangan Karlyn keluar kantor polisi.

__ADS_1


Mereka masuk ke mobil dan kembali pulang.


Sementara Gavin yang sudah tiba di rumah sakit berjalan dengan pandangan mata yang menyala. Seakan amarah di dadanya tak bisa ia tahan lagi.


“Rachel!” bentaknya menarik kasar tangan sang mantan.


Sontak Rachel yang belum siap dengan kedatangan Gavin merasakan sakit di tangannya tanpa bisa melepaskan genggaman kuat itu.


“Aw…Gav, pelan. Tanganku sakit.” rintihnya mengadu kesakitan.


Tubuhnya di hempaskan menyandar pada tembok lorong rumah sakit yang sepi oleh Gavin.


“Katakan padaku untuk apa kau kembali? Cepat katakan, Hel!” Geram Gavin sampai mendekatkan wajah menggeratkan rahangnya serasa ingin memakan wanita di depannya.


Melihat kemarahan di wajah Gavin, Rachel pun seketika merubah raut wajahnya dengan sedih. “Gav, aku datang mau meminta maaf denganmu dan juga Jesslyn anak kita. Aku salah, tapi justru kejadiannya seperti ini. Wanita itu…”


“Berhenti menyebutnya dengan wanita itu. Sebab dia adalah wanita yang pantas menjadi ibu Jesslyn.”


Telak. Rachel tercengang mendengar penuturan sang suami. Matanya membola tak percaya. Bagaimana mungkin wanita yang merawat anaknya justru menjadi ibunya kelak.


Secepat mungkin Rachel menggelengkan kepala. “Tidak, kamu bercanda kan, Gav? Dia itu hanya baby siter.” elak Rachel tak terima.

__ADS_1


Kini ia sadar mengapa sejak awal bertemu ia sangat membenci Karlyn. Wajah cantik dan tubuh yang proporsional membuatnya merasa takut tersaingi di mata Gavin.


__ADS_2