
Pekerjaan di kantor hari ini akhirnya selesai dengan cepat. Meeting pun juga sudah usai ia tangani dengan baik. Perusahaan bisa berjalan dengan lancar tanpa hambatan hari ini. Tentu saja Gavin merasa lega untuk pertama kalinya. Sebab ia sudah bisa pulang ke rumah sebelum jam empat sore. Setengah hari ia gunakan untuk berpikir, kini ia mantap dengan keputusannya untuk mengambil langkah nekat ini.
Sepanjang jalan beberapa kali tangan pria itu mengusap kasar wajahnya. Supir di depan pun melihat jelas kegelisahan di wajah sang tuan saat ini. Beruntung perjalanan sore tak terlalu macet hingga akhirnya Gavin pun tiba di rumah dengan cepat.
"Selamat datang, Tuan." sapa Elis yang tengah menyiram bunga di halaman menunduk melihat sang tuan datang dengan menggenggam tas kerjanya.
Sementara Gavin hanya berdehem saja sebagai jawaban. Pria itu melangkah masuk ke dalam rumah untuk segera menemui sang anak. Suara decitan pintu terdengar pelan, rupanya sang malaikat kecil masih tertidur pulas saat ini.
Tak ingin membangunkan sang anak, justru kedatagan Gavin membuat kedua mata Karlyn terbuka. Ia kaget dan bangkit dari duduknya saat tertidur tanpa sengaja.
"Tuan," sapanya berdiri memberikan Gavin ruang untuk mendekati Jesslyn.
Usapan lembut tangan Gavin terlihat di kepala sang anak sebelum akhirnya pria itu berbicara pada Karlyn. "Ke ruang kerja saya sekarang." ujarnya dingin tanpa menatap wajah wanita yang tengah ia ajak bicara saat ini. Meski gugup, Karlyn pun hanya bisa mengangguk dan mengikuti langkah pria di depannya.
Keduanya berjalan dengan Karlyn yang menunduk di belakang Gavin. Hingga keduanya pun tiba di ruang kerja milik Gavin. Ruangan yang cukup luas dan rapi tentunya. Namun, sedikit pun Karlyn tak berani melihat ruangan yang ia tempati saat ini.
Gavin duduk dan menyerahkan satu lembar kertas kecil pada Karlyn yang berdiri di depan mejanya. "Ini cek dua ratus juta sebagai hadiah. Dan saya mau kau menikah dengan saya untuk Jesslyn." Mendengar ucapan Gavin sontak saja membuat kedua mata Karlyn membulat sempurna. Bahkan bibirnya yang semula bungkam sudah terbuka lebar.
Tak ada kata yang bisa ia ucapkan selain keterkejutan yang Gavin lihat. "Menikah? Tuan..." ucapan Karlyn terhenti saat Gavin memotongnya.
"Saya hanya meminta kamu menikah dengan saya, tidak ada yang lainnya. Ini semua demi Jesslyn. Saya tidak ingin menyesal jika sampai dia kenapa-napa bahkan keinginannya untuk memiliki mommy belum bisa saya wujudkan." Karlyn tak tahu lagi harus bagaimana saat ini.
__ADS_1
Sungguh hidupnya begitu menyedihkan. Lari dari pernikahan pertama berniat ingin menata hidup yang lebih baik kini ia justru harus kembali menikah dengan keadaan yang terpaksa. Tidak, ini bukan keinginannya. Karlyn ingin menikah atas dasar cinta.
Seketika air mata wanita itu menetes tanpa permisi. Ia begitu marah pada takdir, mengapa lagi-lagi harus dirinya yang masuk ke dalam permainan memuakkan ini.
"Saya tidak bisa, Tuan." jawabnya takut-takut terdengar lirih.
"Karlyn, saya akan tetap memaksa kamu demi anak saya. Apa yang membuatmu tidak bisa? Karena cinta? Baiklah aku tidak akan menyentuhmu. Kita hanya hidup selayaknya pasangan suami istri untuk anaknya. Setelah semuanya membaik, kau boleh pergi. Dan aku akan menjamin kehidupan yang layak untukmu." penuturan Gavin sungguh sangat menyakitkan.
Karlyn sampai memejamkan mata menahan sakit di dadanya. Bukan itu yang ia permasalahkan. Melainkan ia ingin menikah untuk terakhir kalinya dengan menyerahkan semua hidupnya untuk sang suami. Bukan pernikahan yang tak di inginkan seperti saat ini lagi.
"Besok kita akan segera menikah, dan saya tidak mau mendengar penolakan. Jika sampai terjadi apa-apa dengan anak saya karena kau. Saya yang akan menuntutmu, Karlyn. Aku sudah berniat memohon padamu untuk menikah denganku." Sungguh menyakitkan kata-kata yang keluar dari mulut Gavin.
Tanpa ia tahu jika di dalam hati pria ini sendiri pun merasa kasihan. "Maafkan saya, saya tidak bermaksud menambah bebanmu. Tapi saya harus bersikap keras agar kau mau menerima pernikahan ini demi Jesslyn." gumam Gavin yang melihat bagaimana Karlyn terisak di depannya.
Matanya membola kaget mendengar jika wanita pilihan anaknya rupanya sudah menikah. "Jadi ini alasan di wajahmu penuh luka?" tanya Gavin sudah bisa menduga saat ini. Pelan, Karlyn pun menganggukkan kepalanya mengiyakan. Dan jawaban itu tentu saja membuat Gavin menemukan jalan lagi.
"Kita pergi sekarang dan berikan alamatnya. Biar aku yang mengurus semuanya." tutur Gavin dengan mudahnya.
Karlyn tertegun mendengar ucapan Gavin. Ia menggeleng takut. "Tidak, Tuan. Saya takut." jawab Karlyn jujur. Mengingat bagaimana tidak warasnya sang suami, tentu saja Karlyn tidak ingin kembali ke rumah itu lagi.
Bagaimana jika saat ia mengantar Gavin justru Erik menahannya untuk tetap di rumah itu. Jelas hak Erik lebih besar dari Gavin atas Karlyn, Mereka sampai detik ini masih sah menjadi suami istri yang sah. Sementara Gavin hanyalah majikan yang akan menikahinya. Bahkan Erik bisa saja menuntut pria ini atas dasar tuduhan membawa lari istri orang. Karlyn tak ingin menimbulkan masalah lagi. Sudah cukup satu malam ini hidup dengan tenang dan damai.
__ADS_1
Melihat penolakan dari Karlyn, Gavin pun memintanya untuk segera pergi. Gavin tahu benar jika Karlyn terlihat sangat trauma saat ini. Sementara ia berusaha berpikir bagaimana caranya membuat suami Karlyn menceraikan wanita itu. Beberapa waktu Gavin habiskan dengan berpikir di ruang kerjanya.
Karlyn yang keluar dari ruangan sang tuan dengan kepala tertunduk dan air mata yang ia usap membuat Elis segera berlari mendekatinya.
"Nyonya, eh Karlyn ada apa? Mengapa menangis? Apa tuan memaksamu?" pertanyaan konyol Elis membuat Karlyn membulatkan mata tak percaya.
Seketika Elis pun sadar akan bibirnya yang keseleo. Ia membungkan bibir cepat dan meralat ucapannya. "Ada apa? Mengapa menangis?" tanyanya lebih baik.
Mata Karlyn yang merah sehabis menangis melihat sekeliling memastikan tak ada orang. "Tuan memaksaku untuk menikah dengannya demi Jesslyn. Itu mana mungkin." jawab Karlyn jujur tak bisa memendam semuanya seorang diri.
"Hah? Menikah? Wah...laris manis dong." ucap Elis kembali terlontar tanpa saringan.
Melihat bagaimana reaksi konyol Elis, Karlyn tak sanggup lagi bicara. Ia memilih berlari ke dalam kamar untuk memikirkan semuanya dan menenangkan pikirannya. Sedangkan Elis yang berpikir cerdas tampak tersenyum senang.
"Wajah lebih tampan Tuan Duda, Rumah lebih besar dan mewah Tuan Duda, Sangar lebih sangar Tuan Duda. Aku yakin ini bisa di atasi dengan Tuan. Biar saja tuh Tuan bajingan di tindas. Dengan begitu Nyonya Karlyn bisa kembali jadi Nyonya ku lagi." kekehnya segera berjalan mendekati dapur untuk mengambil gelas dan piring kecil sebagai wadah air hangat.
Tepat sasaran dengan akal bulus Elis. Kini ia sudah berhenti di depan pintu ruang kerja Gavin kala mendengar panggilan sang tuan. Yah, Elis sengaja mengantar air hangat ke ruang kerja pria itu demi memancing sang tuan untuk memakai jasa dirinya.
"Elis?" panggilan Gavin seketika membuat senyuman di wajah Elis mengembang dan sirna di saat ia membalikkan badan.
"Ya Tuan, ada apa?" tanyanya tampak polos sekali.
__ADS_1
Sejenak Gavin menatap Elis jeli, dalam pikiran pria itu Elis pergi bersama Karlyn sudah pasti mereka kenal dekat. Bahkan Gavin ingat jelas bagaimana saat keduanya kemarin datang ke rumahnya. Elis yang memanggil Karlyn, sungguh semua begitu muda Gavin susun puzzle di pikirannya.