Bidadari Untuk Daddy

Bidadari Untuk Daddy
Balasan Panggilan


__ADS_3

“Saya ingin tahu rumah suami Karlyn? dan apa yang membuatnya pergi dari suaminya?” Pertanyaan Gavin tentu saja tepat sasaran Elis. Sudah ia duga jika ini akan menjadi pembahasan utama kala Elis sukses mengantarkan teh hangat.


Sigap wanita itu beranjak dari berdirinya mendekat ke depan Gavin, tanpa di suruh ia duduk di kursi depan Gavin sembari memajukan tubuhnya.


“Namanya Tuan Erik. Tuan Erik?” Beberapa kali Elis mengingat namun ia sulit menyebutkan nama lengkap pria itu.


“Kami pergi dari rumah itu karena Tuan Erik pria yang jahat, Tuan. Dia menyiksa Nyonya Karlyn dan dia adalah pria hipersex. Itu sebabnya saya membawa kabur Nyonya Karlyn. Ah namanya Tuan Erik Farhat, Tuan. Saya tahu dimana rumahnya.” jawab Elis sangat antusias.


Ia berharap dengan kekuasaan Gavin, mereka akan dapat membalas perlakuan Erik sebelumnya pada mereka.


Ucapan demi ucapan yang Elis lontarkan sungguh membuat Gavin menatap beberapa kali terkejut. Pertama ia mengerutkan kening kala mendengar mama lengkap Erik, kedua ia menegakkan sandarannya saat mendengar jika Erik merupakan pria hiper, dan ketiga ia mengusap kasar wajahnya saat mendengar Elis yang berhasil membawa kabur sang nyonya.


Sunguh Gavin tak menyangka ada pria seperti Erik, tentu akan sangat menakutkan di mata wanita.


Hingga akhirnya Gavi memutuskan untuk mantap dengan tujuannya.


“Kita pergi sekarang?” tanyanya membuat Elis cepat menganggukkan kepala.

__ADS_1


“Tapi, Tuan berjanji tidak akan meninggalkan saya di sana atau menyerahkan saya pada Tuan Erik?” ujar Elis ketakutan.


Gavin hanya menanggapi dengan anggukan kepala. Sementara Elis sangat senang kali ini. Balas dendam terbaik bukanlah melukai fisik bagi Elis. Melainkan melukai hati pria itu.


Meski ia sendiri yakin, jika Erik tentu saja tidak mencintai Karlyn. Namun, bisa di patikan dengan kecantikan Karlyn dan kelembutannya pasti tak ada pria yang bisa menolak pesonanya.


Hingga akhirnya mereka berdua pun keluar dari ruangan kerja itu dengan Elis yang bersorak girang dalam hatinya. Kemenangan akan segera datang pikirnya.


***


“Astaga sudah sore sekali.” Karlyn terkejut melihat jam yang sudah menunjukkan setengah lima.


Itu artinya ia harus segera membersihkan diri dan menuju kamar Jesslyn.


“Tante…” sapan Jesslyn mengembangkan senyumannya kala melihat kehadiran Karlyn di pintu kamar dengan wajah tersenyum pula.


“Kamu sudah bangun, Sayang?” tanya Karlyn mendekat. Ia melihat Jesslyn tengah asih menata boneka di tempat tidurnya. Sepertinya ia baru usai bermain.

__ADS_1


“Maaf Tante ketiduran. Kira mandi yuk?” ajaknya yang tanpa sengaja membuat Jesslyn menatap penasaran.


“Tante habis menangis?” tanya Jesslyn yang langsung Karlyn jawab dengan gelengan kepala.


“Tidak, Tante tidak menangis. Tadi Tante tidurnya terlalu lama. Makanya seperti ini. Ayo sekarang mandi baru kita main di taman. Tante juga sudah mandi soalnya.”


Jesslyn mandi di bantu Karlyn, keduanya tampak begitu akrab meski mereka baru satu malam bersama. Rasanya Jesslyn terlihat sekali bergembira.


Diam-diam Karlyn membayangkan jika saat ini dirinya menjadi mommy Jesslyn. Sungguh senang rasanya, namun kala mengingat perkataan Gavin, senyum di wajah Karlyn menghilang saat itu juga.


“Tante? Tante?” Suara Jessly seketika membuat lamunan Karlyn buyar.


“Ada apa, Nak?” Panggilan yang terlontar begitu saja membuat Jesslyn senang mendengarnya.


“Mata Jess pedas kena sabun, Mommy.” jawab Jesslyn turut membalas panggilan Karlyn tak kalah menyenangkan.


Wajah Karlyn mendadak bingung.

__ADS_1


__ADS_2