
Mahesa mulai mencari Violette di ruang sayap kanan Aula yang mempunyai beberapa pintu dan menghubungkan ke ruangan di gedung sebelahnya. Setelah beberapa saat mencari sambil melihat kekanan dan kekiri ruangan, Mahesa menemukan Violette yang terdiam disatu sudut ruangan dengan wajah Bingung.
"Kamu ngapain disitu?".
"Kamu masih bisa menemukan ku?". Jawab Violette namun tetap diam menempelkan dirinya didinding.
"Iya percuma diam disana, kalau aku bisa menemukan mu, dia juga bisa kan?, sudah hadapin saja". Jawab Mahesa
"Kamu tau Tristan juga?" Tanya Violette.
"Aku hanya menebak, karena melihatmu berlari menghindar ketika melihatnya". Jawab Mahesa.
"Jadi aku harus bagaimana?"
"Itu semua terserah padamu".
"Tapi aku nggak mau ketemu dengannya".
Terdengar pintu yang terbuka dan langkah kaki yang mendekat.
"Dia berjalan kearah sini tuh". Mahesa mengingatkan.
"Duhhh...jadi gimana?" Violette terlihat tambah bingung untuk bereaksi.
Belum sempat Mahesa menjawab, Tristan sudah muncul dihadapan mereka dan tersenyum kearah Violette.
"Kamu disini rupanya? Aku tadi sampe nanya kemana-mana". Ujar Tristan
"Eee..iya, aku juga harus kembali berlatih, sudah ya". Violette pun berusaha menghindar.
Namu Tristan menahannya untuk pergi.
"Vio..tunggu!, aku mau bicara".
Mahesa yang berada diantara merekapun tidak mau beranjak dari situ.
"Tolong kamu jangan disini, aku mau bicara berdua saja dengan Vio". Ujar Tristan mengingatkan Mahesa dengan tatapan tidak suka.
"Nggak apa-apa, dia temanku. Aku nggak masalah dia ada disini dan mendengarkan". Violette melarang Mahesa untuk pergi.
"Baiklah,". Jawab Tristan sambil melirik kearah Mahesa yang hanya tersenyum.
"Kamu mau ngomong apa? Aku nggak punya banyak waktu".
"Violette, aku sekarang tau kalau aku semakin memcintaimu".
Mahesa tidak bisa menahan rasa gelinya mendengar kata-kata gombal Tristan dan tertawa mengejek, itu membuat Tristan menghentikan perkataannya dan melihat kearah Mahesa.
"Oh iya..sorry..sorry, silahkan dilanjutkan". Ujar Mahesa sambil membalikkan badan dan menjauh , namun dengan posisi yang masih bisa mendengar dengan jelas.
"Aku menyadari saat aku bersamanya, saat-saat bersamamu tidak bisa tergantikan.Tolong kamu fikirkan saat-saat indah kita berdua, dan bisa memaafkan ku". (Rayuan pulau kelapa)
__ADS_1
"Saat kamu selingkuh, kamu tidak memikirkan hal itu kan?" Mahesa yang menjawab perkataan Tristan. Sambil seolah-olah sedang menelfon seseorang. (Bisa aee juragan telor)
"Aku ingin mempercayai dan memaafkan mu.."Violette rupanya sudah mulai baper.
Tristan telah memainkan peranannya dengan baik, dengan rayuan dan ekspresi wajah memelas dan merasa sangat menyesal dengan perbuatannya.
Melihat hal itu Mahesa merasa tidak rela dan berusaha mencegah Violette untuk memaafkan Tristan, karena kepolosannya.
"Tapi aku..."
"Coba kamu periksa chat di hpnya dulu".Mahesa memotong perkataan Violette.
"Pastikan dia memang benar-benar sudah menyelesaikannya" sambungnya lagi.
Kali ini Tristan terlihat mulai kesal dan menghampiri Mahesa.
"Heiii...kamu ngapain ikut sibuk?!"
"Tristan..Tris...!!" Violette mencegah dengan memanggilnya.
Tristanpun menghentikan langkahnya.
"Kamu tidak keberatankan kalau aku melihat chat mu?"
Tristan pun kembali menghampiri Violette dengan wajah ragu-ragu, karena Chatnya dengan cewek-cewek lain belum terhapus.dengan berat hati dia sudah mau memberikan ponselnya untuk dilihat Violette.namun...
"Kamu tau, kalau kamu belum menghapus Chatnya. Akibatnya bakalan fatal, karena aku pernah dilempar pengering rambut karena lupa menghapus Chat dengan cewek lain". Mahesa memanasi.
"Atau kalaupun kamu sudah menghapus semua, kamu tidak akan bisa terus membohonginya". Lanjut Mahesa.
Dia kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celananya.
"Vio...apapun yang sudah terjadi diantara kita, bisakah kamu melupakannya?" Tristan tetap berusaha merayu kembali.
"Aku sudah tidak bisa mempercayaimu lagi..., Pergilah". Ujar Violette dengan berat hati yang harus memutuskan dan menerima hal yang membuatnya sedih.
Tristanpun terdiam dan berjalan gontai meninggalkan Violette lalu membuang bundelan bunga yang dibawanya ke dalam tempat sampah di samping pintu utama.
Ketika berpapasan dengan Mahesa dia hanya menundukkan wajahnya dan berlalu.
Mahesa mendekati Violette yang terlihat sedih dan mulai menangis.
"Maaf..ya Vio".Mahesa jadi merasa bersalah melihat Violette menangis
"Aku nggak apa-apa, walaupun sakit banget rasanya". Jawab Violette yang berusaha tersenyum walaupun air matanya tetap keluar.
-------------------------------------------------------------------
Mahesa kali ini duduk di kursi depan yang memang diperuntukkan untuknya sebagai Mahasiswa yang menerima penghargaan dan beasiswa.
Violette tampak muncul paling terakhir untuk mengikuti latihan menyanyi secara akapela dengan teman-temannya diatas panggung.
__ADS_1
Mahesa tidak mau melepaskan pandangannya dari Violette karena dia tau, saat ini dengan perasaan yang sangat sedih Violette harus bisa juga bersikap normal dan latihan dengan maksimal. Ada rasa tidak nyaman juga yang dia rasakan yang selama ini tidak pernah dia rasakan ketika melihat cewek-cewek yang dia putusin menangis dan bersedih, tetapi tidak dengan Violette dia seperti merasakan hal yang sama sedihnya. Gadis itu membuatnya sadar dengan kesalahan yang diperbuatnya.
"Ayo kita mulai latihan dihari terakhir, dimulai dengan posisi berdiri" pelatih Vokal mengarahkan.
"Semua harus terlihat bersemangat dan tersenyum". Lanjutnya lagi
Violette yang menjadi vokal utama ditengah berusaha bersikap normal dan tersenyum.
"Ok..., ikuti aba-aba dari saya, one..two..one..two..three..".
Nyanyianpun terdengar merdu dan kompak walaupun hanya secara akapela tampa satupun alat musik.namun ketika memasuki bait
" Sinar matahari melambaikan perpisahan yang tersamar, seperti cintaku dari kejauhan. Jauh dari hatku yang berduka".
Air mata Violette mulai jatuh kembali, tetapi tidak mengurangi kemerduan suara nyanyiannya. Sungguh merupakan hal yang sangat sulit dilakukan. Harus menahan Rasa sedih dan mengeluarkan rasa gembira disaat bersamaan. Mahesa merasa ingin naik kepanggung untuk menghapus airmata Violette dan menghiburnya. Fikirannya menjadi tidak fokus.
"Bersiaplah..untuk turun".pelatih vokal mengarahkan.
"Jalan.." lanjutnya lagi
Violette dan teman-teman grupnya pun berjalan menuruni panggung.masing-masing Berhenti dan berdiri didepan kursi tamu VIP.
"Semuanya harus ingat posisi kalian.Didepan kalian adalah pasangan kalian untuk melakukan gerakan tepukan tangan.kalian harus ingat baik-baik, Khususnya Violette.Kamu dipasangkan denga Bapak Duta besar diacara sesungguhnya besok.Yang mulia juga sudah latihan untuk dirinya". Ujar pelatih Vokal.
Violette hanya mengangguk tanda mengerti.
Mahesa melihat kursi untuk Duta besar yang kosong. Sementara dia rupanya berpasangan dengan Aura. Dia lalu memilih pindah ke kursi Duta besar tanpa diminta. Violette pun terlihat kaget dan berkata " kamu kok pindah tempat duduk?".
"Aku ingin mendukung istriku". Jawab Mahesa.
"Permisi pak..", Mahesa mengangkat tangannya dan berkata kearah pelatih vokal.
"Aku mau menjadi duta besarnya".
"Oh iya...baik..baik..silahkan, jadi Violette bisa berlatih dengannya sekarang". Pelatih vokal tidak keberatan.
"Semua pelajar diharap berdiri untuk latihan tepukan tangannya".
Semua berdiri dan bersiap latihan tepukan tangan. "Ok..dengarkan aba-aba dari saya.., one..two..one..two..three.."
Awalnya gerakan Violette masih selaras dan benar dengan gerakan Mahesa, namun karena belum bisa fokus.Maka beberapa kesalahan pun terjadi dan membuat gerakan mereka tidak selaras.
"Maaf pak..saya banyak lupa dengan gerakannya, boleh saya mengulangnya beberapa kali dengan Violett?". Mahesa meminta izin kembali kepada pelatih Vokal.
"Oh..iya..bapak Duta besar..tentu saja boleh". Jawab pelatihh Vokal.
"Sebenarnya Kamu ini...ingin merayu ku atau memang benar ingin membantu ku sih ?" Tanya Violette.
"Yang mana saja boleh..". Jawab Mahesa tersenyum.
Violette pun membalas dengan tersenyum hangat.
__ADS_1
Setelah latihan selesai, Mahesa dan Violette harusnya mengembalikan tanda tulisan Duta besar dan istri Duta besar yang dipinjamkan kepada mereka. Tetapi tanpa sepengetahuan mereka masing-masing, mereka berdua kebetulan sama-sama tidak mengembalikannya dan menyimpannya sebagai kenang-kenangan.
To be Continue