Bos Cuek Dan Pembantu Jelek

Bos Cuek Dan Pembantu Jelek
Part 6 Dilema


__ADS_3

Aska yang tengah sibuk dengan setumpuk map dan laptop di meja nya menoleh ke arah pintu ketika pintu di buka tanpa di ketuk. Muncul Shaine disana, Aska yang melihat kehadiran sosok Shaine menjadi kesal.


"Kalau mau masuk ruangan saya, harus ketuk pintu dulu" Ujar Aska ketus.


"Tidak biasa kamu seperti ini, Ka. Selama kita pacaran tidak pernah sekali pun kamu membentak aku, kamu sudah berubah" Aska bangun dari kursinya berjalan menuju sofa yang di sudut ruangan.


"Jangan pernah ungkit masa lalu"


"Tapi aku masih sayang sama kamu"  Shaine mengikuti Aska dan duduk di sebelah nya.


"Jangan pernah ucap kata itu di depan ku. Aku muak mendengarnya"


"Aku tau, kamu masih mencintai aku"


"Tolong keluar sekarang, kalau kamu tidak keluar biar aku yang keluar" Aska berdiri dan meninggal kan Shaine yang masih tak bergeming di tempat nya.


"Aska!" Shaine bangkit dan mengejar Aska. Aska berjalan terus tanpa menoleh namun hati nya bertolak belakang.


"Oke, aku minta Maaf" Teriak Shaine yang membuat karyawan dalam kantor pun menoleh. Ada yang grasak-grusuk namun ada yang diam karena takut di marahin Bosnya.


Aska memberhentikan langkah nya, hati nya gusar bagaimana tidak? Tiap saat Ia selalu merindukan Shaine namun jika terbesit perkataan Shaine di masa lalu membuat Aska muak. Shaine langsung memeluk Aska dari belakang.


"Maafkan aku" Shaine mencoba melunakkan hati Aska.


"Jangan pikir aku akan memafkan mu begitu saja"


Aska melepaskan pelukkan Shaine dan berlalu dari sana. Aska menjalankan mobil nya, Ia ingin pulang. Kepala nya pusing memikirkan masa lalu, masa di mana Aska selalu gagal dalam hal percintaan.


Hal itu yang membuat nya terpuruk dan hampir tak bisa bangkit lagi. Namun Bryan adalah orang yang sudah menuntun nya dan menjadi kan Aska seperti sekarang ini. Bryan adalah sahabat yang benar-benar baik.


Flashback on


Hari ini adalah hari di mana perpisahan antara kami mahasiswa ekonomi. Hari di mana Shaine meninggalkan aku, hari di mana ia mengingkari janji-janji nya.


"Sha, coba pikir-pikir lagi kata-kata ku. Lagian kamu sudah janji kan mau nikah sama aku kalau kita sudah lulus kuliah?"


"Aska, cinta di antara kita hanya untuk mengisi waktu kosong ku saja lagian aku tidak pernah meminta kamu serius. Maka nya kamu kalau jadi laki-laki itu jangan bloon-bloon amat deh. Kamu pikir aku mau nikah sama orang kere seperti kamu"


"Sha, hubungan kita itu sudah sepuluh tahun dan kamu anggap itu main-main?


Bahkan kamu berjanji untuk memulai rumah tangga kita dari nol"


Shaine menatap ku dengan muka marah menatap ku seperti orang yang menjijikkan.


"Dengar ya Ka, hidup rumah tangga itu tidak cukup dengan cinta tapi uang dan materi. Harusnya kamu sadar kalau kamu tidak mampu memberikan semua itu"


"Aku janji akan berusaha untuk semua itu setelah kita menikah nanti, Sha"


"Aku pamit dan jangan pernah hubungi aku lagi. Lupakan semua yang pernah terjadi di antara kita, anggap saja kita tidak pernah saling mengenal. Satu lagi jangan pernah ganggu kebahagiaan ku"


"Tapi aku cinta sama Sha"


Shaine berjalan meninggalkan aku, Ia pergi dengan sejuta janji manis nya.

__ADS_1


Harusnya hari ini adalah hari bahagia kami tapi hari ini sudah menjadi hari terkelam di hidup ku.


"Aska" Bryan menghampiri diri ku, memelukku layak nya seorang sahabat.


"Shaine sudah meninggalkan aku,bBry"


"Dengar Aska, kamu harus bangkit tunjukkan pada Shaine kalau kamu bisa menjadi orang yang sukses dan layak mendapatkan cinta Shaine"


"Tapi aku sudah kehilangan dia"


"Masih banyak wanita cantik di luar sana, wanita yg siap menerima kamu apa adanya"


"Aku tidak bisa lalui hari tanpa Shaine"


"Aku siap bantu kamu" Bryan benar aku harus move on.


Bryan adalah sahabat sekaligus orang yang sudah menolong ku. Dari segi materi orang tua Bryan adalah orang berada dan terhormat, dari segi kemanusiaan keluarga Bryan tidak pernah memandang status.


 


Sedangkan aku? Aku hanyalah orang tak punya, aku lahir dari keluarga sederhana. Harta yang aku punya hanyalah ibu dan Anya saudara kembar ku.


Warisan yang di tinggalkan ayah hanyalah rumah minimalis ini. Ayah ku sudah lama meninggal karena serangan jantung.


"Aska, ini buat kamu" Bryan menyodorkan sebuah cek.


"Apa ini?" Aku kaget dengan nominal cek tersebut. Tertera seratus juta disana.


"Buat kamu buka usaha" Ucap Bryan


"Ya udah anggap saja aku investasi, bagaimana?"


"Tapi aku belum punya niat untuk membuka usaha"


"Aska, jangan terpuruk seperti ini hanya karena seorang wanita. Come on tunjukkan pada Shaine kalau kamu bisa jadi orang sukses" Aku hanya tertunduk mendengar kata-kata Bryan.


"Tumben kamu bijak" Ujar ku


"Dari dulu kali" Kami tertawa bersama. Ku akui, siapa pun wanita yang menjadi pendamping Bryan nanti dia adalah wanita yang beruntung.


Sejak hari itu Bryan membantu ku membuka usaha ku, dari usaha kecil-kecilan hingga menjadi sukses seperti sekarang ini.


Perusahaan ku berjalan di bidang marketing dengan bantuan Bryan dan sibuk karna pekerjaan perlahan aku bisa melupakan Shaine. Melupakan semua tentang kami, melupakan semua janji-janji muluk.


Melupakan cinta yg ku pertahankan selama sepuluh tahun dan mencoba mengubur semua itu dalam-dalam. Bagi ku Shaine sudah lama mati, Shaine sudah tak ada lagi di hati ku.


Namun belum ada yang bisa menggantikan nya dan aku juga tak ingin membuka hati. Karena bagi ku semua perempuan itu sama. Sama-sama matre.


Flashback off


***


Niken yang tengah sibuk menyiapkan makan siang di kagetkan dengan bantingan pintu depan. Bryan yang sibuk berkutat dengan handphone nya pun kaget melihat muka Aska merah padam. Lalu aska menghempaskan tubuhnya di samping Bryan.

__ADS_1


"Kamu kenapa lagi si, Ka?" Tanya Bryan penasaran.


"Shaine"


"Kenapa lagi Shaine?"


"Shaine ke kantor"


"Dari mana dia tahu alamat kantor kamu?"


"Itu yang buat aku bingung" Bryan hanya manggut-manggut.


"Lalu apa yang buat kamu bete seperti ini?" Tanya Bryan lagi.


"Shaine datang untuk minta maaf"


"Lalu?"


"Jangan berpikir aku mau memaafkan nya ,Bryan"


"Bukan nya selama ini kamu merindukan Shaine?"


"Jangan sok tahu kamu, Bryan"


"Bukan nya aku sok tahu, Ka. Tapi--"


"Aku malas membahas hal tidak penting" Ucap Aska memotong pembicaraan Bryan.


"Tuan, ini minumnya" Niken menghampiri kedua bersahabat itu, membawa nampang berisi segelas minuman.


"Aku tidak minta minum" Jawab Aska dengan judes nya.


"ini minuman racikan saya, bisa membuat Tuan relax"


"Aku sudah bilang kan kalau aku tidak minta minum" Nada suara Aska meninggi.


Niken menundukkan kepala nya, butiran kristal mengalir di pipi nya.


"Maksud Niken baik, Ka. Niken hanya menawarkan minum" Ucap Bryan. Bryan bangun dari duduk nya dan memeluk Niken.


"Aska lagi tidak mood, biar minumannya aku yang minum" Niken hanya mengangguk, Bryan melepaskan pelukkan nya.


"Kamu mandi gih biar kita bisa makan siang bareng " Ujar Bryan pada Niken.


Setelah Niken berlalu dari hadapan kedua bersahabat itu. Bryan mengambil minuman tersebut namun Aska mendahului nya.


"Loh katanya tidak mau" Sindir Bryan


"Minuman ini atas nama Aska bukan Bryan" Bryan hanya menggeleng kepala melihat kelakuan sahabat nya itu.


"Aska"


"Hm"

__ADS_1


"Apa kamu menyukai Niken?" Pertanyaan Bryan membuat Aska menyemburkan minuman dari mulut nya.


"Dia bukan tipe ku" tuhkan Lagi-lagi bohong.


__ADS_2