Bidadari Untuk Daddy

Bidadari Untuk Daddy
Kegelisahan Karlyn


__ADS_3

Tak mendapat dukungan sang anak, Rachel tentu tidak ingin kehabisan ide. Ia berusaha menjadi mommy yang baik agar tak ada siapa pun yang bisa menggeser namanya.


“Sayang, Jess mau dongeng apa? Biar mommy cari dan bacakan. Mommy juga bisa kok menceritakan dongeng. Atau kita bermain boneka barbie. Biar mommy belikan bonekanya.” Senyum di wajah Rachel mendadak semakin lebar tatkala melihat sang anak menganggukkan kepalanya.


“Benar mommy mau?” tanya Jesslyn memastikan dan Rachel pun menganggukkan kepalanya.


Seruan suara Jesslyn membuat Rachel hanya tersenyum puas. Matanya melirik Gavin yang hanya menatapnya kesal. Tak ada kata yang Gavin ucapkan di depan sang anak.


“Rachel benar-benar keterlaluan. Pikiran polos anaknya justru di permainkan. Aku tidak akan tinggal diam. Secepatnya pernikahanku dengan Karlyn harus terlaksana. Aku tidak ingin anakku terjerumus lebih dalam permainan wanita licik ini.” gumam Gavin terus memperhatikan hingga akhirnya Rachel pun memilih keluar dan pergi mencarikan beberapa alat main untuk sang anak.

__ADS_1


“Mommy pergi sebentar untuk membeli semuanya. Jess istirahat dulu nanti mommy akan langsung kesini setelah mendapatkan semuanya. Oke?” Anggukan kepala Jesslyn membuat Rachel pun berlalu tanpa mengatakan apa pun pada sang mantan suami.


Seperginya Rachel, kini tinggal Jesslyn dan sang daddy. “Ada apa, Sayang?” tanya Gavin mendekati sang anak yang kini mengerucutkan bibirnya.


“Apa benar Tante Karlyn jahat, Daddy? Mengapa dia tidak ada di sini saat Jess sakit? Apa Tante Karlyn marah dengan Jesslyn?” tanya menampakkan mata yang begitu sedih.


Sontak saja Gavin menggelengkan kepala dan tersenyum. “Tidak. Tante tidak marah sama sekali dan tidak jahat. Tadi Tante dan Bi Elis kemari, tapi Daddy menyuruh mereka pulang karena Tante sepertinya tidak sehat. Lagi pula di sini ada Daddy dan mommy. Akan sempit jika terlalu banyak orang bukan?” tanya Gavin yang mendapatkan anggukan kepala dari Jesslyn.


Sementara di tempat lain, tampak Erik yang menatap nanar berkas perceraian yang sudah ia ajukan. Bahkan sidang perceraian akan segera di gelar beberapa hari ke depan. Sungguh rasanya sangat berat meneruskan ini semua, namun bukan ia tak ingat ancaman yang di berikan oleh Gavin.

__ADS_1


“Argh!! Sialan mengapa harus membawa perusahaan? Karlyn, aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Aku menginginkanmu, Karlyn.” geram ia menjambak rambutnya frustasi.


Namun, apa pun yang ia lakukan tentu saja tak akan membuahkan hasil apa pun. Karlyn akan tetap menjadi mantan istrinya. Gavin akan sangat murka tentunya jika ia tidak menuruti permintaan pria itu.


Tanpa ia tahu di sini wanita yang tengah memenuhi pikirannya tengah memejamkan mata berusaha istirahat. Sayang sudah hampir setengah jam berlalu matanya tak kunjung tertutup juga.


“Bagaimana keadaan Jesslyn sekarang yah? Rasanya aku ingin pergi ke rumah sakit. Tapi Nyonya itu pasti akan mengusirku dan membuat Jesslyn sedih. Tidak, aku harus tetap di rumah saja. Kasihan Tuan Gavin jika aku membuatnya malu lagi.” Beberapa kali Karlyn bangun tidur bangun dan tidur lagi memikirkan semuanya.


Hingga di detik berikutnya ia pun menyerah memilih keluar kamar untuk menatap hamparan bunga di halaman samping rumah yang kebetulan sejuk.

__ADS_1


“Bunga mataharinya mekar banyak. Daunnya juga banyak yang tua. Sebaiknya aku membersihkan itu saja biar Jesslyn pulang semakin senang.” tutur Karlyn melangkah mendekati bunga-bunga kesayangan sang nona kecilnya.


__ADS_2