Bos Cuek Dan Pembantu Jelek

Bos Cuek Dan Pembantu Jelek
Part 25 Malam Pertama 2


__ADS_3

Setelah sarapan berdua, Aska memboyong Niken kembali ke rumahnya. Bukan lagi rumah mertua yang sangat besar ataupun rumah ibu Sofi. Tapi rumah pribadi milik Aska yang akan di huni keduanya dan akan ada kehidupan baru di dalamnya.


Laju mobil di maksimal kan mumpung jalanan tidak macet, Aska fokus menyetir namun senyuman manis tak pernah absen dari raut wajah tampannya. Bahagia, itulah jawabannya.


Niken yang melihat suaminya senyum-senyam tak jelas pun jadi bingung, takut-takutnya nanti kesambet kunti siang bolong. Eh, kok kunti sih? jangan dong.


"Kamu itu kenapa, dari tadi aku lihat senyum-senyum tidak jelas gitu?" tanya Niken penasaran.


Dengan senyuman semungrai Aska menatap wajah Niken sesaat lalu fokus lagi pada jalanan.


"Masa kamu tidak tahu apa yang ada di pikiran aku sih, sayang?" pertanyaan Aska sontak membuat Niken mendengus kesal. Bagaimana tidak kesal, emang Aska nya yang selalu buat teka teki.


"Kamu pikir aku Uya kuya," tutur Niken dengan hati dongkolnya.


"Loh kok Uya kuya di bawa-bawa sih, sayang?" tanya Aska heran, kenapa juga nama Uya di bawa-bawa? Anehkan.


"Ya iya, aku bukan Uya kuya yang bisa menerawang isi otak kamu itu," kesal Niken.


"Oh iya, aku lupa kalau yang ada di samping ku sekarang ini isteriku. Aku pikir bang Uya kuya hehehe," tutur Aska cengar cengir.


"Apaan sih, Ka. Makin nggak jelas deh," ucap Niken menahan geram.


"Ya udah deh, aku bilang sekarang. Aku sudah tidak sabar nimang buah cinta kita, sayang. Pengen ngerasain jadi ayah," jujur Aska.


Wajah Niken memanas, air matanya mengalir bak sungai kecil di pipinya, perasaannya pun luluh lantah. Bukan karena sedih mendengar penuturan Aska, tapi antara rasa terharu dan bahagia yang mendominasi. Sebegitu besarnya keinginan Aska untuk menjadi seorang ayah.


Aska yang melihat Niken menangis pun menjadi serba salah. Apa kata-katanya melukai perasaan isterinya? Aska merutuki dirinya, bagimana bisa ia membuat Niken menangis?


"Maaf, sayang. Aku tidak bermaksud...." ucapan Aska terbantah oleh gelengan kepala Niken.


"Aku menangis karena bahagia," tutur Niken memaparkan senyum manisnya, membuat Aska bernapas lega.


"Jadi, kita boleh...." ucapan Aska terpotong karna cubitan Niken melayang di lengan Aska.


"Aw, sakit sayang. Suka banget nyiksa


suami," sambung Aska.


"Fokus aja nyetirnya, jangan suka aneh-aneh," ucap Niken mengerucut bibirnya.


"Iya, sayang. Ini lagi fokus, aneh-anehnya kalau udah sampai rumah deh."


"Dasar suami mesum."


"Tapi sayang kan,"


"Nggak."


"Masa?"


"Sayang sih."


"Cinta nggak?"


"Nggak."


"Yang benar?"


"Benar."


"Benar apa?"


"Benar cinta. Ups, keceplosan," ucap Niken menutup mulutnya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Aska tersenyum lebar, melihat tingkah isterinya yang rada-rada labil. Tapi kehadiran Niken seperti candu bagi Aska.


"Tuhkan, ketahuan boongnya," ucap Aska mengacak-acak rambut Niken.


Niken tersenyum di perlakukan semanis ini tersentuh dengan sikap manis Aska, dan bahagia rasanya berada di samping Aska.


***


Mobil memasuki komplek perumahan elit, menuju sebuah rumah yang megah. Rumah yang pernah menjadi tempat Niken bekerja menjadi seorang pembantu.


Kenangan-kenangan di dalamnya membuat Niken tersenyum miris, dari kehadiran Bryan yang tiba-tiba hingga menyatakan rasa cinta namun di tolak oleh Niken.


Kecuekan dan keangkuhan Aska yang terkadang membuat Niken merinding sendiri. Namun kehadiran Niken disana mampu merubah sikap dingin Aska, kecuekan Aska, dan menciptakan sebuah kerinduan saat merasa kehilangan.


Dan yah, pembantu itu kini menjadi nyonya besar di rumah majikannya sendiri. Eh ralat, menjadi istri majikan.


"Sayang, kita udah sampai. Turun yuk," sentuhan Aska di pundak Niken membuyarkan lamunannya.


"Hah, udah sampai?" tanya Niken celingak celinguk memastikan apa yang sudah di sampaikan Aska.


"Iya sayang, ayo turun atau mau aku gendong?"


"Tidak usah, Ka. Aku bisa sendiri. Aws!" ucap Niken sedikit meringis karena nyeri itu masih saja menyerangnya saat hendak turun dari mobil.


"Masih sakit?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Aska, membuat Niken blushing.


Niken mengangguk pelan, rasanya masih canggung bila Aska menanyakan hal itu.


Aska turun lalu membuka pintu sebelah mobil dimana istrinya duduk. Tanpa persetujuan Niken ataupun abal-aba, Aska langsung menggendong Niken ala bridal style turun dari mobil menuju pintu.


"Aku bisa sendiri, Ka," protes Niken dalam gendong Aska.


"Udah, diam saja. Cerewet."


Pruiiiiit


Yey!!!


Hore!!!


Suara tiupan terompet dan suara teriakan kegirangan membuat Aska dan Niken kaget saat pintu tiba-tiba saja terbuka tanpa di buka oleh Aska.


Memunculkan sosok-sosok yang merindukan kedua insan itu. Tampak kebahagiaan di raut wajah mereka. Bagaimana mereka bisa ada di dalam rumah Aska? Jangan lupa Anya punya kunci cadangan rumah Aska.


"Selamat datang permaisuri," seru mereka serempak.


Niken yang masih ada dalam gendongan Aska, menampakkan deretan-deretan giginya. Betapa bahagianya di sambut seperti ini.


"Terima kasih," hanya itu yang mampu di ucapkan Niken.


Aska membawa Niken menuju ruang keluarga, yang lain mengekori keduanya. Aska mendudukkan Niken di salah satu sofa di ruang itu dan ia pun mendudukkan bokongnya di samping Niken tidak lupa merangkul pinggang istrinya.


"Hm, lagi di mabuk asmara nih," celutuk Brandy yang mengedipkan matanya ke arah Niken.


"Eh, bocah. Istri gue ini," kesal Aska, berani-beraninya si bocah tengil mengoda Niken.


"Tahu, bang. Jangan galak-galak juga, bang," jawab Brandy cengengesan.


"Gimana malam pertamanya? Lancar?" tanya ibu Tias penasaran membuat Niken menahan geram. Benar-benar nih, ibu Tias. Privasi orang kok di tanya-tanya.


"Lancar, ma." jawaban Aska spontan membuat Niken membulatkan matanya tak percaya. Bisa-bisannya Aska menjawab dengan santainya, tanpa mengetahui raut wajah Niken yang berubah. Antara kesal dan malu dengan sikap ceplas-ceplos suami dan ibunya. Sial.


"Ciee yang udah berhasil perawanin kak Niken, selamat ya. Kapan ada debay nih?" ucapan Vira sontak membuat Niken melongo tak percaya. Jangan lupa Niken, orang-orang yang di hadapan kamu sekarang ini usilnya kebangetan.

__ADS_1


"Secepatnya, Vir. Iya nggak sayang?" tutur Aska membuat Niken ingin cepat-cepat menghilang dari ruangan itu.


"Ah, iya." hanya itu yang bisa Niken jawab.


"Aku punya sesuatu buat kalian berdua," tutur Bryan menyodorkan sebuah amplop pada Aska.


"Apa ini?" tanya Aska.


"Buka saja," jawab Bryan.


Aska melepaskan rangkulannya dari pinggang Niken. Ia kemudian membuka amplop tersebut, yang ternyata dua buah tiket menuju Hawai.


"Hanya itu yang bisa aku berikan untuk kalian," tutur Bryan.


"Tapi ini berlebihan, mas Bryan." kini bukan Aska yang berbicara melainkan Niken.


"Aku berikan itu bukan cuma-cuma, tapi ada imbalannya."


"Maksudnya, mas Bryan?"


"Imbalannya, setelah pulang dari hawai harus bertiga bukan berdua lagi."


"Gagal paham nih sumpah," tutur Niken tidak mengerti.


"Maksud Bryan itu, ya kita buat anak sayang," Ceplos Aska mengartikan ucapan Bryan, membuat Niken melayangkan pelototan tajam pada Aska lalu berganti ke Bryan.


Bryan hanya tersenyum lebar menanggapi tatapan Niken, wanita yang hadapannya saat ini sudah menjadi istri dari sahabatnya.


Andai waktu bisa di putar kembali, maka Bryan memilih di jodohkan daripada melarikan diri. Namun kini, Bryan mencoba ikhlas merelakan Niken. Bagaimana pun Aska adalah orang yang tepat untuk Niken.


***


"Makan siang sudah siap," tutur Anya yang baru saja muncul dari arah dapur membuat penghuni ruang keluarga sontak menoleh padanya.


Anya, ibu Tiasa, ibu Sofi dan di bantu bibi Asih membuat makan siang. Bibi Asih adalah salah satu ART dari ibu Tias yang di pindahkan ke rumah Aska untuk membantu Niken.


"Hei, kok pada bengong," suara Anya menyadarkan mereka.


"Ah iya, An," ucap Bryan membuat yang lain menatapnya dengan tatapan wow.


"Kalian apaan sih, kenapa lihatin aku seperti itu?" tanya Bryan bingung.


"Hm kapan nyusul, mas," ujar Niken membuat Bryan menelan salivanya dengan susah payah.


"Belum berhasil move on kali, Ken." bukan Brandy ataupun Vira yang berbicara melainkan Anya.


Bryan menatap Anya dengan intens, ia melihat ada sebuah kekecewaan di mata Anya. Ia tau, Anya kecewa padanya.


"Makan yuk," tutur Aska mencairkan suasana.


Akhirnya mereka hanya mengangguk, Niken di tuntun Aska di ikut Brandy dan Vira menuju meja makan.


Anya melangkah mengikuti dua pasangan yang sudah mendahului, namun cepat-cepat Bryan menarik tangan Anya menahan langkah kakinya.


"Ada apa lagi, Bryan," tanya Anya.


"Kita butuh bicara, An."


"Kalau tidak penting, maka sebaiknya jangan."


"Soal kita, An."


"Baiklah."

__ADS_1


Akhirnya, keduanya pun setuju untuk bicara dari hati ke hati. Semoga semuanya baik-baik saja.


__ADS_2