
Hari yang berbeda rasanya pagi ini dimana ketika bangun, Gavin tak lagi menemukan sang anak berada di kamarnya seperti hari biasa. Manik mata hitam ayah satu anak itu mengedar memastikan jika di kamar itu san anak tidak ada mau pun di kamar mandi. Beberapa tempat ia datangi hingga balkon kamar akhirnya Gavin memutuskan untuk keluar kamar.
Rumah tampak sangat sepi, bahkan hanya ada Elis yang tengah berkutat di dapur pagi ini. Merasa penasaran, pria itu bertanya pada sang pelayan baru.
"Mba, dimana anak saya? Apa bersama mba yang satunya?" tanya Gavin tak tahu nama dua wanita yang bekerja bersamanya saat ini.
Sebab ia sendiri tak pernah bertanya dan kedua wanita itu juga tak berani mengenalkan siapa nama mereka jika tidak di tanya. Yah kurang lebih seperti itulah kekakuan yang tercipta di rumah megah ini.
"Nama mba nya itu Mba Karlyn, Tuan. Kalau saya Elis." Gavin hanya mengangguk tanpa mengatakan apa pun.
Elis tersenyum melihat reaksi sang tuan. Ia sangat terpesona setiap kali melihat pria ini sangat tampan menurutnya. Samar-samar Gavin mendengar suara tawa saat Elis sibuk menatapnya dalam. Merasa tak nyaman di tatap seperti itu sebab Elis tak juga menjawab pertanyaannya. Akhirnya Gavin memilih pergi menuju sumber suara yang berasal dari luar rumah.
"Jesslyn?" panggilnya dan detik berikutnya Gavin melihat sang anak tengah tertawa melihat Karlyn yang bergerak seperti orang sedang dance. Tubuh gemulai dan indah itu membuat Gavin terdiam beberapa saat. Tatapan matanya tak teralihkan pada gerakan tubuh Karlyn.
Jangan lupakan wajah wanita itu yang tersenyum manis kepada Jesslyn, jelas Gavin tahu wanita itu tengah mengajak Jesslyn bermain di taman rumah sembari menghiburnya. Sungguh, rasanya Gavin ingin memeluk sebagai tanda terimakasih pada Karlyn telah membuat anaknya tertawa lepas seperti itu.
"Wah...keren Tante. Dance nya bagus banget, Jess juga mau seperti itu." tutur Jesslyn yang tertarik melihat Karlyn di depannya bergerak dan kini telah berhenti.
"Hehehe kamu suka yah? Tante sih udah kaku nggak selincah dulu pas sekolah. Tapi masih agak bisa sih." celetuk Karlyn yang kini sudah berjongkok di depan Jesslyn.
"Sudah waktunya sarapan. Kita masuk yuk?" ajak Karlyn hendak mendorong kursi roda Jesslyn namun terhenti saat melihat sosok tinggi yang berdiri di dekat mereka.
"Daddy? Daddy sudah bangun?" tanya Jesslyn melihat sang daddy berdiri dengan wajah yang sudah rapi dan siap beraktifitas.
__ADS_1
Gavin tak menjawab melainkan hanya tersenyum saja. Hari ini ia senang selain di ringankan tenaganya. Jesslyn juga tampak jauh lebih ceria. Jujur saja selama ini anak mungil itu sering kali meminta sang daddy untuk menghubungi sang mommy untuk pulang. Ia merasa kesepian tak ada sang mommy yang bersamanya. Sayangnya Gavin tak pernah menuruti permintaan sang anak. Sebab meski ia sendiri memaksa mantan istrinya kembali, wanita itu pasti akan acuh pada Jesslyn.
"Pagi ini kamu tinggalin Daddy sendirian? Daddy ke kamar ternyata sudah kosong." ujar Gavin mencubit gemas pipi tirus sang anak.
"Maafkan Jess, Daddy. Tadi Jesslyn minta di ajak main sama Tante Karlyn. Jess ingin lihat taman rumah ini di pagi hari." ceritanya yang mana membuat Gavin mengangguk paham. Sebab biasanya ia hampir tak pernah membawa anaknya di pagi hari.
Di waktu biasanya, Gavin akan membawa Jesslyn mandi dan sarapan lalu minum obat. Setelah itu Jesslyn akan menemani sang daddy di ruang kerjanya untuk melakukan pekerjaan. Usai dengan pekerjaan barulah Jesslyn tidur siang dan Gavin kembali bekerja hingga sore barulah ia memiliki waktu untuk sang anak bermain.
Kegiatan yang sama di tiap harinya rasanya lama kelamaan membuat Jesslyn mulai jenuh dan pagi ini akhirnya ia mendapatkan seseorang yang bisa mengusir kejenuhannya. Hingga tak lama kemudian terdengar suara Elis memanggil.
"Tuan, Nona Jesslyn, sarapannya sudah siap. Ayo silahkan sarapan." Semua pu menoleh dan tersenyum, sedangkan Jesslyn tampak tersenyum-senyum memperhatikan Karlyn dan juga sang daddy.
"Ada apa, Sayang?" tanya Gavin melihat sang anak yang menatapnya dengan tatapan penuh trik. "Daddy dan Tante seperi mommy dan daddy Jess. Coba saja Tante adalah mommy Jess saat ini pasti seru. Bi Elis memanggil kita sarapan bersama, Jesslyn bahagia, Dadd. Di temani sepanjang hari bersama mommy Karlyn seperti ini." tuturnya yang tak ingat menyematkan panggilan tante pada Karlyn.
Kedua mata Gavin menatap ke arah Karlyn yang kini tak lagi tersenyum melainkan menundukkan kepalanya. "Jangan bicara seperti itu, Sayang. Lihat Tante mu jadi malu. Ayo kita masuk dan sarapan." ajak Gavin yang mendorong kursi roda sang anak untuk masuk ke dalam rumah di ikuti oleh Karlyn jauh di belakang.
"Kenapa tidak di makan, Jess?" tanya Gavin heran.
Takut-takut Jesslyn menggelengkan kepala. "Jess tidak mau makan, Dadd. Tubuh Jesslyn sakit lagi rasanya." ucapnya lirih sontak membuat Gavin menghentikan makannya saat itu juga.
Kepanikan terlihat jelas di wajah pria satu anak itu. "Sayang, sakit? Apa yang sakit? Boleh Daddy lihat?" tanya Gavin ingin menyentuh tubuh sang anak namun Jesslyn memberontak.
"Sakit, Daddy. Jangan di sentuh tubuh Jesslnyn." tuturnya menundukkan kepala.
__ADS_1
Gavin pun menatap sang anak dengan tatapan sedih.
"Jess, ada apa? Tuan, ada apa?" Karlyn yang melihat pun segera mendekat takut-takut ada hal yang tidak mereka sukai dengan masakan Elis pagi ini.
Jesslyn segera menjawab usai melihat sang daddy yang tidak sanggup bicara. "Tubuh Jess sakit, Tante. Jesslyn ingin baring di kamar saja." jawabnya lirih.
Dan Karlyn sudah menduga ini pasti karena sakit yang di derita anak ini. Sungguh rasanya Karlyn tak sampai hati melihat anak sekecil dan selucu Jesslyn harus merasakan sakit yang teramat seperti ini.
"Ayo tante antar ke kamar. Biar Tante suapin sarapannya di kasur yah?" Jesslyn hanya mengangguk.
Sebab saat seperti ini ia harus tetap meminum obatnya. Dan obat tidak akan bekerja dengan baik jika tidak makan lebih dulu.
Gavin yang terdiam sedih di meja makan tinggal seorang diri. Sementara Jesslyn telah masuk ke dalam kamar bersama dengan Karlyn. Hal yang paling Gavin takutkan ketika sang anak harus pergi dari hidupnya. Sungguh Gavin tak akan sanggup meski sekedar membayangkan itu saja.
"Jess kesepian, Daddy." ucapan sang anak terngiang seketika di kepala Gavin.
Beberapa kali bahkan pria itu memijat keningnya yang terasa tak mampu memikirkan semuanya lagi saat ini. Tatapannya beralih pada wanita yang bernama Karlyn. Tampak ia berjalan menuju kamar sang anak kembali usai mengambil makanan Jesslyn yang belum sempat ia makan tadi.
"Dadd, Jess pingin sekali tidur di sini ada mommy. Kan di sebelah sini ada Daddy, biar bukan bantal guling lagi yang Jess peluk kalau balik ke sini." ceritanya beberapa malam lalu sebelum pertemuan mereka dengan Karlyn dan Elis di taman danau itu.
***
"Wah akhirnya habis juga sarapannya. Jesslyn, sekarang waktunya minum obat yah? Biar cepat sembuh." ujar Karlyn tersenyum senang usai menyuapi Jesslyn sarapan.
__ADS_1
Senyuman di wajah Jesslyn menandakan jika ia pun senang di perlakukan seperti ini meski beberapa kali ia tampak menahan sakit di tubuhnya. Anak yang kuat menurut Karlyn bisa menahan sakit tanpa menangis. Mungkin terlalu lama merasakan sakit hingga membuat Jesslyn lebih kebal saat ini.
"Kalau Jess sembuh, berarti Tante tidak kerja di sini lagi dong? Tidak. Jess mau seperti ini terus yang penting tidak kesepian lagi." tuturnya membuat Karlyn kaget.