
Niken pov
Sudah dua hari ini, mas Bryan pamit pulang ke rumah orang tuanya. Rumah sebesar ini terlalu sepi bila pemiliknya masuk kerja. Mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Sedangkan aku, masih betah berlama-lama di rumah ini.
Pagi ini seperti biasa nya, aku menyiapkan sarapan. Meskipun si tuan cuek sudah mengatakan untuk beli di luar saja. Tapi setelah di pikir-pikir, daripada stok makan dalam kulkas mubazir lebih baik aku masak.
Sekarang sudah pukul 09:00 wita, namun tuan Aska belum turun juga dari kamarnya. Apa dia lupa bangun? Biasanya dia selalu tepat waktu. Ku langkahkan kaki menuju kamarnya, untuk memastikan apakah dia masih tidur atau sudah pergi sejak subuh?
Ku ketuk pintu, namun tidak ada jawaban. Ku beranikan diri membuka pintu. Aku melangkah masuk dan mendekati ranjang big size itu. Benar dia masih tertidur.
"Tuan, ini sudah siang. Ayo bangun," ku tarik selimut yang ia gunakan namun cepat-cepat ku palingkan wajah. Bagaimana tidak, orang ini hobbynya pakai boxer doang kalau lagi tidur.
"Hei cantik, kenapa lihat ke arah sana aku disini"
"Tolong kenakan pakaian mu," namun ia tidak menghiraukan ku. Aku merasakan ia berjalan mendekat dan tangannya memeluk pinggangku.
"Kenapa tutup mata begitu? Apa kamu memberi ku isyarat untuk mencium bibir mungilmu itu?"
Aku hanya menggeleng, bagaimana bisa aku membuka mata sedangkan dia berpenampilan seperti itu.
Ia melepaskan pelukannya, tapi tiba-tiba tubuhku melayang.
"Hei apa yang kamu lakukan?"
"Mau jadikan kamu sarapan ku pagi ini,"
Aku ingin melepaskan diri tapi apalah daya, tubuhku dalam gendongan nya. kalaupun iya aku memberontak, yang pasti tubuhku yang jadi sasaran empuk.
Ku buka mata setelah aku merasakan ia berjalan menuruni tangga dan menuju meja makan. Ia mendudukkan ku di salah satu kursi. Tunggu, sejak kapan dia memakai celana? Bukannya tadi dia.
"Apa kamu ingin membuat ku mati berdiri?" ku lontarkan pertanyaan itu.
"Tidak, hanya mengetes mentalmu saja, Nona Niken" ucapnya dengan tertawa kecil.
"Itu tidak lucu tuan Aska Dirgantara"
"Memang tidak lucu, hanya raut wajahmu sangat lucu bila di tekuk begitu" Fix, sepertinya dia ingin membuat ku mati berdiri. Kalau setiap hari seperti ini, aku bisa-bisa terkena serangan jantung. Tapi melihatnya tertawa seperti itu, membawa kebahagiaan tersendiri bagi ku.
"Kenapa melamun begitu," suaranya membuyarkan lamunanku.
"Siapa yang melamun," elak ku.
"Kalau tidak melamun, lalu kenapa makanannya masih kamu tonton begitu,"
"Gerogi" Eh kok gerogi sih? Cepat-cepat ku tutup mulutku dengan kedua tangan.
Dia malah tertawa lebar, apa ada yang lucu?
"Kenapa ketawa?"
"Hanya membayangkan raut wajahmu di malam pertama"
"Jangan mesum"
"Aku tidak mesum, hanya membayangkan saja" katanya sambil tertawa.
"Sial" Dia malah tertawa terpingkal-pingkal, ini kedua kalinya aku melihatnya tertawa bebas seperti ini.
"Kamu itu lucu sekali" katanya sambil menyeka sudut matanya. See, dia tertawa sampai air matanya keluar begitu.
"Lucu bagaimana?"
"Wajahmu merah merona begitu," ku coba memastikan kata-katanya, aku berjalan menuju toilet.
"Hei, mau kemana?" serunya
"Aku mual"
"Hah, kok mual? apa kamu hamil?" teriaknya.
__ADS_1
"Jangan ngaco" Ya ampun, tidak selamanya orang mual itu hamil. Kalau yang mualnya itu laki-laki, masa iya hamil juga?
Ku pastikan diriku di depan cermin, apa benar wajahku merah merona? Dan ya, wajahku bak kepiting rebus. Fix, pagi ini aku di jadikan objek lelucon si tuan cuek itu.
"Niken, kamu tidak apa-apakan?" suaranya di luar toilet.
"Aku baik-baik saja"
"Lalu, kenapa lama sekali?"
"Urusan perempuan"
"Lagi dapat?"
"Bukan"
"Lalu?"
"Bukan urusan mu"
You see, mulut nyerocos seperti ibu hamil.
Ku basuh wajahku untuk menghilangkan rasa gugup. Resiko orang berkulit putih, gugup dikit wajah kemerahan, salting dikit wajah kemerahan dan blablabla. Saking terkejutnya aku, saat ku buka pintu.
Andai aku punya riwayat jantung, mungkin saat ini aku sudah masuk UGD. Sosok yang satu ini, berdiri tepat di ambang pintu bahkan hanya sejengkal jarak nya. Dengan gayanya yang sok macho, kedua tangannya di masukkan ke dalam saku celana. Emang macho sih, tapi nyebelin.
"Eh, kamu ngapain berdiri disitu. Bikin aku jantungan saja", tanya ku salting
"Untuk memastikan kamu baik-baik saja," jawabnya tanpa rasa berdosa.
"Sekarang aku tidak baik-baik saja,"
"Memangnya kenapa?"
"Karena ulahmu itu" Dia malah tersenyum, ngapain dia tersenyum? Tiba-tiba tangannya terulur meraba-raba perutku.
"Eh, kamu ngapain lagi? Meraba perut ku seperti itu?"
"What? kamu pikir"
Sebelum aku lontarkan unek-unekku, dia malah berbalik dan meninggalkan ku sendiri. Tingkahnya itu membuat ku darting. Oke, sepertinya aku harus memberinya lima pancasila. Kalian taukan apa artinya?
Ku hampiri dirinya di meja makan, ingin ku tanyakan apa maksud dari kata-katanya barusan. Tapi sebelum pertanyaan itu keluar dari mulutku, dia sudah terlebih dahulu nyerocos.
"Duduk, kita sarapan dulu. Sedari tadi kamu yang bangunin aku untuk sarapan. Tapi sekarang kamu malah keluyuran," Eh kok keluyuran? sejak kapan aku keluyuran? Perasaan aku belum ke mana-mana.
"Jangan bengong, tidak baik nontonin makanan seperti itu"
"Mulutmu itu seperti cewek yang lagi PMS, cerewet."
"Mana ada cowok bisa PMS, nona Niken. Yang ada cowok itu sukanya mimpi basah", katanya dengan nada mengejek.
Oh gosh, mulutnya mulai ngelantur. Sebaiknya, aku diam. Ku nikmati sarapan ku, tanpa sedikitpun kata yang ku keluarkan.
Aku abaikan sosok menyebalkan yang ada di hadapanku ini. Aku alihkan pandangan jika tatapan kami bertemu. Ku buat keadaan yang seolah-oleh kami baru sekali ini bertemu. Biar dia bisa tau, gimana rasanya di acuhkan.
"Jangan abaikan aku seperti ini" dia membuka pembicaraan. Good, dia mulai merasakan. Aku diamkan saja, biar tau rasa. Siapa suruh menyebalkan?
"Jika kamu diamkan aku seperti ini, Mulutmu itu akan aku sumbat. Biar sekalian kamu tidak usah bicara"
"Memang bisa?" tanyaku malas
"Bisa, Pake mulutku"
Uhuk
Uhuk
Kata-katanya membuatku keselak. Air mana air, segera ku teguk habis air dalam gelas. Apa dia seorang psikopat? Sepertinya, kata-kata ku sudah mengajaknya berperang mulut.
__ADS_1
"Makanya, makan itu pelan-pelan jangan buru-buru. Keselek kan jadinya" Apa dia buta? Hingga tidak bisa melihat, kalau aku keselek bukan karena buru-buru habisin makanan tapi kata-katanya itu.
"Jangan sok tau kamu"
"Bukan sok tau"
"Kata orang tua dulu, kalau lagi makan sementara jangan banyak bicara. Pamali"
"Sok bijak. Bilang saja, lagi ngambek" Orang ini, benar-benar. Aku sepatah kata, dia malah dua kata. Sejak kapan jadi cerewet begini? Kesambet kali.
"Kenapa diam?" Sepertinya, dia mengajakku perang dunia.
"Kenapa tidak ke kantor?" ku alihkan pembicaraan. Ku lihat dia mendengus kesal. Mungkin karena aku tidak merespon kata-katanya itu.
"Quality time, seperti kata Bryan"
"Memangnya harus pake quality time gitu?"
"Ya, karena kamu besok mau balik ke rumah kamu"
"Lalu urusan kantor, kamu sepelekan?"
"Sekretarisku sudah mengurus semuanya"
"Lalu"
"Jangan banyak tanya, sejak kapan kamu ganti profesi menjadi wartawan?"
Kalau aku diam, salah. Sekarang aku bertanya, salah juga. Apa sih maunya? Ya Tuhan, beri aku kesabaran extra untuk menghadapi ciptaanMu yang satu ini. Benar-benar menguras tenaga dan emosi ku.
***
Setelah sarapan, aku bergegas membersihkan meja makan dan mencuci peralatan dapur yang kotor. Tiba-tiba sebuah tangan kekar memeluk pinggang ku.
"Biarkan seperti ini," bisiknya menempelkan dagunya di bahuku. Nafasnya menggebu, membuat bulu kuduk ku berdiri.
"Tapi"
"Aku mohon," serunya membuat ku menggantungkan kata.
Lihatlah, sikapnya berubah jauh berbeda. Tadinya nyebelin, sekarang melow. Apa dia punya kepribadian ganda? Entahlah, tapi aku merasa nyaman seperti ini. Aku biarkan sesaat, sampai pada akhirnya kaki ku pegal karena terus berdiri.
"Aku ingin duduk, kaki ku pegal. Sebaiknya kita duduk," bujuk ku seperti memohon pada anak kecil yang sedang ngambek.
"Hmm"
Dia melepaskan pelukkan nya, berjalan mendahului ke rumah tengah. Aku segera menyelesaikan pekerjaan ku, setelah itu baru ku susul dia ke ruang tengah.
Ia menepuk sebelahnya, mengisyaratkan agar aku duduk di sebelahnya. Aku mendaratkan bokongku di sampingnya.
"Apa besok kamu benaran balik?" tanyanya dengan nada sendu.
"Iya, lagian aku sudah berjanji sama nyokap"
"Apa tidak bisa di tunda dulu?"
"Ya tidak bisa, tidak baik juga aku berlama-lama disini. Apa kata orang, kita kan belum muhrim",
"Tapi, selama ini kita tidak pernah berbuat maksiat. Lagian, kalau ada warga yang mergokin kita ya bagus dong"
"Loh kok bagus? Apanya yang bagus?"
"Ya, bagusnya kita cepat-cepat di nikahin"
Ya ampun, itu benar-benar ide buruk. dapat dari mana ide seperti itu?
Dasar cowok, pikirannya ngeres.
"Oh iya, Ken. Kamu pernah bilang, kalau kamu menyukai seseorang. Siapa orang itu?" kalau aku bilang orang itu, dia sendiri. Dia bakal kepedean. Nanti saja, kalau waktunya sudah tiba.
__ADS_1
"Hei, kenapa melamun?" suaranya membuyarkan lamunan ku. Entah mengapa akhir-akhir ini aku suka melamun.
"Aku hanya memikirkan, bagaimana nasibmu setelah aku pergi" See, raut wajahnya berubah kesal.