
Beijing (2002)
Kuliah Semester akhir
"Kamu pasti sudah tau reputasi keluarga kami kan?, Wu Xia adalah pewaris dari keluarga ini. Dia lebih memilih kuliah di Beijing bersamamu daripada kuliah di London.Dia masih muda dan belum terlalu faham tentang kerasnya hidup, jadi aku mau kamu meninggalkan putraku itu".
"Apa anda tau yang anda lakukan ini, nyonya?" Tanya Xiao Yu dengan wajah yang tidak mengerti dengan jalan fikiran Ibu Wu Xia.
"Xiao Yu..kamu Jangan emosi begitu, anggap kalian itu bersenang-senang dimasa muda.Dan jangan beralasan perasaan kalian itu adalah Cinta, aku tau semua itu ada harganya. Jadi sebutkan saja berapa yang kamu inginkan?".
"Maaf Nyonya, jadi menurut anda saya akan melakukannya karena uang? Saya memang dari keluarga miskin. Kalaupun saya mau melakukannya itu semua demi rasa cinta saya kepadanya". Walaupun merasa diremehkan dan dihina karena statusnya yang tidak punya, Xiao Yu berusaha untuk tidak emosi.
"Kamu tidak perlu sungkan, sebutkan saja berapa nominalnya. Aku akan menyanggupi nya". Ujar Ibu Wu Xia dengan senyum mengejek.
"Saya tidak mau uang anda...Nyonya, karena saya benar-benar mencintai Wu Xia".
"Kalau kamu memang benar-benar mencintainya, mengapa kamu tidak mau melihatnya bahagia dengan keluarganya?".
"Bukankah hal ini malah akan menghancurkannya nyonya?". Xiao Yu menjadi sedih membayangkan hal yang akan terjadi dengan hubungannya bersama Wu Xia.
"Kamu fikir kamu siapa? Aku adalah ibu yang mengandungnya selama 9 bulan. Bagaimana mungkin aku menghancurkan kehidupan anakku.Aku hanya ingin dia menikah dengan wanita yang sederajat dengan keluarga kami, bukan dengan gadis sepertimu".
Xiao Yu hanya terdiam dan tidak bisa memberikan jawaban dengan pernyataan Ibu Wu Xia. Wajahnya dipaksakan untuk kelihatan normal dan tegar.
"Dia akan hidup bahagia dengan dukungan keluarganya,bukankah kamu ingin melihatnya hidup bahagia?".
Kali ini Xiao Yu tidak bisa membendung air matanya lagi. Dia hanya menunduk untuk menyembunyikan kesedihannya. Setelah menghapus air matanya, Xiao Yu lalu berkata
"Baiklah nyonya...,saya akan melakukannya karena saya merasa tidak pantas hidup bersama dengannya. Dan ingin melihatnya bahagia".
"Bagus kalau begitu, setelan ucapan mu terbukti. Kamu dan keluargamu tidak perlu khawatir lagi dengan masalah finansial, aku akan mengcover semuanya.
__ADS_1
Ujar Ibu Wu Xia Dengan penuh rasa kemenangan. Semua orang akan patuh dan bisa melakukan apa saja demi uang gumannya dalam hati.
Xiao Yu kembali terisak menahan kesal dan sedih. Wu Xia mungkin akan sedih dengan keputusannya , namun dia yakin Wu Xia akan cepat melupakannya dan mendapatkan wanita yang lebih baik dan sederajat dengannya.
---------------------------------------------------------------------------
Surabaya
(Present day)
Xiao Yu membantu Violette mengecat kuku jari tangannya agar lebih rapi dikamar Violette. Dia juga merasakan putrinya menjadi agak pendiam.
"Cece...?"
"Iya nda?"
"Kenapa sekarang cece jadi agak diam dan kelihatan gelisah begitu?".Xiao Yu mencari tau kegundahan putrinya.
"Apaan sih nda..??, nuduh putrinya begitu?!. Nyebelin banget!!". Violette jadi kesal dituduh yang bukan-bukan.
"Ya..habisnya gimana ya, bunda tumben lihat Cece gelisah dan seperti punya beban yang perlu diungkapkan. Tapi nggak berani diungkapkan". Ujar Xiao Yu yang menjadi merasa bersalah keceplosan ngomong yang tidak pantas ke putrinya.
"Bunda kan bisa nebak yang lebih baik dan nggak ekstrim begitu". Ujar Violette dengan menatap tajam kearah Xiao Yu.
"Iya...maafin bunda, tapi ini pasti soal cowok kan?".
"Bukan..nda, tapi iya..sih. nggak tau ah Nda masalahnya rumit sekali". Violette menundukkan wajahnya karena bingung dengan jawaban pasti.
Xiao Yu mendekati putrinya dan memegang kedua tangan putrinya. "Percaya sama bunda ce, bunda bisa kasih solusi masalah cece yang katanya rumit. Coba ceritain ".
"Apa Bunda pernah membayangkan. Bagaimana hidup bunda tanpa ayah?".
__ADS_1
"Apa? Nggaklah Ce..bunda nggak pernah berfikir kearah sana". Xiao Yu jadi bingung dengan pertanyaan Violette.
"Bagaimana jika Bunda harus memilih?. Maksud Vio, bagaimana kalau kita harus memilih antara orang yang kita suka dengan rasa takut akan tersakiti lagi?".
Sebagai seorang ibu yang lebih dulu merasakan pahit manisnya kehidupan, Kali ini Xiao Yu merasa harus punya kata-kata bijak yang bisa menenangkan kegundahan putrinya.
"Well..walaupun sulit kita harus tetap bisa mengambil keputusan Ce.Itulah hidup, terkadang masa lalu menarik kita kesatu arah dan masa depan memberi kita tempat yang baru.dan mengenai pilihan Bunda, pastinya Bunda akan memilih ayahmu. Karena tanpa ayahmu bunda tidak akan memilikimu dan Arka".
"Lalu bagaimana Bunda tau kalau ayah orang yang tepat untuk Bunda?".
"Bunda tidak tau mengenai hal itu, tapi bunda harus mengambil resiko.Dengan Mengikuti kata hati bunda, begitulah jalan hidup Ce. "Berani memilih yang tidak pasti".
Perkataan Xiao Yu rupanya bisa menenangkan Kegundahan Violette.
Dia lalu memeluk Xiao Yu dengan erat.
" Terimakasih ya Nda, jadi bisa buat menenangkan hati Vio".
"Iya..sayang, tapi cowoknya ini masih si Tristankah?"tebak Xiao Yu.
"Bukan nda,.....ini juga baru kenal-kenal gitu. Waktu acara dikampus kemarin".
"Satu lagi ce..pesan bunda".
"Apa itu Nda?".
"Cinta yang baik akan membuat Cece jadi orang yang lebih baik, bukan cinta yang Cece inginkan. Tapi cinta yang Cece butuhkan". Ujar Xiao Yu sambil mengecup kening Violette.
Didalam hatinya yang terdalam Violette ingin menjadi seperti Ibu nya, walaupun tidak sepenuhnya sama. Paling tidak setengah dari sifat dan sikap positif yang dipunyai Ibunya.
"Sampai kapanpun Cece..akan jadi gadis kecil Bunda".ujar Xiao Yu dengan senyuman tulus penuh kasih sayang seorang Ibu.
__ADS_1
Tobe Continue