
Gempa dasyat menerpa mereka. Angin bergejolak ringan. sebuah lubang hitam muncul dan menyeret mereka semua. Taufan membuka matanya.
" kita dimana? "
" tunggu!! akhirnya kita kembali!! "
" kita berada di dunia Kakek dulu! " ucap Wingsley. " wah, aku tidak tau dunia ini sangat besar! " teriak Thorn kagum. " lalu dimana rumah kakek? " tanya Solar. " em, Kakek lupa. kakek sudah lama tidak ke sini. Fu Fu, " ucap Wingsley malu.
" kalian siapa? tunggu.. "
__ADS_1
" ...... "
" Ayah!! kakak!! akhirnya kalian kembali!! " teriak seorang pria kekar berbaju biru. Rein Cyclone. " Rein!! " teriak Wingsley Cyclone dan Raina Cyclone. " dia siapa mah? " tanya Taufan sengaja. " kakak.. bukannya kakak pernah bilang mau menjomblo bersama. dasar pembohong!! " Seringgai Rein. " em, sepertinya aku belum pernah bilang begitu. " tolak Raina. " begitu ya, OwO. "
Skip Time. / author malas.
" maafkan ayah karena membiarkanmu sendirian. dan rumah kita berada di tempat terpencil. kau tidak punya tetangga sekarang " ucap Wingsley sedih. " ha ha ha. tidak apa apa ayah, lagipula ada dua remaja yang tinggal di belakang rumah kita. sekitar jarak lima ratus meter dari rumah kita. kedua remaja itu sangat seru dan keren. " ucap Rein senang. " siapa nama mereka paman Rein? " tanya Taufan. " wow. aku tak menyangka aku jadi seorang paman. " canda Rein. " kami sedang serius paman. " ucap Blaze dan Thorn bermuka datar.
" baiklah, baiklah.. nama mereka kalau di ingat lagi. yang satu berumur sekitar enam belas tahun, orangnya selalu ceria. tapi bisa dingin dan Physcopat juga. matanya berwarna biru seperti kita. tapi dia bilang tidak berasal dari keluarga kita. Namanya Taufan Windara. sedangkan yang satu dua belas tahun. matanya hijau polos dan selalu memakai sabuk putih dan membawa Cambuk biru. namanya Hikaru Oukotsiwa. dari keluarga legendaris itu. mereka mempunyai sihir angin yang sangat hebat. " Cerita Rein.
__ADS_1
" tunggu.. Taufan? kenapa namanya mirip dengan ku? " tanya Taufan kebingungan. " aku tidak tau, tapi dia mengenalkan dirinya sebagai Taufan. dia kesini sekitar tujuh tahun yang lalu. bersamaan dengan Hikaru. Taufan juga bilang kalau ia tak akan memberitahu identitas aslinya. walapun nama depannya memang seorang Taufan. aku kebingungan juga. " keluh Rein. " ya, mau bagaimana lagi. nama kita ini kan bukan satu satunya diantara nama kita. " ucap Halilintar. Solar terdiam layaknya kelupaan sesuatu.
" Sol kau kenapa diam? " tanya Gempa sambil menepuk bahu Solar. " anu.. gem, bukannya tadi kita sama si pengecut itu ya? kelompok hitam yang jahat sama tante Raina? " ucap Solar. " eh ha ah la.. kemana mereka ni? " tanya Aisha disertai anggukan Blaze. mereka saling menatap satu sama lain.
" oh ya, nama kedua yang kau sebutkan tadi siapa? Hikaru? " tanya Cloud Oukotsiwa. " em, iya. " ucap Rein singkat. " boleh kau membawa kami kesana? " tanya Cloud. " tapi mereka memasang perangkap yang banyak sekali. aku aja kewalahan menghindarinya. IQ mereka tinggi banget sumpah. apalagi Taufan. capeknya diriku. tapi ayo! " keluh Rein sekaligus mengajak mereka ke sebuah rumah yang besar dan sederhana. Rein mulai memencet sebuah tombol berwarna biru berbentuk kupu kupu.
Ting Tong ( suara bell )
" Hikaru.. Taufan.. kalian ada di dalam? " seru Rein dari luar rumah tersebut. Tidak ada jawaban untuk sekarang. Tapi sebuah tangan memegang pundak Rein dari belakang mereka. " kau mencariku Paman? " sepertinya ada seseorang yang memanggil Rein.
__ADS_1