Bidadari Untuk Daddy

Bidadari Untuk Daddy
Permohonan Rachel


__ADS_3

Tangisan dan pelukan yang tumpah di tubuh pria beranak satu itu terpaksa membuat sepasang mata yang melihatnya secara dekat memejam terpaksa. Entah mengapa saat ini dadanya terasa kian sesak. Yah Karlyn merasakan dadanya terhimpit bebatuan dari kiri dan kanan. Tak kuasa menjadi penonton kemesraan yang tak seperti terlihat itu, Karlyn berlalu masuk ke dalam rumah. Di perjalanan dari halaman ke dalam rumah satu tetes air matanya jatuh di pipi sebelah kiri. Sadar atau tidak ia tengah merasakan sakit hati untuk pertama kalinya.


Berpikir saat ini hanya butuh waktu untuk meyakinkan suaminya jika pernikahan mereka layak di pertahankan, nyatanya Karly melupakan sosok wanita yang pernah berperan penting dalam hidup Gavin. Rachel masih berada di sekitar mereka, tentu hal itu tak akan mudah.


"Nyonya," Elis berjalan cepat mendekati sang majikan. Ia tahu sejak kedatangan Rachel barusan tentu akan sangat menyakiti hati Karlyn dimana ia berstatus sebagai istri saat ini.


Barulah Karlyn menekan kedua matanya menumpahkan seluruh air mata itu. Tangannya memukul dada miliknya sendiri. Ia menangis terisak dan Elis memeluknya.


"Lis, dadaku sakit. Aku sakit melihatnya, Lis. Merek berpelukan." Karlyn mengadu pada sang pembantu sekali gus teman seperjuangan.

__ADS_1


Elis tampak sangat paham, ia mengangguk dan mengusap lembut punggung sang majikan. "Nyonya, yang sabar yah? Saya yakin Tuan Gavin tidak ada perasaan sama sekali pada Nyonya Rachel. Ini murni karena mereka berduka." ujarnya meyakinkan pada sang majikan.


Meski dalam hati rasanya Elis sendiri geram melihat Gavin yang terlalu larut dalam kesedihan hingga tidak memikirkan bagaimana perasaan Karlyn yang sebagai istrinya.


"Aku terlalu egois kan, Lis? Aku terlalu egois. Mereka adalah kedua orangtua Jesslyn. Kenapa aku sejahat ini? Jesslyn pasti akan benci padaku, Lis?" Karlyn menangis terus terisak mengingat sosok bocah yang tentunya akan jauh lebih tenang di atas sana melihat kedua orangtuanya berbaikan dan bersama. Bukan dengannya, tentunya. Rachel adalah ibu yang sudah melahirkan Jesslyn ke dunia ini.


"Maafkan Mommy, Jess. Mommy benar-benar jahat ingin mommy Rachel dan Daddy Gavin pisah semakin jauh. Mommy sadar mommy egois." ujar Karlyn bermonolog dalam hatinya.


Karlyn tak berkomentar apa pun saat mendengar ucapan sang teman. Ia hanya melampiaskan sakitnya pada air mata yang terus berjatuhan.

__ADS_1


Tanpa keduanya ketahui di luar sini Gavin telah melepas paksa pelukan dari tangan Rachel, mantan istrinya.


"Hel, apa yang kau lakukan?" pekik Gavin menatap tajam pada wanita yang meneteskan air mata di depannya saat ini.


Rachel berjongkok di depan Gavin yang masih duduk di kursi taman. Ia menggenggam tangan Gavin sangat erat. Air mata bahkan terus berjatuhan.


"Gav, awalnya aku mengira memulai dengan kehidupan baru adalah hal yang baik. Tetapi setelah kehilangan Jess, aku sadar Gav. Aku tidak bisa. Aku ingin kita bersama kembali, aku ingin kita bersama mengenang malaikat kecil kita. Jesslyn adalah anak kita, Gav." mohonnya berterus terang jika ingin meminta kembali bersama.


Mendengar itu tentu saja Gavin sangat murka. "Apa yang kau katakan, Hel? Aku sudah menikah dan sampai kapan pun pernikahanku dengan Karlyn akan tetap bertahan. Jesslyn telah memintaku berjanji untuk menjaga mommy Karlynnya." Telak Rachel tak dapat berucap apa pun lagi.

__ADS_1


Jika menyangkut hati Gavin, ia masih bisa bersikeras. Namun, ini yang ia dengar adalah permintaan sang anak sendiri. Bukankah itu terdengar lebih menyakitkan? sang anak menginginkan daddynya bersama wanita lain di banding dengan ibunya sendiri. Pelan RachelĀ  menggelngkan kepala tak percaya.


__ADS_2