Bos Cuek Dan Pembantu Jelek

Bos Cuek Dan Pembantu Jelek
Part 10 Rahasia Niken


__ADS_3

Niken yang sedari tadi gelisah hatinya, terjawab sudah. Ternyata benar dugaannya, ini hanyalah strategi keluarga.


Dalam ruangan yang serba serbi putih, ada keluarga Bryan, keluarga Aska, dan terlebih keluarga Niken. Dalam hati Niken, sebenernya ia takut. Jika apa yang ia sembunyikan selama ini akan terbongkar sudah.


Aska yang baru saja datang di buat kaget dengan sekelompok orang yang ia kenal.


Disana ada ibunya dan Anya. Ada pak Lukman dan ibu Tias, donatur ternama di perusahaan Aska dan pak Bagas.


"Katanya Bryan, om Bagas sakit. Tapi saya lihat om sehat-sehat saja?" tanya Aska pada pak Bagas.


"Ini hanya siasat, om. Kalau tidak begini caranya, kalian pasti tidak akan datang", kata pak Bagas.


"Terus terang saja, pa. Untuk apa papa lakukan semua ini?" tanya Bryan.


"Baiklah, papa akan terus terang" Kata pak Bagas mengatur napas.


"Pak Lukman ini ayah tiri dari Niken dan ibu Tias adalah ibu kandung nya Niken. Niken adalah pewaris tunggal NIKEN PUSPITA DARWIN GROUP perusahaan ternama yang menjadi donatur terbaik di perusahaan kita.


Pak Lukman hanyalah perpanjangan tangan dari almarhum pak Darwin. Niken adalah lulusan S3 dengan nilai terbaik tahun ini di AS", tutur pak Bagas


Niken yang sejak tadi berdiri di pojokkan membuang muka. Rahasia tentang jati dirinya sudah terbongkar. Memang benar kata orang bijak, sepandai-pandainya kita menyimpan rahasia pada akhirnya akan terbongkar juga.


Aska yang sedari tadi menjadi pendengar setia, melirik ke arah Niken. Meminta penjelasan setelah ini.


"Kenapa kamu tidak bilang ini dari awal?" tanya Aska pada Anya.


"Kan aku sudah bilang, aku sudah mengenal Niken jauh sebelum kamu dan Bryan. Kalaupun iya, aku katakan yang sebenarnya. Apa kalian akan percaya?" tutur Anya.


Anya benar. Aku belum tentu percaya jika Anya menceritakan semuanya, pikir Aska.


Ruangan serba putih ini, terasa sempit bagi Niken. Bagaimanapun juga semua orang dalam ruangan ini akan menuntut penjelasan darinya secara detail.


"Kami tau keberadaan Niken dari nak Anya dan sangat berterima kasih pada nak Aska yang sudah mau menampung Niken di rumah nya," ibu Tias membuka suara.


Niken menatap ke arah Anya, mengapa ia lupa untuk berpesan pada Anya untuk tidak memberitahu pada siapapun tentang keberadaan dirinya?


"Niken kabur karena kesalahan kami," ucap pak Bagas


"Maksud, Om?" tanya Niken


"Kami berniat menjodohkan kamu dengan Bryan, anak kami. Tapi Bryan, malah kabur. Sesudah itu pak Lukman menghubungi kami, katanya kamu juga kabur malam itu saat kamu baru saja pulang dari AS" jelas ibu Saras ibundanya Bryan.


"Jadi orang yang mama mau jodohkan dengan aku, mas Bryan?" tanya Niken pada ibu Tias. 


"Jadi mas Bryan sudah tau semua ini?" pertanyaan itu tertuju pada Bryan. Bryan hanya mengangguk.


Aska menatap ke arah Bryan.


"Kamu hutang penjelasan, Bry" tuntut Aska.


Bryan diam tak bergeming, karna sebenarnya ia sudah tau dengan siapa ia di jodohkan. Namun itu lah yang menjadi penyesalannya selama ini. Andai saja dia tidak kabur.


"Jadi bagaimana, perjodohan kita lanjutkan?" tanya pak Lukman.


"Tidak usah, om. Karna Niken tidak mencintai ku. Aku tidak ingin memaksa seseorang menikah dengan ku tanpa dasar cinta. Percuma sebuah rumah tangga terbentuk tanpa landasan," tegas Bryan.


Niken terharu mendengar jawaban Bryan, andai saja ia bisa mencintai Bryan seperti Bryan mencintai nya. Andai saja ia bisa membuka sedikit cela hatinya untuk Bryan.


Tapi sayang, hati Niken sudah terpaut pada seseorang. Orang yang mampu membuatnya hampir mati berdiri, orang selalu berkata kecut padanya, dan orang itu si tuan cuek Aska Dirgantara.

__ADS_1


Lalu bagaimana nasib percintaan Bryan setelah pertemuan ini?


***


Setelah semua masalah terselesaikan dan yang lain saling berpamitan untuk pulang. Kini tinggal hanyalah Aska dan Niken. Aska menarik Niken keluar ruangan.


Aska benar-benar merasa bersalah, atas apa yang sudah ia lakukan selama ini pada Niken.


"Mrs.Niken, saya minta maaf atas apa yang sudah terjadi selama ini. Atas ketidaknyamanan Mrs di rumah saya" tutur Aska dengan nada hormat pada orang yang selama ini ia anggap sebagai seorang pembantu.


"Apa yang kamu lakukan, Tuan? Dengar, ini semua tidak sepenuhnya salah Tuan. Apa yang sudah terjadi itu takdir. Kita tidak pernah tau, dengan siapa kita di takdirkan untuk bertemu.


Aku yang harus minta maaf, karena selama ini sudah menumpang hidup dan terimakasih karena malam itu, Tuan sudah menolong saya. Andaikan tanpa pertolongan Tuan, entah bagaimana nasib ku"


"Lalu, bagaimana dengan soal kelanjutan hubungan kita?" tanya Aska dengan nada serius, Niken menarik napas sebelum menjawab.


"Pertanyaan itu akan aku jawab saat ulangtahun ku nanti. Aku harap, tuan harus datang jika waktu itu tiba,"


Ada yang mengganjal di hati Aska, ia takut jika Niken tidak menerima cintanya. Wait, cinta? Apakah Aska benar jatuh cinta?


"Aku pulang dulu ke rumah tuan, nanti setelah itu baru aku balik ke rumah ku. Tidak apa-apakan?" tanya Niken


"Aku senang malah, tapi jangan panggil aku tuan lagi tidak enak" Niken hanya tersenyum, mungkin ia sudah nyaman dengan sebutan itu.


"Kita pulang sekarang?" tanya Aska. Sekali lagi Niken hanya tersenyum dan mengangguk.


Mobil melaju membela jalanan, tidak ada percakapan di antara mereka. Niken tertidur, mungkin karena kelelahan. Sedangkan Aska, tetap mengemudi.


Sesekali ia melirik ke arah Niken. Aska baru menyadari ternyata Niken memiliki wajah oval, hidup mancung, bibir tipis, berlesung pipi dan rambut panjang yang terurai. Sungguh nyaris sempurna.


***


"Kalian baru pulang? Dari mana saja?" tegur Bryan yang sedang tiduran di sofa.


"Tidak dari mana-mana, Bry. Aku pikir, kamu langsung pulang ke rumah om Bagas" tutur Aska


"Kalau aku pulang sekarang, aku pasti di ledekin habis-habisan mah sama si Brandy. Kamu tau kan, bocah yang satu itu isengnya luar biasa"


"Kamu masih hutang penjelasan,"


"Penjelasan apa lagi, Ka,"


"Soal perjodohan itu"


"Aku tau dari Brandy, dia juga yang sudah mengirimkan foto Niken. Brandy juga bilang, Niken itu teman sekolahnya"


"Lalu, kamu sudah tau perasaan Niken?"


"Aku sudah memastikan itu, jauh sebelum kamu menyadari perasaan kamu itu Aska Dirgantara."


"Terus apa jawaban Niken?"


"Ya ampun, kepo banget kamu. Itu rahasia. Mending kamu mandi, bau tau"


"Pelit!"


Aska bergegas ke kamar nya untuk membersihkan diri. Meninggalkan Bryan yang masih tiduran di sofa.


Suara gaduh di dapur, membuat Bryan tersadar dari lamunannya. Ia bergegas ke dapur untuk memastikan apa yang sudah terjadi di sana. Bukankah Niken lagi tidur?

__ADS_1


"Loh Niken, kamu mau ngapain?"


"kalau orang lagi di dapur ya masak lah mas, masa tidur" Jawab Niken senyum manis.


"Ini kan udah malam,"


"Tapi aku lapar, mas. Lagian, tadi siang tidak sempat makan,"


"Jadi Aska tidak ajak makan juga?" Niken menggeleng


"Nanti kita makan di luar saja"


"Kalau gitu, aku mandi dulu mas"


Bryan membuang napas, mengingat Aska yang setengah hari bersama Niken tapi tidak di ajak makan. Katanya calon suami yang baik. Belum juga jadi suami, penyakit amnesia nya udah akut begitu.


Bagaimana kalau sudah jadi suami benaran dan punya anak, pasti amnesia nya menaiki level akhir. Kalau nanti Niken pingsan atau sakit bagaimana? Astaga, tidak bisa Bryan bayangkan jika hal itu terjadi.


***


Waktu menunjukkan pukul 20:00 wita, saat ketiga insan itu mendudukkan bokong mereka di kursi salah satu restoran ternama di kota ini. NPD RESTORAN.


"Sebagai rasa terima kasih ku untuk kedua bersahabat yang ada di hadapan ku sekarang. Malam ini, aku yang traktir" tutur Niken dengan senyuman kecil yang ia paparkan. Memperlihatkan gigi gingsul dan lesung pipi yang menjadi ciri khas Niken.


Senyum itu mampu menggetarkan hati lawan jenis yang ada di hadapannya saat ini. Bagaimana tidak? Secara wanita yang ada di hadapan mereka ini cantik.


"Jadi ceritanya, aku yang ngajak tapi pemilik restoran yang traktir nih?" Ujar Bryan.


"Bisa di bilang begitu, mas", ucap Niken tertawa kecil.


"Ehem... Sepertinya aku mulai di abaikan," Aska menyela. Niken dan Bryan pun menoleh serentak.


"Jangan mulai deh, Ka", protes Bryan. Aska mendengus kesal, karna merasa di abaikan dan terabaikan oleh sahabat dan calon istrinya itu.


Kini mereka tengah menikmati makan malam, setelah pelayan mengantarkan pesanan mereka.


"Oh iya, Ka. Mungkin lusa aku balik ke rumah bokap" Ujar Bryan


"Ko cepat sih, Bry?"


"Ya, takut habisin stok makanan kamu aja", canda Bryan


"Buset" Niken hanya tertawa geli melihat tingkah kedua bersahabat itu. Ia merasa beruntung bisa mengenal kedua sosok yang berbeda karakter itu.


"Kalau Niken kapan balik?" Tanya Bryan


"Belum tau sih, mas"


"Mungkin keputusan ku benar, harus cepat-cepat balik. Kalian kan butuh quality time", tutur Bryan mengedipkan sebelah mata.


"Bagus lah kamu sadar, kalau kamu itu hanya jadi obat nyamuk", balas Aska mengejek.


"Oh shit! Sudah bagus aku peka sama keadaan"


"Peka mu itu kelamaan"


"Anjirr"


"Astaga, kalian ini" timpal Niken menengahi. Namun pada akhirnya mereka tertawa bersama.

__ADS_1


Melihat kehangatan kedua bersahabat itu, membuat Niken menerawang masa-masa bersama almarhum abangnya.


__ADS_2