Bidadari Untuk Daddy

Bidadari Untuk Daddy
Hari Yang Ceria


__ADS_3

Kesedihan yang kerap kali menguasai pikiran Gavin, hari pertama ini adalah hari yang tak di sangka oleh Karlyn. Binar senyum bahagia dari bibir dan kedua mata wanita itu terpancar sempurna.


Tangannya tampak bergerak lincah membuat sarapan pagi untuk sang suami. Semangat yang terlihat begitu beda dari hari-hari sebelumnya. Bahkan selagi memasak bibirnya tak henti terus tersenyum.


“Wah wah Nyonya pagi-pagi sudah menabur pelangi di dapur.” Elis tampak datang menggoda sang majikan. Dimana senyuman dari wajah Karlyn seketika hilang. Ia menoleh melihat sosok yang tiada hari tanpa menggoda.


“Sudah ayo bantu aku dari pada kerjanya menggoda terus. Aku jodohkan sama pak satpam baru tahu kamu.” Ancam Karlyn membuat Elis seketika bungkam.


“Selamat pagi.” Sapaan hangat yang pertama kali terdengar seiring suara langkah kaki berbalut pantofel mencuri perhatian dua wanita di dapur.


Elis membuka mulutnya lebar mendengar bagaimana sang tuan menyapa. Sementara Karlyn tampak hanya tersenyum sesaat baru ia membalas sapaan sang suami.


“Selamat pagi, Pah.” suara Karlyn sontak membuat Elis menambah lebar lubang mulutnya.


“Hah? Pah? Ini benar yang aku dengarkan?” gumamnya tanpa sadar masih terdengar oleh mereka.

__ADS_1


Namun, bukannya perduli atau beniat cerita. Karlyn justru menemui sang suami di meja makan. Gavin duduk di kursi meja makan dengan tenang. Hanya sepasang mata saja yang bergerak melihat sang istri sibuk menata makan di piringnya.


“Selamat makan.” Karlyn tersenyum lalu ikut makan dengan suaminya.


Untuk saat ini Gavin ingin makan berdua dengan sang istri. Itu sebabnya ia meminta Elis untuk makan setelahnya.


“Lis, pagi ini kalian makan bersama yah? Kasihan mereka jika makan sendiri-sendiri. Saya mau makan bersama istri saya dulu.” ujar Gavin tanpa memandang Elis yang diam mematung.


“Ba-baik, Tuan.” jawab Elis patuh.


“Jalan lah jika ingin jalan. Bawa Elis bersama, selalu di rumah pasti kau akan bosan.” pintah Gavin.


Bukannya girang, Karlyn justru tersenyum. “Tidak. Aku lebih nyaman di rumah. Bukankah seorang istri tempatnya adalah di rumah? Menunggu suaminya pulang bekerja?”


Senang tentu mendengar penuturan sang istri, Gavin mengusap lembut puncak kepala sang istri lalu mengecupnya penuh cinta. Rasanya begitu bahagia hari ini. Keduanya sudah merasa tak ada jarak atau kecanggungan lagi. Begitu pun dengan Elis yang melihat, turut merasa bahagia.

__ADS_1


Dari dalam rumah di balik tirai jendela, ia memeluk tubuhnya sendiri. “Ah indahnya melihat Nyonya mendapat pria yang tepat. Tuan Gavin memang suami yang tepat untuk Nyonya. Semoga Nona Jesslyn juga bahagia di sana melihat hasil usahanya, perjuangan anda tidak sia-sia Nona Jess. Mereka sekarang sudah saling mencintai.” ujar Elis yang mengingat sosok nona kecilnya yang kini sudah tiada lagi.


Semua perubahan tak hanya berdampak dalam rumah, tetapi di perusahaan juga. Gavin beberapa kali mengejutkan karyawannya.


“Ada apa?” Pertanyaan pertama yang ia lihat kala seorang asisten pribadinya masuk ke ruang kerja dengan wajah tegang.


Ragu namun pria itu tetap melanjutkan niatnya. “Tuan, istri saya sedang sakit, boleh saya ijin bawa ke rumah sakit? Setelah itu saya langsung ke kantor lagi, Tuan.” Berharap ada keajaiban sebab hari ini adalah hari yang padat dengan jadwal kerja mereka.


Gavin yang mendengar alasan sang asisten tanpa berpikir panjang langsung menganggukkan kepalanya.


“Pergilah. Kembali besok jika istrimu sudah sehat. Jika belum beri kabar kantor saja untuk ijin tidak masuk. Pastikan istrimy baik-baik saja jika kurang dana hubungi aku segera.”


Mendengar perintah dari sang atasan betapa kagetnya pria di depan Gavin saat ini. Ia tak menyangka mendengar Gavin sangat baik padanya, cepat ia pun menganggukkan kepala dan berlalu pergi sebelum sang atasan berubah pikiran.


“Baik, Tuan. Terimakasih banyak, Tuan.” tuturnya dengan senang menutup pintu ruang kerja sang bos.

__ADS_1


Gavin pun fokus kembali pada pekerjaannya sendiri. Berusaha fokus meski dalam hati ia begitu tidak sabar untuk segera pulang bertemu istrinya. Senyuman sekilas terukir kala membayangkan wajah cantik Karlyn yang tersenyum menyambut kepulangannya nanti.


__ADS_2