
Sesampainya di rumah sakit, Jesslyn pun langsung di larikan ke UGD. Sementara Rachel bolak balik menunggu dokter keluar. Wajahnya tampak tegang.
“Tidak, ini bukan salahku. Ini salah wanita itu. Dia yang teledor menjaga Jesslyn. Iya, Gavin harus marah padanya. Bukan denganku.” Beberapa kali Rachel tampak meyakinkan diri sendiri agar tenang dan tidak takut.
Sebab, dalam hati yang paling dasar ia sendiri tahu jika penyebab awal Jesslyn terjatuh tentu karena ingin mendekat padanya.
Beberapa kali tangannya di gigit kecil sebagai pelampiasan kekhawatiran.
“Aku harus menghubungi polisi. Iya, dia harus di penjara sebelum Gavin datang.” ujarnya meraih ponsel.
Namun, belum sempat Rachel menelpon polisi. Tangannya lebih dulu di genggam erat oleh Karlyn.
“Nyonya, saya mohon. Maafkan saya, Nyonya. Saya benar-benar tidak tahu ini akan terjadi. Saya mohon, Nyonya. Maafkan saya.” Karlyn menangis memohon ampun hingga ia tidak mendapatkan jawaban dari Rachel. Dan kini ia pun menurunkan tangan usai melihat sang dokter sudah keluar.
“Dok, bagaimana keadaan Jesslyn?”
“Dokter, anak saya kenapa?” Rachel dan juga Karlyn pun tampak sama-sama bertanya pada dokter.
“Syukurlah Nona Jesslyn segera di bawa ke rumah sakit. Keadaan tubuhnya yang tidak stabil membuatnya sangat mudah drop. Saya rasa akibat jatuh tidak ada yang serius. Hanya saja tadi kemungkinan syok dan mengakibatkan pingsan. Dan barusan kami melihat Nona Jesslyn mengeluarkan darah di hidungnya. Saat ini biarkan kami menangani lebih lanjut.” Keterangan dokter membuat Rachel semakin takut.
Begitu pun dengan Karlyn yang membungkam bibirnya tak menyangka. Ia takut terjadi sesuatu dengan Jesslyn.
“Kamu harus terima akibatmu.” Maki Rachel meneruskan panggilannya pada pihak polisi.
Mendengar hal itu jantung Karlyn seketika berdetak sangat cepat. Dalam pikirannya apakah akan seperti ini jalan hidupnya sekarang?
“Nyonya, tidak. Jangan penjarakan saya.” Air mata Karlyn pun menetes semakin deras.
__ADS_1
Sementara di perjalanan, tampak Gavin membulatkan mata saat melihat isi pesan dari mantan istrinya.
“Jesslyn!” ujarnya kaget. Saat itu juga perjalanan pulang pun semakin di percepat. Beberapa kali Gavin meminta sang supir untuk lebih laju lagi mengendarai mobil.
Tak henti-hentinya Gavin menghubungi Karlyn. Sayang wanita yang ia hubungi kini sudah tidak bisa mengangkat telponnya lagi sebab dalam perjalanan ke kantor polisi di jemput paksa oleh pihak kepolisian.
Rachel melaporkan atas tindakan penganiayaan anaknya.
Hingga pilihan Gavi terakhir jatuh pada sang mantan istri.
“Halo, Gav?” Isak tangis Rachel membuat Gavin semakin takut.
“Hel, apa yang terjadi? Kenapa Jesslyn sampai di rumah sakit? Aku akan segera sampai.” tutur Gavin.
Namun, Rachel hanya menjawab dengan isakan yang terdengar sangat menyedihkan. Sungguh jika saja keadaan baik-baik saat ini tentu saja Gavin merasa ini bukanlah Rachel. Wanita yang bisa mengkhawatirkan sang anak dalam keadaan drop. Selama ini memintanya pulang setiap kali Jesslyn kemo, ia tak pernah mau.
Dan sekarang menangis karena Jesslyn di rumah sakit. Tidak, ini tidak benar.
Gavin memijat keningnya tak bisa melakukan apa-apa saat ini. Mobil yang membawanya sudah cukup laju kali ini dan yang bisa dilakukan hanyalah berharap segera tiba.
“Dimana Karlyn?” tanya Gavin teringat wanita yang ia serahkan menjaga sang anak.
Sontak saja, Rachel menghentikan tangisnya dan mengusap air mata yang entah asli atau palsu.
“Gav, dia jahat. Wanita itu menyebabkan Jesslyn terjatuh. Seharusnya dia menolong Jesslyn agar tidak jatuh. Bagaimana bisa kamu meminta wanita seperti itu menjaga Jesslyn. Asal kamu tahu, Gav…”
“Rachel, cukup. Aku hanya bertanya dimana dia? Mengapa kau berkata panjang lebar. Cukup jawab dimana wanita yang menjaga Jesslyn? Kalau mau menilai seseorang. Nilai dirimu dulu. Wanita seperti apa yang tega meninggalkan anaknya tanpa perduli saat Jesslyn drop atau pun melakukan kemo…”
__ADS_1
Telak, Rachel bungkam saat itu juga. Matanya tampak menyipit menahan kekesalan. Bagaimana mungkin Gavin yang bahkan tidak mendengarkan semua ceritanya justru membela wanita itu. Sudah di pastikan jika ia melihat apa yang terjadi sebenarnya, Gavin pasti akan semakin marah dengan Rachel.
“Baiklah. Aku akan katakan dimana wanita itu. Baru saja polisi menjemputnya dan membawa ke kantor polisi.” Sepasang mata Gavin sontak membulat sempurna mendengar ucapan Rachel.
“Kantor polisi? Tidak, kamu benar-benar gila Rachel.” Umpatnya yang segera mematikan sambungan telepon.
Rasanya Gavin semakin marah jika semakin lama bicara dengan sang istri.
“Sebaiknya aku ke kantor polisi dulu. Karlyn tidak boleh di penjara, dan untuk Jesslyn. Dokter juga masih menangani keadaannya. Astaga mengapa jadi begini sih? Semua baik-baik saja selama wanita itu tidak ada. Kenapa dia harus muncul di waktu aku tidak ingin lagi melihatnya.” Gavin sangat kesal saat ini.
“Aku harus hubungi Tuan Gavin ini. Iya, calon Nyonya tidak boleh di penjara.”Elis yang tidak bisa berbuat apa-apa akhirnya memilih pulang dan berniat menghubungi Gavin dengan telepon rumah.
Selama di perjalanan, wajahnya tampak bingung memikirkan semuanya. Dan tiba-tiba saja,
“Ya ampun Pak Sugeng. Kenapa nggak ngomong dari tadi sih?” celetuk Elis yang membuat supir di depan terkejut setengah mati.
“Elis, ada apa sih? Kok bikin kaget?” tanya Pak Sugeng mengelus dadanya terkejut.
“Kan dari tadi diam-diaman aja. Mau ngomong apa memangnya?” lanjut Pak Sugeng lagi.
“Pak, buruan kasih saya hp. Saya harus hubungi Tuan kasih tau calon Nyonya di bawa polisi.” tutur Elis dan segera mendapatkan benda pipih milik pak supir.
“Siapa nama Tuan?” tanyanya.
“Tuan Gavin, memangnya siapa lagi?” sahut supir itu.
Hingga akhirnya Elis pun terdiam menunggu telepon tersambung. Beberapa kali tangannya ia remas lantaran tidak sabaran menunggu sambungan telpon terhubung.
__ADS_1
“Halo, Tuan. Ini saya Elis, Tuan. Temannya calon Nyonya.” ujarnya dengan cepat.
“Elis, bagaimana Karlyn? Apa yang terjadi sebenarnya?” Panik Gavin pun segera bertanya dengan nada yang sangat cemas.