
Air mata menetes bukan karena sedih, Karlyn menjatuhkan air mata lantaran melihat betapa indah pemandangan di depannya saat ini. Bibirnya membungkam tatkala kebahagiaan tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata. Salar de Uyuni berada sekitar 200 kilometer sebelah selatan Ibu kota Bolivia La paz. Menjadi tempat yang Gavin pilih untuk memanjakan mata sang istri.
"Bagaimana? mamah menyukai ini?" tanyanya menatap pemandangan yang begitu menakjubkan. Langit dan bumi yang seolah meyatu seperti cermin begitu luas. Tak bisa menggerakkan kepala hanya binar bahagia yang terpancar di wajah Karlyn.
"Ini kebahagiaan yang sangat berlebihan, Pah. Indah sekali." tutur Karlyn memeluk tubuh sang suami.
"Semuanya tidak sebanding dengan cinta yang kamu berikan padaku dan juga Jesslyn. Sekarang kita nikmati hari berdua ini setelah dari sini kita akan melihat kuburan kereta api."
Keduanya menghabiskan waktu dengan berdua tanpa ada yang mengganggu. Sepanjang waktu Karlyn dan Gavin tak hentinya tertawa bersama. Mereka begitu menikmati waktu yang di suguhkan oleh sang suami hingga beberapa hari menjelajah di Bolivia.
***
Dua bulan sejak kepulangan dari Bolivia, akhirnya waktu yang di nantikan hadir juga. Karlyn mendapatkan kebahagiaan yang kian berdatangan.
__ADS_1
"Ini sungguh kan? Tuhan, ini tidak bercanda kan?" Air mata berjatuhan dan Karlyn memejamkan mata memeluk benda kecil yang merupakan alat testpack di genggamannya. Terisak sendiri di dalam kamar mandi, Karlyn beberapa kali melihat kembali meyakinkan jika ia melihat kebenaran.
Keluar dari kamar mandi usai membasuh wajahnya dengan air segar, Karlyn mencari sosok Elis yang sibuk di dapur.
"Elis! Elis!" Teriak beberapa kali memanggil pelayan hingga Elis berlari cepat mendekat ke arahnya.
"Nyonya, ada apa?" tanyanya dengan tak sabaran.
Cepat Karlyn memeluk tubuh sang pelayan dan menangis di pelukan Elis. Sungguh tak menyangka jika perjalanannya akan sebahagia ini dan Karlyn ingat betul jasa Elis yang membantunya pergi dari sang suami pertama.
"Nyonya, semuanya sudah garis takdir. Saya hanya perantara yang Tuhan kirim untuk Nyonya." tuturnya mengusap kedua lengan Karlyn seolah memberikan dukungan.
Karlyn membungkam bibirnya dan tersenyum tanpa menghapus air matanya yang membasahi wajah. "Aku aku hamil, Lis. Aku hamil!" Tak perduli apa yang Elis katakan, ia justru berteriak girang tanpa bisa menahan diri untuk tidak memberi tahu hasil test packnya.
__ADS_1
Mendengar itu lantas Elis membuka bibirnya syok dan tersenyum senang berikutnya. "Nyonya hamil?" tanyanya setengah berteriak heboh.
Karlyn menganggukkan kepala dan tertawa bahagia.
"Siapa yang hamil?" pertanyaan yang tiba-tiba saja terdengar dari arah pintu utama membuat wajah Karlyn dan juga Elis menoleh bersamaan ke sumber suara.
Di sana tampak seorang pria yang berdiri tegap dengan wajah penuh tanya. Sementara dua wanita yang menatapnya sama-sama mengembangkan senyum di wajah mereka.
"Papah sudah pulang?" Karlyn berjalan cepat mendekati sang suami usai menatap Elis yang juga tak sabar melihat reaksi sang tuan.
Karlyn bergerak mencium punggung tangan sang suami serta memeluknya erat. Tentu saja hal itu membuat Gavin heran meski ragu ia membalas pelukan sang istri.
"Ini, Pah." ujar Karlyn memberikan benda yang sedari tadi ia pegang.
__ADS_1
Kedua bola mata Gavin bergerak menatap sang istri lalu berpindah menatap benda yang ia raih dari tangan Karlyn.