
"Ciluk ba..."
Aska mengajak main ketiga anaknya yang berusia enam bulan itu dalam super box bayi tersebut.
"Hallo ganteng dan cantiknya tante Anya, liat tante bawain apa?" Tiba-tiba Anya muncul membawa sebuah paperback.
"Sendiri?" tanya Aska saat melihat kehadiran saudara kembarnya itu.
"Sama mas Bryan. Lagi di bawah ngobrol sama Niken."
"Seharusnya kamu jangan biarkan dia mendekati istriku, An."
"Tidak apa-apa, Ka. Lagian niat kita kesini mau ngasih ini sekaligus lihat keadaan si kembar," ucap Anya menyodorkan sebuah undangan.
"Undangan Nikah? Jadi..."
"Iya, aku tidak bisa melibatkan kamu dalam urusan kami. Karena aku tahu, kamu sangat sibuk dengan keluarga kecilmu."
"Tapi setidaknya kalian bisa memberitahu lebih awal, Anya."
"Maaf, Ka. Oh iya, btw aku bawain baju-baju lucu buat si kembar," tutur Anya menunjukan paperbag yang ia tenteng sejak tadi.
"Terima kasih. Gimana keadaan mama?"
"Mama sehat. Kapan-kapan mainlah ke rumah, mama sangat merindukan kalian."
"Akan aku usahakan."
"Kalau mau ketemu mas Bryan, biar si kembar aku yang jagain."
"Ya sudah, aku ke bawah dulu." Anya mengangguk mengiyakan.
***
"Hei, Ka," sapa Bryan pada Aska yang menuruni tangga.
"Gimana kabarnya? Tumben main kesini?" tanya Aska saat menghempaskan tubuhnya di samping Niken.
__ADS_1
"Baik, kebetulan nggak lagi sibuk jadi nyempetin kesini."
"Jadi gimana rencana pernikahan kalian?"
"Lancar."
"Ah, baiklah."
"Dimana si kembar?"
"Di kamar sama tantenya."
"Boleh aku kesana?
"Sejak kapan kamu seperti seorang tamu?"
"Hehe... agak canggung juga sih."
"Canggung bagaimana lagi, Bry."
"Ya canggung karena yang ada di hadapanku sekarang sahabat sekaligus ipar."
"Bercanda, Ka. Aku ke atas lihat si kembar dulu." Bryan melangkah meninggalkan Aska dan Niken yang masih betah berduaan.
"Mas Bryan kenapa sih?"
"Nggak tau, sayang."
"Kelihatan canggung gitu, tidak biasanya mas Bryan seperti itu."
"Maklumin aja, namanya juga calon pengantin baru."
"Hm, iya juga sih."
"Kayak kamu waktu itu."
"Itu dulu."
__ADS_1
"Tetap aja."
"No."
"Ah, malas berdebat." Niken melangkah meninggalkan Aska, namun Aska meraih tangan Niken.
"Mau kemana, sayang?"
"Mau lihat si kembar."
"Ya sudah, aku juga ikut."
Lalu mereka berdua menuju kamar si kembar. Sesampainya mereka, ternyata mereka melihat si kembar sedang bermain dengan Bryan dan juga Anya. Mereka tampak cocok sekali, seperti keluarga harmonis.
Niken dan Aska menghampiri mereka. "Halo anak papa, lagi main apa sih," tanya Aska pada si kembar. Yang dibalas tawa khas bayi.
"Acu agi main cama ante an om," jawab bryan dengan suara seperti anak kecil.
"Haha... Bryan lo cocok juga ya jadi seorang ayah. Jadi jangan kelamaan dong nikahnya," goda Aska. Anya yang sedari tadi diam, tersipu malu. Sedangkan yang digoda menatap tajam ke arah Aska.
"Diam deh Ka. Iya gue tahu kalau lo udah nikah apalagi udah punya anak."
"Nah itu lo tahu, jadi kapan nih nyusul kaya kita udah punya anak apalagi tiga sekaligus."
Anya wajahnya semakin memerah dan Bryan menatap Aska geram. Jika saat ini tidak ada si kembar, Niken dan Anya. Mungkin wajah Aska sudah babak belur.
"Ka, lo belum pernah ngerasain muka lo itu babak belur!" Aska hanya tertawa tak menanggapi ancaman Bryan.
"Haha bercanda yan, baper amat sih lo."
Dan akhirnya mereka tertawa bersama. Kadang Bryan juga menjaili si kembar dan berakhir terkena bogeman oleh ayah mereka.
End
***
Yeyyy akhirnya tamat juga, gimana nih ceritanya? Semoga kalian suka yah. Oh iya untuk cerita kelanjutannya tunda dulu yaa. Dan untuk kalian yang menunggu cerita Asyifa up, maaf yaa author bingung mau dilanjut kaya gimana. takutnya kalian nggak suka atau gimana gitu. tapi author usahain deh.
__ADS_1
Oh iya jangan lupa baca cerita author yang lain yaa.. oke sampai jumpa di next cerita. Byeee!!!!