
Hari sudah menjelang sore ketika Saras terbangun dari tidurnya tadi dia agak sedikit mabuk karena terlalu banyak minum bir dan tertidur didalam perjalanan menuju Ubud.
Terdengar dua orang yang sedang mengobrol diluar tendanya.
"Coba kamu lihat tempat ini, lama-lama seperti tempat rehabilitasi bukannya bumi perkemahan. Kelihatan sudah bobrok".gerutu seorang pria sambil membersihkan halaman sekitar perkemahan.
"Walaupun begitu tempat ini yang menghasilkan uang buatmu, jangan bicara ngawur seperti itu, pamali". Seorang wanita menjawab bijak.
"Dan masalahnya kita sudah menyiapkan enam tenda untuk 6 tamu dan yang datang cuma cewek itu dan Yoga". Lanjut si wanita
Saras keluar dari tendanya dan menghampiri pria dan wanita yang terlibat pembicaraan tersebut. "Sudah bangun rupanya, bagaimana? Kamu suka tendanya?". Si pria menyapa ramah melihat Saraswati yang sudah bangun dan mendekati mereka. Ternyata ada dua orang lagi yang ada didekat mereka sedang asyik mengobrol sambil menikmati minuman hangat.
"Bli Nyoe..."terdengar suara Yoga menegur si pria yang perawakannya mencerminkan pecinta alam yang eksentrik.
Yoga membawa peralatan mandi (sabun,pasta gigi dan shampoo) lalu menyerahkannya ke pada si pria. " terimakasih ya". Ujar Yoga
Si pria mengangguk, tetapi berkata dengsn nada menggerutu.
"Eh Ga, kamu itu seorang pegawai yang punya gaji besar, kamera mahal, note book mahal".
Yoga tersenyum dan mengangguk.
"Tapi masih juga pinjam, sabun, pasta gigi dan shampoo ku, di denpasar nggak ada yang jual ya?".
"Oh...jadi begitu? Ok..kalau begitu kami nggak jadi sewa disini, dan aku nggak mau lagi rekomendasikan perkemahan ini ke orang-orang. Gimana?". Yoga terdengar meledek.
__ADS_1
Si pria hanya diam dan mengangguk dengan ekspresi geram. ("Ngancem nih ceritanya") batinnya dalam hati.
--------------------------------------------------------------------
"Waktu Makan malam telah tiba"
Mereka ber-enam duduk ditengah halaman sambil menggelar tikar dan duduk lesehan sambil menikmati hidangan yang dimasak oleh si wanita pemilik/pegawai ? perkemahan.
"Ayo silahkan dinikmati" ujar si pria muda menawarkan Saraswati.
"Masakan ini bahannya organik semua, dan rasanya sangat enak. Karena mbak Devi adalah koki yang handal". Si wanita muda seperti berpromosi.
"Itu betul sekali , karenanya aku menggunakan Micin disetiap masakan". Sahut Devi dengan tersenyum bangga.
"Haahh? Jadi kamu kasih Micin semua masakannya?" Si pria yang sebaya dengannya kaget dan protes.
"Jadi aku ralat, makanannya nggak organik lagi". Si wanita muda menanggapi.
"Lho..? Nggak organik bagaimana? Micin kan dibuat dari singkong toh? Singkong itu kan tanaman jadi Micin itu jadinya organik".jawab Devi yang tidak mau disalahkan.
"Jagad Dewa betare...jadi itu penyebab rambut ku sering rontok". Si wanita muda baru menyadari penyebab rambut rontoknya.
"Please deh...Shin, nggak usah lebay gitu". Sahut Devi.
"Kalian bisa diam nggak? Kita ini mau makan!" Kali ini Yoga yang protes.
__ADS_1
"Nggak apa-apa Ga".Saras bersikap bijak.
"Ibuku bilang, kalau berdebat saat makan aku bisa dapat cewek cantik". Si pria muda pun ikut berbicara.
"Kalau begitu kamu makan ditempat lain saja". Sahut si wanita muda.
"Yang penting aku makan bersamamu, tempat bukanlah masalah". Jawab pria muda.
Saras melihat sekeliling dan bertanya ketika mereka mulai menikmati makanan.
"Maaf.., kalau boleh tau kita ini di daerah mana ya?".
Semua orang jadi menatap Saras dengan heran
"Hah?, beneran kamu nggak tau lagi dimana?" Devi yang pertama menjawab.
"Eh Ga, kamu yakin dia nggak mabuk lagi?" Si pria balik bertanya.
"Mungkin tadi kepalanya terbentur sesuatu dalam perjalanan kemari?" Lanjutnya.
"Kamu yang tanggung jawab Ga, gadis ini kondisi kejiwaannya seperti sangat serius terguncang". Devi menimpali.
Yoga hanya menatap Saraswati dengan sikap biasa dan melanjutkan makannya. Tidak ada satupun kata yang terlontar darinya.
Saras pun ikut menikmati kembali makan malamnya.
__ADS_1
To be continue
End of Chapter 2