
Perdebatan yang berakhir membuat Rachel bungkam usai mendengar ucapan sang mantan suami. Betapa Gavin ingat semua perlakuannya yang mengacuhkan sang suami dan anak hingga perceraian pun terjadi. Dan kini semua sudah sangat terlambat untuk dirinya kembali.
"Berperilaku baiklah atau kau akan ku buat pergi dari sini tanpa bisa melihat Jesslyn lagi?" ancaman yang tidak main-main dari tatapan mata Gavin membuat kepala Rachel mengangguk patuh.
Meski jauh dalam hatinya ia sungguh tidak rela mendengar itu semua. Dan kali ini ia pun hanya terpksa menerima permintaan sang mantan suami demi ia tetap bisa berada di sekitar mereka tentunya.
"Keluarga pasien..." suara sang dokter terdengar dari arah ruang Jesslyn berada saat ini. Pintu yang terbuka membuat Gavin dan lainnya antusias mendekat.
"Dokter, anak saya bagaimana?" tanya Gavin dengan wajah tegangnya.
Dokter terdiam beberapa saat hingga ia memilih untuk mengajak kedua orang tua Jesslyn masuk ke ruangannya.
"Orangtua pasien, ikut ke ruangan saya. Ada yang harus saya beritahu..." ucap Dokter membuat Gavin sontak menggenggam tangan Karlyn untuk ikut dengannya.
"Gav, aku mommynya Jesslyn." ujar Rachel membuat Gavin menoleh dan menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Nyonya benar, Tuan. Saya tidak perlu ikut." tutur Karlyn sadar akan posisinya yang hanya ibu sambung.
"Kamu yang akan menjaga Jesslyn ke depannya. Kamu akan jauh lebih penting mengetahui keadaan anak kita." ujar Gavin membuat mulut Rachel terbuka tak percaya.
Dia adalah satu-satunya wanita yang mengandung dan melahirkan anak kecil bernama Jesslyn. Namun, begitu mudahnya Gavin mengatakan siapa yang lebih berhak mendengar kabar Jesslyn dari dokter saat ini. Sungguh, Rachel sangat sangat membenci wanita di depannya ini.
"Tuan, tidak apa. Saya di sini saja mendengar dari anda nanti. Biarkan Nyonya ikut masuk mendengarkan." jawab Karlyn.
Gavin pun pelan melepaskan genggaman tangannya pada sang istri baru itu. Ia melangkah lebih dulu dan Rachel pun mengikuti di belakang. Saat melewati tubuh Karlyn, tampak jelas Elis melihat bagaimana Karlyn menunduk di tatap setajam mungkin oleh Rachel. Tatapan yang bermakna pertempuran akan di mulai.
Bukannya memberi jawaban, Karlyn hanya bisa tersenyum kecil menatap Elis. "Terimakasih, yah Lis." ujarnya dan mendapat anggukan kepala saja.
Beberapa menit setelah tiba di ruangan dokter dan mendengarkan penjelasan sang dokter. Air mata Gavin menetes mendengar keadaan sang anak yang sudah tinggal menunggu waktu saja. Segala cara telah ia upayakan agar Jesslyn terselamatkan dari kata dokter yang menyimpulkan waktu hidup sang anak. Namun, semua yang ia dengar hari ini rasanya sia-sia.
Begitu pun dengan Rachel yang kaget jika sang anak sampai separah ini ternyata. Keluar dari ruangan dokter, Gavin hanya melangkah gontai tanpa menatap apa pun yang ia lalui saat ini. Sementara Rachel mengejar langkah sang mantan suami.
__ADS_1
"Gav, Gavin! Tunggu." teriaknya menggenggam tangan Gavin.
"Kamu jangan seperti ini. Aku tahu Jess sedang parah, mungkin dengan kita bersatu kembali anak kita bisa sembuh. Ayolah, Gav. Aku yakin ini satu-satunya jalan. Tolong lupakan semua masa lalu yang aku perbuat. Aku akui aku salah. Tapi aku tidak akan mengulainya lagi. Ayo kita buat kenangan indah untuk anak kita semoga Jesslyn bisa semangat untuk sembuh lagi."
Mendengar panjang lebar Rachel berbicara, seketika wajah Gavin merah menahan amarahnya. Ia menghempaskan kasar tangan Rachel danĀ meninggalkan wanita itu tanpa mengatakan apa pun lagi. Sebab Gavin tahu apa pun yang ia bicarakan tak akan masuk ke dalam pikiran wanita yang sudah berambisi untuk mengejar apa yang bukan miliknya lagi.
Yah, Gavin tahu dalam diri Rachel sungguh tidak ada niat untuk memperbaiki kesalahan yang ia perbuat selain untuk mengejar apa yang ia inginkan saat ini. Yaitu kembali menjadi Nyonya Gavin dan ibu dari Jesslyn. Entah apa yang terjadi pada wanita itu, yang pasti Gavin tidak akan mau kembali padanya. Mencari tahu sebabnya Rachel kembali, rasanya Gavin tidak memiliki waktu sesenggang itu. Jesslyn lebih membutuhkan waktunya.
Meninggalkan Rachel yang menatap punggung tegap nan rapuh, justru Gavin mendekati sosok istri yang baru beberapa jam lalu ia nikahi itu. Karlyn yang tidak menyadari kedatangannya saat duduk di kursi tunggu sembari memijat kepalanya tersentak kaget mendapat pelukan tiba-tiba dari tubuh besar sang suami.
"Tuan..." Mendengar isakan tangis Gavin, Karlyn urung berbicara.
Matanya menatap Elis yang menganggukkan kepala pelan seolah memberi tahu jika jangan menolaknya.
Pelan Karlyn mengangkat tangan dan mengusap punggung kokoh milik Gavin. Ia teringat dengan Gavin yang baru keluar dari ruangan dokter. Itu artinya pria ini menangisi kondisi sang anak. Mata Kalryn pelan tampak menggenang air mata yang hendak jatuh. Jesslyn dalam keadaan tidak baik-baik saja saat ini. Itu artinya ia pun tidak bisa tenang. Bagaimana pun juga Jesslyn adalah anak yang sudah memiliki tempat tersendiri di hatinya.
__ADS_1