
Setelah Blaze berlatih. Ia duduk di sebuah kursi warna merah. Terlihatlah Luan menghampirinya. Yang lain sedang mengobrol dengan Pyropi.
" Jadi kau adalah Blaze? Banyak orang di desaku membicarakanmu. " Ucap Luan girang.
" Oh.. benarkah.. Aku tidak tau. " Ucap Blaze sambil mengusap keringatnya dengan handuk tipisnya. Blaze menatap Luan yang tiba tiba murung.
" Kenapa? "
" Seandainya aku bisa bertarung sepertimu. Aku pasti bisa masuk ke dalam perang. Tapi aku hanya warga biasa dari kota bara. " Ucap Luan murung.
" Eits.. kata siapa warga biasa tidak bisa berperang? aku pendatang entah kenapa bisa diterima tuan Pyropi. Memang, banyak orang berbakat terlahir dari keluarga bangsawan. Tapi ada juga beberapa yang terlahir khusus dari warga biasa. Seperti dirimu.. "
" Huh? "
" Siapa namamu!? "
" Huo Luan.. memangnya kenapa? " Tanya Luan bingung.
" Apa kau tidak tau arti namamu itu? " Tanya balik Blaze yang membuat Luan tersentak.
__ADS_1
" Kurasa tidak.. " Jawab Luan sambil menggeleng kan kepalanya.
" Baiklah.. Dalam bahasa China, Huo Luan memiliki sebuah arti Gejolak Api. jika kau tidak mengerti, artikan saja kepada Api yang Membara. Dengan namamu, kau bisa berperang sepuas mungkin. Awalnya aku juga tidak percaya tidak bisa bertarung. Tapi kakak pertamaku meyakinkan ku, kalau semuanya itu butuh proses. Tidak mungkin juga semuanya langsung terpenuhi.. Boom. " Ucap Blaze dengan pose kekanak-kanakan.
" Aku masih belum paham.. butuh proses? "
" Ekhem.. ini memang bukanlah yang seharusnya didengar oleh anak kecil sepertimu. Tapi orang tuamu bekerja keras agar kau lahir. Mereka melakukan sebuah proses agar kau ada. " Ucap Blaze dengan wajah memerah.
" Proses biar aku lahir? " Tanya Luan polos. Ya Allah Blaze.. Blaze.. anak kecil kok diajari ekhem, ya gak pantes lah Blaze.
" iya.. seperti melakukan, melakukan. " Ucapan Blaze terpotong oleh sesuatu yang mengenai kepalanya.
Kalian masih ingat yang dari dunia tanpa sihir kan? Seandainya di dunia nyata ada sihir ๐ญ.
" Jangan menodai kepolosan anak kecil Blaze.. " Senyum Genma dangan bayangan hitam dibelakangnya.
" Syumpah.. Auranya mirip mama kedua ku gaes!! Takut lah aku.. Mirip mama kedua ku! " Ucap Blaze ketakutan.
" Kau punya dua mama!? " Tanya Genma bingung dan menurunkan panci yang datang entah darimana.
__ADS_1
" Sebenarnya satu, tapi salah satu kakakku mirip kayak emak emak.. jadi aku panggil Mama ke kakakku deh fu~ " Ucap Blaze sambil bersiul.
" Ternyata begitu ya.. Tapi, Blaze.. Apa kau tidak kepanasan berada disini? Aku kepanasan.. " Ucap Ais dengan mengambil kipas yang entah darimana berasal.
" Tidak tuh, biasa aja. " Ucap Blaze.
" Maafkan hamba telah mengganggu pembicaraan tuan dan nona. Tapi hamba ingin mengucapkan sebuah pertanyaan kepada tuan dan nona semuanya. " Ucap Sopan dengan sopan.
" Mau tanya apa? " Tanya Luan.
" Apakah tuan dan nona sekalian mengetahui dimana letak kipas hamba? hamba kehilangan kipas hamba. "
" Warnanya apa emang? " Tanya balik Blaze.
" Biru kekuningan dengan simbol dua melengkung tuanku.. apakah anda melihatnya? Bisakah anda memberitahukan kepada hamba? " Ucap Sopan.
Blaze, Genma dan Luan serentak menuju kepada Ais. Yang ditunjuk hanya memasang muka polos ala Horny dan Thorn.
" Ini sudah waktunya untuk pulang. Ini sudah jam sepuluh malam. " Ajak Miranda sambil melihat jam tangannya. Mereka pun pulang.
__ADS_1