
Niken baru keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri, melihat Aska sudah nyenyak meski belum sempat mandi.
Niken berjalan mendekati ranjang king size tersebut. Niken mengulum senyum saat melihat Aska memeluk guling begitu erat seperti memeluk istri saja.
"Ka, ayo bangun." Niken menoel-noel pipi Aska.
Aska masih betah dengan tidurnya. Karena tidak ada respon, Niken memilih mengeringkan rambutnya yang masih basah lalu keluar untuk membeli makan siang di restoran.
Setelah kepergian Niken, barulah Aska bangun dari tidurnya. Sebenarnya, Aska sudah bangun saat Niken menoel-noel pipinya tapi ia memilih untuk pura-pura tidur karena sesuatu di bawah sana susah di ajak kompromi.
Huft, akhirnya Aska bisa bernapas lega. Aska kemudian turun lalu menuju kamar mandi. Mungkin berendam air dingin akan membuat Aska sedikit relax. Jangan berharap Aska mau bermain solo, Aska tak mau benih-benih masa depannya terbuang begitu saja.
Sepertinya, Aska harus banyak-banyak menahan diri. Mengingat Niken punya trauma di masa lalu, maka ia harus pintar meminta haknya sebagai seorang suami dari istrinya tanpa pemaksaan yang mampu menekan emosi Niken.
"Aska," panggil Niken yang tidak mendapati suaminya di kamar saat kembali dari restoran.
Tidak kunjung mendapat jawaban, Niken mendekati kamar mandi. Tidak ada suara percikan air, Niken memilih membuka pintu.
Matanya membulat tak percaya, melihat Aska sedang berendam tapi tidak mengunci pintu.
"Ka, kamu mau buat aku jantungan ya?" ketus Niken
"Kok jantungan sih sayang? Emang, aku lakuin apa?"
"Kalau mau mandi atau ngerendam kayak gini, jangan lupa kunci pintu!" tutur Niken dengan menekan kata KUNCI PINTU.
Aska tersenyum menyeringai, terlintas sesuatu di benak Aska.
"Sayang, tolong bantuin gosok punggung aku ya? Please." suara Aska di buat-buat seperti anak kecil yang memohon-mohon pada ibunya untuk di belikan mainan.
"Baiklah, tunggu sebentar."
Niken bergegas menyimpan makan yang tadi ia beli, sedangkan Aska tersenyum penuh arti. Niken kembali untuk memenuhi permintaan Aska, setidaknya ia bisa melembutkan hatinya untuk menghadapi Aska.
Niken menggosok punggung Aska, sedangkan Aska? Ia malah menyeringai nakal.
"Sayang, kebawah dikit."
"Apaan sih, Ka. Jangan mulai deh."
"Mulai apa lagi sih, sayang. Perasaan sensian amat."
Niken mengerucut bibirnya, kenapa juga Aska memintanya gosok-gosok sampai kebawah-bawah. Sial.
"Lagi PMS ya?" tanya Aska menerka.
"Apaan sih."
"Sayang, kamu mau tahu tidak?"
"Jangan buat teka-teki, deh."
"Entar malam, setelah resepsi kita"
"Jangan pikiran yang macam-macam." Niken memotong pembicaraan Aska.
Aska hanya mendengus kesal, belum juga ia mengutarakan niatnya Niken sudah memotong kata-katanya.
"Cepatan mandi, setelah itu kita makan lalu kita istirahat."
__ADS_1
Niken bergegas keluar, namun langkahnya terhenti karena tangannya di cekal oleh Aska.
"Ada apa lagi, Ka." tanya Niken, ia memutar bola matanya malas karena Aska hanya senyum senyam tidak jelas.
"Aku meminta hak ku sebagai suami."
Deg
Wajah Niken kini memerah, jantungnya memompa dengan cepat, urat-uratnya mulai menegang dan ia susah bernafas.
"Eh, kamu kenapa sayang?" spontan Aska bangun dari tempatnya bersemedi, tanpa menghiraukan keadaannya yang dalam mode vulgar sekarang. Membuat Niken cepat-cepat berpaling dan menutup matanya meskipun tangannya sedang di genggam erat oleh Aska.
"Kamu kenapa, sayang?" tanya Aska heran.
"Kamu stop disitu, jangan berani mendekat atau aku teriak." tutur Niken membuat Aska ingin tertawa terbahak-bahak tapi ia menepis niatnya itu.
"Kita kan suami istri, sayang. Kita sudah sah, lagian kenapa harus teriak?" tanya Aska dengan nada menggoda.
"Hmm, baiklah tapi tidak sekarang. Aku tidak mau jalan terseok-seok nanti malam di acara resepsi kita karena ulahmu. Nanti apa kata orang?" celetuk Niken tanpa membuka mata.
"Aku tidak mau di phpin."
"Iya, janji." Jawab Niken dengan mengangkat dua jari.
"Oke, aku percaya. Sekarang buka matamu."
Niken menggeleng, ia tidak mau melihatnya sekarang. Namun penolakan Niken untuk membuka mata, membuat Aska langsung memeluk Niken erat dari belakang.
Seketika tubuh Niken mendadak membeku, hawa panas meliputi tubuh Niken. Bagaimana tidak, ia bisa merasakan sesuatu yang menonjol di bawah sana. Sesuatu yang hanya orang yang cukup umur yang tau, anak kecil mah lewat.
Niken ingin memberontak untuk melepaskan diri namun ia tidak punya tenaga, entahlah kekuatannya seketika meluap entah kemana.
"Ya Tuhan, mimpi apa aku bisa punya suami mesum seperti dia." ucap Niken lirih.
"Mesum-mesum gini tetap suami kamu, sayang. Lagian mesumnya cuma sama kamu."
"Bisa lepasin pelukannya nggak, aku lapar mau makan," mohon Niken dengan suara selembut mungkin. Berharap Aska bisa melepaskannya.
"Ya udah, sekarang makan gih." Aska melepaskan pelukannya, kesempatan ini tidak di sia-siakan Niken. Ia langsung bergegas keluar tanpa menoleh ke belakang.
Aska cekikikan melihat tingkah istrinya, macam anak di bawah umur saja. Aku akan membuat kamu takluk, sayang. gumam Aska pada diri sendiri.
***
Waktu menujukan pukul 18:00 wita, saat para tamu undangan sudah berdatangan memasuki aula hotel. Karena acara resepsinya di mulai pukul 19:00 wita.
Kini Aska dan Niken berjalan di atas red karpet menuju singgasana yang sudah di dekorasi begitu indah, malam ini keduanya tampil memukau. Gaun berwarna gold menempel di tubuh Niken, memperlihatkan lekukan tubuhnya. Dengan bagian punggung yang terbuka memperlihatkan kulit Niken yang putih mulus, di padu dengan high heels warna senada.
Sedangkan Aska masih setia dengan texudo putih yang menampakkan ketampanan seorang Aska dirgantara.
Banyak mata yang menatap dengan tatapan memuja, secara raja dan ratu malam ini adalah orang terhormat yang di segani. Pemilik Dirgantara company dan pewaris tunggal Darwin group.
Niken sedari tadi risih, karena tangan Aska terus menempel pada punggungnya.
Bagaimana tidak risih, Aska selalu mengekori Niken.
Terkadang tatapan Aska nyalang, jika ada yang terang-terangan menatap istrinya dengan tatapan sangat memuja.
"Sepertinya, aku salah memilih gaun ini." bisik Aska pada Niken yang tengah menyalami para tamu undangan.
__ADS_1
Niken memandangi Aska dengan tatapan seolah bertanya kenapa, karena ia sendiri bingung mengapa Aska berkata demikian.
"Aku tidak rela jika semua orang bisa melihat punggungmu itu, sayang." bisik Aska lagi.
Sekarang Niken mengerti, mengapa Aska terus mengekorinya ternyata karena alasannya seperti itu. Memang Aska selalu melarangnya menggunakan pakai terbuka, tapi toh dia juga yang milih gaun itu. Jadi salah siapa?.
"Tidak apa-apa, Ka. Lagian kamu yang sudah yang memilihkan gaun ini." ucap Niken memanas-manasi.
"Jangan mulai nakal, sayang. Aku tidak suka," Niken hanya tersenyum penuh arti, sepertinya membuat Aska cemburu itu sangat menyenangkan. Lihat saja Aska, apa yang Niken perbuat nanti.
"Hei Niken, selamat ya. Kamu cantik sekali." ucap Rino menyalami Niken, Rino adalah salah satu teman kuliah Niken waktu di AS.
Aska yang melihat tangan istrinya di pegang-pegang memberi kode agar Niken melepaskan tangan pria tersebut, namun Niken seolah-olah malas karena ia memang niatnya membuat Aska cemburu.
"Lepasin tangan istri gue, bro." ucap Aska menghempaskan tangan pria tersebut, membuat Niken tersenyum penuh kemenangan.
"Cemburuan amat suami lo, Ken." ucap Rino membuat Aska naik pitam.
"Mending lo pergi kesana aja, Rino. Aku takut Aska mukulin kamu," bisik Niken di telinga Rino yang membuat Aska semakin memanas.
"Sial, apa yang kalian lakukan," tutur Aska menahan geram karena Niken mengabaikannya dan Rino melongos pergi begitu saja.
Oke, katakan saja Aska sudah salah memilih gaun tapi ia juga tidak mau Niken mengabaikannya seperti ini.
Niken memutar matanya malas, karna sekarang Aska semakin posesif. Tangannnya beralih merangkul pinggang Niken lebih erat.
Resepsinya berjalan sesuai rencana, mulai dari acara makan-makan, pemotongan kue pengantin, dan salam-salaman.
Aula hotel terlihat penuh sesak, secara para tamu undangan datang dari berbagai kalangan. Tidak lupa juga teman-teman kuliah Aska dan Niken di undang serta.
Jangan bertanya mengapa Niken tidak punya sahabat, karna Niken selalu tertutup dengan siapa saja kecuali Satria.
***
Aula hotel yang tadinya ramai, kini sudah mulai sepi. Para tamu sudah pulang terkecuali keluarga kedua belah pihak yang masih bercengkrama.
"Loh, kalian berdua kok masih disini?" tanya ibu Tias pada Niken dan Aska yang sedang berkumpul bersama Bryan, Anya dan kedua bocah tengil. Siapa lagi kalau bukan Brandy dan Vira.
"Emang kenapa sih, Mom. Lagian ini malam kan acaranya kita, kenapa mom bertanya seperti itu?" tanya Niken tak suka.
"Justru karena ini acaranya kamu dan Aska, makanya sana masuk kamar. Buatin mama cucu," tutur Tias sekenanya.
"Mom," raut wajah Niken terlihat menegang, teringat kembali janjinya pada Aska siang tadi.
Yang lain hanya cekikikan karna ucapan ibu Tias, sedangkan Aska tersenyum penuh kemenangan.
"Kamu lihat, sayang? Mama Tias sudah nyuruh kita untuk--"
"Aw sakit sayang," ucapan Aska terhenti karena seketika Niken sudah menyikut perut Aska.
"Bisa diam nggak!" pelototan Niken membuat Aska cengengesan.
"Udalah kak, jangan malu-malu sama kita. Lagian kita udah sama-sama dewasa. Benar nggak, sayang," tutur Brandy di ikutin anggukan dari Vira.
"Ayo, sayang," ucap Aska menarik tangan Niken.
Niken mendengus kesal tapi lebih baik ia mengikuti Aska daripada di ledekin si bocah tengil.
"Buatin kita ponakan yang lucu-lucu ya kak," teriak Vira pada kedua pengantin baru itu.
__ADS_1
Aska hanya mengacungkan ibu jari ke atas sebagai jawaban iya, tapi jawaban Niken terbalik. Hanya pelototan yang ia layangkan pada Vira.