
Waktu yang terus berputar begitu sangat cepat, waktu dimana yang sangat di nanti-natikan oleh Karlyn untuk menyambut hidup yang baru akhirnya tiba juga. Di sini, pengadilan agama tempat ia bertemu kembali dengan sosok pria yang begitu menakutkan di mata Karlyn. Duduk bersebelahan di kursi yang di sediakan, tak sekali pun Karlyn berani menatap ke samping.
Ia hanya bisa menundukkan kepala berdoa meminta perlindungan agar semua berjalan baik tanpa ada kendala. Sementara Erik yang hanya berdiam tanpa menunjukkan respon apa pun hanya menunggu keputusan sidang perceraian yang sangat tidak ia harapkan.
Gavin tentu saja duduk di belakang sana menyaksikan jika semua akan berjalan lancar. Hingga beberapa saat berlalu tanpa adanya ketegangan sebab Karlyn memang tidak melaporkan apa yang Erik perbuat padanya. Sesuai dengan keinginannya jika semua aman dan berjalan baik. Berpisah dari Erik sudah cukup melegakan untuk Kalryn. Ia tidak ingin memperpanjang masalah dengan melaporkan semua tindakan kekerasan sang suami.
"Bagaimana kamu lega?" tanya Gavin pada Karlyn yang sontak mendapatkan anggukan kepala.
"Iya, Tuan. Saya lega sekali. Tapi saya terimakasih banyak anda sudah membantu saya." tuturnya tersenyum pada Gavin yang kini duduk bersebelahan dengannya di dalam mobil. Keduanya memutuskan untuk segera pulang ke rumah sebab Jesslyn hanya berdua dengan Elis.
Perjalanan yang memakan waktu kurang lebih dua puluh menit kini akhirnya telah sampai di kediaman milik Gavin. Dengan wajah bahagia Kalryn berjalan memasuki rumahnya senyuman pun tak kunjung ia pudarkan dari wajah cantik itu.
"Elis aku senang banget." tuturnya memeluk wanita yang tengah membuatkan jus untuk Jesslyn di dapur.
"Eh calon Nyonya, bagaimana? sidangnya lancar kan yah?" tanya Elis dengan dugaan yang tepat sasaran.
Karlyn pun hanya bisa menganggukkan kepalanya senang. Sungguh ia tak menduga jika akan seperti ini jalannya di permudah pisah dengan Erik. Dimana artinya pria itu tidak akan bisa memiliki hak lagi atas dirinya.
__ADS_1
"Ini semua berkat Tuan Gavin. Nyonya sebentar lagi artinya akan benar-benar menjadi calon Nyonya saya." celetuk Elis membuat Karlyn kesal dan memukul lengan wanita di hadapannya kini.
Siang tepatnya waktu makan siang, Karlyn telah menghidangkan makanan bersama Elis di meja makan. Tak lupa ia membuatkan lauk kesukaan Jesslyn, Tempe goreng tepung dengan campuran daun bawang yang di aduk bersama tepung.
"Si nona Jess ada-ada saja. Orang banyak uang berlimpah doyannya tepung tempe begini. Haduh kalau saya banyak uang mana mau lagi makan begini." Elis menggeleng-gelengkan kepala melihat lauk yang selalu Karlyn buatkan meski menu lainnya begitu banyak dan menggiurkan.
"Sudahlah, semua orang punya kesukaan tersendiri, Elis. Kalau saya berhentikan kamu makan pete sanggup nggak?" pertanyaan Karlyn sontak mendapatkan gelengan kepala dari Elis.
"Jangan dong calon Nyonya. Saya tidak bisa hidup tanpa pete, untung saja toilet kita pisah sama Tuan Gavin. Kalau tidak bisa di pecat saya."
Hingga tanpa tahu malunya suara wanita yang tak lain adalah Rachel kembali datang menyapa. "Jess, mommy datang." sapanya berjalan cepat mendekati Jesslyn dan mencium pipi kanan kiri, serta kening bocah itu.
Melihat siapa yang datang, kedua bola mata Gavin memutar malas. "Sepertinya securty di depan harus saya beri peringatan." ujarnya dalam hati menatap jengan Rachel yang duduk di sebelah Jesslyn.
Tidak seperti biasa, Jesslyn yang selalu menyapa hangat kedatangan sang mommy kini tampak datar saja. Bahkan jelas terlihat jika ia seperti tidak senang dengan kedatangan sang mommy. Namun, apa perduli Rachel? ia merasa tetap percaya diri makan malam bersama anak dan mantan suaminya.
"Jess, ini makan apa? Sayang, jangan makan seperti ini. Lihat tepungnya tidak sehat. Makan yang lain saja yah? Hei kamu, buatkan daging yang di kukus kasih bumbu rempah. Jangan di goreng. Anak saya butuh makanan yang sehat." pintah Rachel saat melihat Elis meletakkan buah di atas meja makan.
__ADS_1
"Baik, Nyo..."
"Elis, panggil Karlyn. Ayo kita makan bersama. Sudah selesai semua kan?" Gavin tanpa perduli dengan Rachel segera berkata pada Elis untuk duduk bersama di meja makan.
Mendengar penuturan sang mantan suami sontak saja kedua mata Rachel membulat sempurna. "Gav, apa-apaan kamu? Meminta mereka makan bersama satu meja dengan kita? Nggak aku nggak setuju. Pokoknya dia harus buatkan daging untuk Jesslyn." tegas Rachel tanpa terima di bantah siapa pun.
"Mommy kok begitu? Kan Tante Kalryn dan Bibi Elis memang makan bersama kita di sini. Jangan marahi mereka, Mom. Mereka orang baik." celetuk Jesslyn membuat Kalryn menelan salivahnya susah payah.
Mendengar hal itu tentu saja Rachel tidak bisa terima begitu saja. "Sayang, jangan seperti itu. Lihat kamu makan makanan seperti ini. Dan mereka itu juga kotor dari dapur. Kamu harus benar-benar steril, Jess. Mommy sangat tidak mau kamu sakit lagi." ujarnya menangkup wajah sang anak.
Bukannya patuh, Jesslyn justru meneteskan air mata mendengar jika dirinya tak boleh makan tempe goreng kesukaannya yang di buatkan khusus oleh Tante Karlyn kesayangannya.
"Rachel, berhenti bicara sekarang juga. Jesslyn, makanlah sayang. Daddy sudah tanyakan pada dokter dan itu tidak apa-apa. Justru tempe mengandung vitamin yang bukan hanya vitamin B 12 saja, ,melainkan vitamin K dan kaya akan kalsium. Dan masih banyak lagi." Rachel terdiam melihat Gavin begitu menegaskan jika sang anak tidak akan merubah makanannya malam ini.
"Tuan, makanlah dengan Nona Jesslyn dan Nyonya. Kami biarkan makan di dapur saja, Tuan." ujar Karlyn yang baru datang menghampiri mereka.
"Karlyn, duduklah di sini makan bersama kami. Jika ada yang tidak suka, biarkan dia yang pergi." Sepasang mata milik Rachel semakin menajam mendengar ucapan sang mantan suami yang ia pikir sudah sangat keterlaluan.
__ADS_1