Bidadari Untuk Daddy

Bidadari Untuk Daddy
Kebahagiaan


__ADS_3

Wajah sedih dan kecewa sosok Rachel yang frustasi kali ini kala menatap foto pernikahannya dengan Gavin membuatnya tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.


Mendengar kepergian Gavin, Jesslyn, serta Karlyn rasanya tak ada lagi peluang untuknya kembali mendapatkan keinginannya.


“Aku menyerah, Gav. Aku tidak pantas untuk Jesslyn. Aku akan mencari kebahagiaanku sendiri.” Rachel menyerah dan ingin fokus dengan karir yang ia bangun saat ini.


Sementara di sisi yang berbeda tampak Karlyn menyuapi Jesslyn makan. Senyum di wajahnya tak luput dari penglihatan Gavin yang duduk tak jauh dari kedua wanita itu.


Yah, sesuai dengan keinginan Jesslyn, mereka tinggal di villa yang memiliki danau asri dan pemandangan gunung yang begitu indah.


Tak sadar, Gavin mengembangkan senyumnya. Memperhatikan gerakan demi gerakan sosok Karlyn yang sangat menyayangi sang anak.


“Aku sudah jatuh cinta padanya…” gumam Gavin mengakui untuk kesekian kalinya.


“Daddy!” Sapa Jesslyn melihat kedatangan sang daddy.

__ADS_1


Karlyn mengapa dengan mengangguk hormat. Keadaan entah mengapa selalu canggung tiap kali Gavin mendekat padanya.


“Biar saya yang menyuapi Jesslyn.” ujar Gavin dan Karlyn pun menyerahkan makanan di piring pada sang suami.


“Tuan ingin makan sekarang?” tanya Karlyn mengingat hari sudah siang dan mereka belum makan selain Jesslyn yang minta makan di taman siang itu.


Suasana yang sejuk membuat mereka bebas keluar rumah kapan saja dan menikmati keindahan sekitar villa.


“Saya mau makan sekarang. Tolong bawakan kesini saja makanannya.” Patuh Karlyn segera pergi untuk menyiapkan makan sang suami.


Seperginya wanita itu, Jesslyn tersenyum-senyum melihat sang daddy yang justru menggantung tangannya di udara dengan sendok yang terisi makanan. Sementara matanya fokus memperhatikan sang istri yang masuk ke villa.


Ia menggelengkan kepala terkekeh mendengar ucapan sang anak. “Bahasa dari mana sih jatuh banget cintanya? Kamu ini masih kecil sudah tahu cinta-cintaan yah?” Pelan Gavin menyentuh kepala sang anak.


Rambut yang berjatuhan membuatnya takut menyentuh tubuh sang anak. Bahkan Jesslyn kerap kali merintih kesakitan di beberapa bagian tubuhnya.

__ADS_1


Tak lama setelah kekehan Jesslyn memudar, terdengar langkah kaki yang kembali mendekat.


“Tuan, ini makannya. Dan minumnya juga.” ujar Karlyn yang menaruh pada meja di taman itu.


Jeslyn melihat wajah sang daddy canggung sontak bersuara. “Mommy, tadi Daddy bilang katanya mau di suapin kayak Jess juga.” Manik mata Gavin membulat sempurna mendengar ucapan sang anak.


Padahal ia ingat jelas jika dirinya tak ada mengatakan itu pada Jesslyn.


“Sayang, kok kamu bicara seperti itu? Tidak boleh, Daddy tidak mengatakan itu.” elak Gavin yang tentu saja sangat malu.


Namun Karlyn yang gemas melihat ayah dan anak itu tiba-tiba muncul rasa beraninya. Dengan wajah tersenyum ia berucap. “Tuan benarkah ingin saya suapi? Tidak apa-apa, saya tidak masalah.” ujarnya dan Jesslyn hanya tersenyum melihat wajah kaku sang daddy.


“Em eh eh…”. Tergagap Gavin tak tahu harus berkata apa.


“Suap suap suap!” Seruan heboh terdengar dari mulut mungil Jesslyn.

__ADS_1


Hingga tangan Karlyn pun mendarat di bibir sang suami. Bahagia rasanya bisa melihat orangtuanya saling dekat. Hingga pelan pelan pandangan Jesslyn kembali buram. Beberapa kali matanya ia pejamkan untuk menerangkan pandangan dan tepukan di tangannya tak terdengar lagi.


Tertutuplah kini kedua mata yang berbinar bahagia itu. Kepalanya terjatuh menyandar pada sandaran kursi roda.


__ADS_2